Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Raka&Rani


__ADS_3

Rani masih mencari cara untuk mengakhiri hidupnya. Meskipun Raka selalu berupaya untuk meghentikannya. "Apa artinya hidup jika hidup tak berpihak padaku. Untuk apa aku hidup jika orang-orang yang ku sayang pergi meninggalkanku. Lebih baik aku menyusul Bunda, aku tak punya alasan untuk tetap hidup di dunia yang kejam ini!"


"Andai hidup bisa ditukar. Maukah kamu menukarnya dengan hidupku? Aku masih ingin hidup di dunia yang indah ini. Tapi aku tidak bisa. Tuhan menuliskan takdirku bahwa aku tak punya waktu untuk bertahan lama di dunia ini." Raka juga berkata meski Rani berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya itu tak berarti ia bisa menyusul Bundanya. Tuhan takkan memberikan tempat yang terbaik bagi orang-orang yang tak menghargai hidupnya.


Rani terdiam mendengar ucapan Raka. Apa maksudnya ia tidak punya waktu lama untuk bertahan hidup?


"Jika kamu muak dengan masalahmu, berteriaklah. Jika kamu tak sanggup menahan bebanmu maka lepaskanlah dan menangislah. Itu akan membuatmu lebih baik daripada harus mengakhiri hidupmu." Raka kembali menasehati Rani.


Kemudian Rani tiba-tiba menangis. Ia menangis dengan sekencang-kencangnya. Ia melepaskan setiap beban yang menumpuk di pundaknya. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah tapi dengan menangis, beban yang terasa akan sedikit berkurang.


Rani menangis di pelukan Raka, "Menangislah. Menangislah sesukamu. Luapkan semuanya jangan dipendam. Hidup itu indah, aku akan tunjukkan padamu. Betapa indahnya hidup ini hingga kau tak ingin meninggalkannya."


Setelah itu senyum mulai tampak di wajah Rani. Raka mengajarkannya arti kebahagiaan dan menemukan makna hidup yang indah. Ia mulai kembali menghargai hidupnya dan mulai kembali menjadi Rani yang percaya diri.


"Raka, kenapa kamu mendirikan Rumah Baca ini?" Rani bertanya alasan Raka mendirikan Rumah Baca Kita.


Raka menjawab mewujudkan impian setiap orang adalah tujuannya. Setiap orang punya impian tapi tak setiap orang beruntung mewujudkan impiannya. Ia ingin memberikan arti kehidupan yang indah bagi setiap orang. Dimulai dari rumah yang memberikan perlindungan bagi setiap orang maka dari situlah bermula harapan dan kebahagiaan. Raka juga menjelaskan dengan membaca dan menulis bisa menjadikan setiap orang berharga. Membaca akan menjadikanmu tinggi, dengan membaca tak perlu membuatmu lelah berkeliling dunia untuk tahu. Menulis bisa menjadikanmu kuat, dengan menulis kamu akan mengingat dan membuat kenangan menjadi indah. Dimulai dari membaca dan menulis kamu bisa mewujudkan setiap impianmu.


Kebaikan dan kemuliaan hati Raka yang dalam membuat Rani jatuh cinta padanya. Raka benar-benar malaikat tak bersayap setiap orang. Ia selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh dalam menghadapi hidup yang berat. Bahkan dalam menanggung kekurangannya.


Mereka bahagia satu sama lain. Rani juga tertarik dengan impian dan tujuan hidup yang Raka miliki setelah ia melihat ketulusan Raka membesarkan Rumah Baca Kita. Ia ikut serta membantu dan menjalankan kegiatan yang dilakukan di Rumah Baca Kita. Raka pun ikut senang melihat perubahan Rani sejak terakhir kali ia lihat. Rani terlihat lebih bersemangat dan berwarna. Senyum Rani tak kalah dari senyum mentari di pagi hari.


"Raka, bagaimana kalau kita ke pantai?" Rani mengajak Raka untuk berjalan-jalan. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Raka.


Tapi Raka merasa keberatan, "Apa kamu tidak malu berjalan bersamaku?" Raka sadar dirinya tak sempurna. Kaki kanannya hanyalah kaki palsu. Bagaimana bisa ia berjalan berdampingan dengan perempuan sempurna seperti Rani. Ia tidak ingin Rani menjadi perhatian orang-orang dan mengolok Rani karena berjalan bersama laki-laki cacat sepertinya.


"Kenapa aku harus malu? Aku bahkan sangat beruntung bisa bertemu dan bersama dengan orang sepertimu. Ayo kita pergi." Rani tetap memaksa.

__ADS_1


"Kamu akan menjadi buah bibir jika berjalan bersamaku." Raka melihat kakinya.


Rani akhirnya sadar kenapa Raka tak mau pergi dengannya. Ia menyentuh kaki palsu Raka dan berkata "Kamu tidak percaya diri berjalan denganku karena ini? Kenapa kamu pikirkan perkataan orang sementara kamu mengajarkanku untuk tidak mendengarkan orang-orang yang akan menjatuhkanku. Kamu yang bilang hidup ini indah asal kamu percaya diri. Atau kamu yang memang tidak mau berjalan bersama perempuan yang hancur ini?"


Raka tak tega melihat Rani kecewa dan menekuk wajahnya. Raka mengangkat wajah Rani dan menatapnya, "Baiklah... Kita akan pergi. Jangan tekuk wajahmu, aku tidak bisa melihat senyummu." Rani pun mengangkat wajahnya dan memberikan senyum yang lebar. Mereka tersenyum bersama.


Mereka pergi ke pantai. Rani sangat senang bahkan ia membuatkan bekal untuk dimakan bersama. Mereka terlihat serasi bersama. Rani sengaja membawa kamera karena ia juga ingin mengabadikan moment ini bersama. Ia mengumpulkan batu-batu pantai dan berlari-lari seperti anak kecil mengejar ombak.


Kamera yang Rani bawa dipegang oleh Raka. Saat Rani menikmati kesenangannya bermain ombak, Raka memotretnya. Raka mendapatkan foto Rani tengah tersenyum lebar memunguti batu-batu kecil. Saat memotret dan melihat hasilnya Raka tersenyum puas.


Rani menangkap basah dirinya. Rani langsung berlari mendekati Raka dan merebut kamera itu dari Raka. "Kamu curang ya. Ambil foto aku diam-diam." Rani berusaha merebut kamera dari tangan Raka tapi ia tak berhasil mendapatkannya. Ia malah tak sengaja mendorong tubuh Raka sehingga membuat mereka terjatuh. Raka terjatuh dengan tubuh Rani berada diatasnya. Tatapan mereka saling tertuju. Jantung mereka mempercepat detaknya. Posisi mereka sangat dekat sehingga timbul kecanggungan.


Rani akhirnya berhasil merebut kamera dari tangan Raka dan memecahkan kecanggungan. Mereka langsung bangkit dan terdiam untuk mengatur nafas dan degupan jantung hingga beberapa saat.


"Sekarang kita foto bersama saja," ucap Rani. Raka menyetujui dan mereka mengambil foto bersama. Sampai matahari terbenam mereka menghabiskan waktu di pantai. Menyimpan banyak kenangan bersama.


Cintaku dan kebahagiaanku. Alasanku untuk bertahan hidup. Raka mencintai Rani.


Ternyata ibunya melihat dan memergoki Raka menulis kalimat itu. Ia senang anaknya menemukan cinta dan kebahagiaannya. Lalu ibunya bertanya, apakah Raka akan memberitahu Rani perasaannya?


Namun Raka menolak dan berkata, "Cinta itu milik dua hati. Bagaimana aku bisa mencintainya jika aku tak punya waktu untuk itu. Aku tak ingin mencintainya jika suatu saat aku tiba-tiba meninggalkannya. Itu akan membuatnya terluka. Aku tidak bisa membuatnya sedih dengan mencintainya." Raka mengelak jika dia mencintai Rani. Waktunya untuk hidup takkan bertahan lama. Tuhan memberikannya waktu sedikit untuk berbuat baik dan mencintai tidak termasuk didalamnya.


Ibunya sedih mendengar perkataan Raka. Ia merasa bersalah. Tapi Raka berusaha menenangkan ibunya, "Kenapa Ibu sedih? Raka tak bisa mencintai Rani di kehidupan ini, Bu. Tapi di kehidupan berikutnya Raka akan mengatakannya dengan lugas bahwa Raka sangat mencintainya. Ibu tak perlu sedih dan di hari kemudian Raka akan kembali minta pada Tuhan untuk dilahirkan dari rahim ibu dan mencintai Rani." Raka berusaha tersenyum dan memeluk ibunya.


"Ayo kita temukan pendonor untukmu dan lakukan operasi," ucap Sang ibu meminta Raka. Tapi Raka menolak, melakukan operasi hanya akan memberikan harapan pada orang lain. Ia tak ingin menghancurkan harapan itu jika seandainya operasi tak berjalan lancar karena peluang operasi berhasil hanya sedikit. Ia hanya akan terus menikmati jantungnya berdetak sampai memang waktunya tiba untuk ia harus pergi.


Sementara Rani mengukir nama mereka di bangku yang ada di depan Rumah Baca. Raka&Rani. Lalu ia tersenyum mengekspresikan perasaannya. Ia bertanya-tanya mengenai perasaan Raka padanya. Apakah Raka juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

__ADS_1


Hari ini tepat tanggal 30 Maret. Pertunjukkan pertama yang akan dilakukan di Rumah Baca. Sebelum pertunjukkan berlangsung, Rani mengajak Raka ke suatu tempat. Ia tak sabar untuk segera memperlihatkannya pada Raka sekaligus ia akan mengatakan perasaannya pada Raka. Tak masalah baginya mengatakan perasaannya terlebih dulu karena itulah yang hatinya rasakan. Tak perlu lagi ditunda-tunda.


"Kita mau kemana Rani? Pertunjukkan sebentar lagi, jangan buat orang-orang menunggu." Rani menarik Raka dengan kuat agar mengikutinya.


"Ada yang lebih penting dan ini tak bisa lagi ditunggu. Ini takkan memakan waktu yang lama. Ada yang harus aku perlihatkan." Mereka sampai di depan Rumah Baca.


Rani meminta Raka duduk dan Raka melihat ukiran yang dibuat Rani. Lalu Rani tersenyum setelah Raka melihat ukiran itu, "Kamu menyukainya?" tanya Rani dan duduk mendekat.


Raka kemudian mengangguk. "Raka, aku mencintaimu. Aku mencintai kamu dengan setiap hal yang kamu miliki," Rani menyentuh dan menggenggam tangan Raka. Ia menjelaskan perasaannya yang mencintai Raka dengan apa adanya.


Raka menatap Rani dengan sendu. Ia tahu hari ini pasti terjadi. Raka menarik pelan tangannya dari Rani. Raka berkata dengan bibirnya yang gemetar, "Aku tidak mencintaimu ... Aku tidak mencintaimu Rani .... Aku tidak mencintaimu." Raka menahan air matanya jatuh. Wajahnya sudah memerah karena berbohong. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan Rani. Ia hanya tak ingin kelihatan goyah dihadapan Rani. Andai ia memiliki waktu yang lama untuk hidup maka tanpa perlu ditanya. Ia akan mengatakannya langsung pada Rani betapa ia sangat mencintai Rani. Tapi hal itu tak bisa ia katakan.


Rani tersentak dan terdiam. Ini diluar dugaannya. Raka tak mencintainya, itu tidak mungkin. Dunianya seakan runtuh saat itu juga. Air matanya jatuh saat melihat Raka beranjak meninggalkannya.


Pertunjukkan tak bisa dilakukan. Semua orang bergegas menuju rumah sakit. Hal yang mengejutkan telah terjadi. Malaikat tak bersayap mereka sedang menghadapi masa kritis. Raka sedang sekarat dan berjuang bertahan hidup di ruang IGD. Tapi Rani belum mengetahuinya.


Dokter memberitahu ibunya bahwa Raka tak bisa diselamatkan. Lukanya parah dan hampir semua organnya rusak. Di sisa waktu terakhirnya, Raka hanya ingin menemui Rani.


"Ibu, maafkan aku dan terimakasih sudah mau merawatku. Ibu, katakan pada Rani. Aku minta maaf sudah membuatnya bersedih. Katakan padanya tetap jalani hidupnya dan wujudkan impiannya. Waktuku sudah berakhir, Bu." Namun saat itu pula Rani akhirnya datang dalam keadan lusuh ia mendekat. Rani tak percaya yang terbaring dihadapannya adalah Raka. "Katakan padaku langsung!"


"Rani.. Aku minta maaf. Waktuku tak banyak. Aku minta maaf." Raka memohon maaf karena ia harus meninggalkan Rani. "Apa yang sedang kamu katakan? Kamu pasti bisa bertahan seperti yang selalu kamu lakukan selama ini. Kamu selalu ingin bertahan hidup." Rani menggenggam erat tangan Raka yang lemah.


"Aku tidak bisa lagi bertahan. Kamu jangan pernah menyerah, tetap jalani hidupmu yang indah. Kamu pasti akan menemukannya. Seseorang yang menginginkanmu dengan segenap hati. Meski nantinya dia begitu sulit dijumpai. Jika ada seseorang seperti itu di suatu tempat. Terimalah. Hanya dialah yang terindah. Genggamlah tangannya dengan erat. Kekasih sepertinya mungkin tak akan ada lagi esok hari." Bibir Raka bergetar saat mengucapkannya.


"Aku hanya inginkan kamu. Kamulah yang seperti itu, takkan ada lagi yang bisa kutemukan orang sepertimu." Rani meneteskan air matanya saat mengucapkan kalimat itu.


Raka tersenyum dan menyentuh pipi Rani dengan tangannya. Setelah ia menghapus air mata Rani, tangannya jatuh terkulai tak berdaya dan monitor di sebelah ranjangnya berbunyi pada satu nada panjang dan menunjukan satu garis lurus.

__ADS_1


__ADS_2