
Raka selalu tersenyum dalam tidurnya sejak kejadian itu datang padanya. Memimpikannya membuatnya terlihat bahagia.
Pagi ini masih menunjukkan pukul 03.30. Entah apa yang diimpikan Raka, tampak raut wajahnya dikala tidur sangat berbinar-binar.
(dalam mimpi Raka)
Ia sedang berdua bersama Rani. Duduk di bawah bangku yang dilindungi pohon Pinus nan rindang. Rani kelihatan sangat cantik dengan balutan dress selutut berwarna putih. Raka menyibak anak rambut Rani ke balik telinganya. Rani tersenyum malu-malu dibuat olehnya. Begitu juga Raka ia tersenyum sumringah mengekspresikan suasana hatinya. (Inilah penyebabnya Raka tersenyum pada tidurnya)
Tak berhenti di situ, Mereka sedang asyik bermain piano dan memainkan harmoni yang disukai Rani. Memainkan satu per satu not. Raka menyentuh perlahan tangan Rani. Kehangatan langsung menyelimuti. Ia masih memandang Rani. Saat ini tangan Raka di atas telapak tangan Rani, mereka bersama menekan not. Memainkan melodi yang mereka sukai.
Semilir angin berhembus, menerbangkan dedaunan kering di tanah. Rani mendekap kedua tangannya di dada. Ia kedinginan. Langsung Raka melepas jaket yang ia pakai dan menggantungnya di bahu Rani. Rani tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Raka sangat perhatian.
Lalu Raka mulai mendekat dan Rani menutup matanya. Raka menyibak poni halus yang menutupi dahi Rani.
Lalu ia mendaratkan kecupan lembut dan membisikkan kalimat manis "aku mencintaimu"
__ADS_1
Rani tersipu malu. Ia hendak melarikan diri namun langsung dicegat oleh Raka. Raka menarik tangan Rani dan menghentikan langkahnya "jangan pergi, aku takkan sanggup tanpamu," Rani hanya tersenyum.
"Impianku adalah memberikan seluruh cintaku hanya untukmu,, namun kini mimpi itu sudah menjadi nyata." Raka memeluk Rani dari belakang.
Jantung Rani tak berhentinya berdebar-debar hingga Raka dapat merasakannya. Lalu Rani membalikkan badannya. Mereka masih dalam keadaan berpelukan. Jarak mereka cukup dekat. Hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Rani kembali menutup matanya. Raka tahu maksud nya. Langsung saja ia hendak mendekatkan bibirnya pada bibir Rani. Namun apa yang terjadi?
Alarm berbunyi membuyarkan mimpi tersebut. Padahal belum selesai Raka melakukan aksinya. (greget pasti 😬)
Raka terbangun mengusap wajahnya. Pusing menyelimuti kepalanya. Bagaimana tidak, ia dipaksa bangun untuk menghadapi kenyataan.
Dengan berat ia mematikan alarm yang berbunyi. Di sebelah alarm tersebut tampak sebuah buku tebal tergeletak dengan judul "YOU'RE MY DESTINY". Buku dengan judul yang sama dimiliki Rani di perpustakaan. (apakah itu buku Rani? mari kita ikuti ceritanya)
Ponselnya bergetar menandakan satu pesan masuk dari Kevin
persiapkan dirimu, nanti sore kita mengunjungi Rani
__ADS_1
Raka tak membuka bahkan membaca pesan tersebut. Ia hanya menghiraukannya. Ia tak ingin ada Kevin jika akan mengunjungi Rani. Ia lebih suka sendiri menemui Rani, akan lebih bebas sesuai kehendak hatinya.
Jika bersama dengan Kevin, Ia tak sanggup menerima kenyataannya. Jika bersama dengan Kevin, Rani takkan mau muncul di hadapannya. Rani akan meninggalkannya, memintanya untuk pergi menjauh. Sebegitu kukuhnya Rani menyembunyikan perasaannya.
*****
Saat di kampus. Mitha berusaha mencari Kevin. Ada yang perlu ia bicarakan, mengenai seberapa buruknya kondisi Raka yang tentu saja Kevin lebih tahu.
"Vin.. Ada yang mau gw omongin," dengan ragu Mitha memulai. Mitha sedikit canggung menemui Kevin, sebab ia pernah menyinggung perasaan Kevin atas ucapannya. Bahkan ia pernah menyangkal dengan kasar kenyataan yang sudah dijelaskan Kevin apa adanya. Sejak saat itulah Mitha tak berani bicara dengan Kevin.
"Sudahlah santai aja ngomong sama gw, jangan pasang muka tegang begitu, yang lalu biarlah berlalu ... Gw dah lupain," Kevin mempersilahkan dan menyuruh Mitha duduk dihadapannya.
Mitha pun duduk "Raka ..." belum selesai Mitha bicara sudah langsung dipotong oleh Kevin
"Apa dia kesana lagi?" ucap Kevin sudah tahu maksud Mitha.
__ADS_1
Mitha mengangguk mengiyakan. "Gw kasihan sama Raka, dia benar-benar menyedihkan. Tak pernah berhenti kesana dan melakukan hal itu. Hati gw sesak hanya dengan melihat saja dan ingin sekali gw memarahinya melihat dia seperti itu, kapan dia akan berhenti seperti itu?" Kevin meluapkan semua kegelisahannya. Ia mengusapkan keningnya.
"Kamu tahu masalahnya, kan?" tanya Kevin mengingatkan Mitha apa yang sedang terjadi pada Raka. Lagi-lagi Mitha mengangguk. Namun kali ini wajah Mitha penuh dengan penyesalan "Maafkan aku..." ucap Mitha pelan.