
Sebelum mengikuti Raka, Kevin sebenarnya sudah menghubungi Mitha agar membantunya menyadarkan Raka. Namun sudah dua jam berlalu Mitha belum juga datang. Sementara Kevin sudah semakin geram oleh kegilaan dan tingkah konyol Raka. Bagaimana bisa orang yang tidak ada didunia ini bisa terlihat oleh Raka?
Kevin mengumpat kekesalan, bicara dengan Mitha hanyalah omong kosong. Percuma minta bantuan darinya, Mitha takkan datang membantunya. Ia harus lakukan ini sendiri. Ia mulai beranjak dari kursinya. Menghempaskan kursi yang tak berbuat apa-apa. Mengumpat mengeluarkan sumpah serapah, ingin sekali lagi ia melayangkan tinju pada Raka. Agar Raka sadar dengan kenyataan yang sudah terjadi didepan matanya.
Amarahnya meluap-luap, hatinya sangatlah geram. Ia harus menghampiri Raka. Di tangan Kevin tampak secarik kertas, kertas itu adalah akal sehat Raka. Raka harus sadar seperti yang ia tulis dalam surat ini. Ia masih merindukan Rani itulah kenyataannya. Tapi sosok Rani yang sudah meninggalkannya untuk selamanya takkan mengubah kenyataannya. Ia harus mengembalikan akal sehatnya agar normal kembali.
Ketika Kevin hendak berjalan menghampiri Raka, tiba-tiba ada tangan yang menarik dan mencegatnya. Menahannya sejenak bahwa Kevin tak boleh tersulut emosi dalam menyadarkan Raka. Namun apalah daya jika emosi sudah membara takkan ada akal sehat yang dapat mencegahnya.
*****
Raka masih terlihat bahagia dengan adanya Rani di sisinya. Ia hendak mengeluarkan kotak persegi kecil berbahan bludru berwarna biru. Ya, di dalam kotak itulah cincin yang sudah Raka persiapkan akan ia berikan pada Rani. Ia sudah membayangkan Rani pasti akan menerima cintanya. Takkan lagi menolak dan mendorongnya untuk menjauh.
__ADS_1
Namun saat ia mengeluarkan kotak tersebut dari kantong celananya. Datang Kevin tiba-tiba menarik tangan Raka serta menghempaskan apa yang ada di tangan Raka. Seketika saja kotak itu langsung terbuang ke lantai.
"Apa-apaan ini," gerutu Raka kesal karena ada yang sudah mengganggu. Ia memungut kotak tersebut dari lantai setelah itu ia menoleh dengan siapa ia bicara.
Kevin yang berada di hadapannya memandang dengan wajah merah padam. Ia masih mengacuhkan kedatangan Kevin. Ia menoleh kearah tempat duduk Rani. Namun alangkah terguncangnya ketika ia menoleh Rani tak berada disitu.
"Kevin, ngapain Lo disini? Gw kan sudah bilang, Lo gak usah ikutin gw. Lihatkan kemana perginya Rani.. Setelah Lu tiba-tiba saja datang, sudah pergi sana. Jika kau masih disini, Rani takkan kembali." ujar Raka yang sudah kehilangan akal sehatnya.
Amarah sudah menggebu-gebu di dada Kevin. "Ada atau tidaknya gw disini, Rani yang Lo inginkan memang takkan berada disini."
Lalu Raka mengusap pipinya yang memerah. Mitha yang berdiri setelah membaca surat yang diberikan Kevin langsung mendekat menolong Raka agar stabil kembali. Namun Raka malah mendorong Mitha.
__ADS_1
"Pergi sana ... Menyingkir dari hadapanku." Raka mengelakkan tangan Mitha yang berusaha membantunya berdiri.
"Sadarlah Raka!" bentak Kevin. Ia benar-benar tak tahan melihat Raka yang kehilangan akal sehatnya.
Raka tak bergeming dan Mitha mendekati Kevin. Ia menenangkan amarah yang memuncak di ubun-ubun Kevin.
"Sudahlah Kevin,, Ini takkan berguna," ucap Mitha menenangkan Kevin yang sedari tadi sudah berupaya membuat Raka sadar.
"Untuk apa kalian datang kemari, terutama perempuan ini? Sudah Gw bilang sama Lu, jangan dekati Gw lagi. Buang jauh-jauh perasaan lu sama Gw! Gw gak pernah sekalipun tertarik sama lu. Gw hanya menghargai Lu karena Lu adalah sahabat bagi Rani. Tapi sebagai sahabat Kau bahkan tak peduli padanya." Raka membentak Mitha yang tak berbuat apa-apa. Ia kesal pada Mitha.
Mitha tampak berkaca-kaca menahan setiap perkataan yang dilontarkan oleh Raka. Terasa menyakitkan saat kebenaran itu keluar dari mulut Raka. Lalu Kevin memegang pundak Mitha berusaha menenangkannya agar tabah mendengar ucapan Raka. Kemudian Kevin menarik kertas yang berada di tangan Mitha, menghempaskannya ke hadapan Raka. Ia berharap Raka sadar setelah melihat surat yang ditulisnya. Kemana akal sehatnya setelah menuliskan surat ini? Kenapa Raka masih belum menerima apa yang sudah terjadi?
__ADS_1
"Maafkan aku, Raka... Tapi ini sudah terlalu jauh dan tidak sepantasnya ini terjadi. Jika kamu sangat mencintai Rani, maka ikhlaskanlah kepergian Rani agar dia tenang disana. Cinta kalian tentu akan abadi di sisi Nya. Jika kamu tak ingin menyakitinya maka hentikanlah ini sekarang. Jangan salahkan dirimu atas apa yang sudah terjadi. Ini bukanlah kesalahanmu. Saat ini yang terbaik bagi Rani adalah doa setulus hati darimu bukan bersikap seperti orang kehilangan akal seperti ini. Doakan dia agar diberi tempat terbaik di sisi Nya. Walaupun kalian tak ditakdirkan bersama disini, maka yakinlah suatu saat kalian akan dipertemukan dan diberi tempat untuk bersama selamanya." kalimat tersebut mengalir saja dari mulut Mitha. Setulus hati ia mengucapkannya. Dengan hati yang lapang ia menegarkan diri mengucapkannya. Meskipun hatinya belum sanggup untuk melepaskan rasa yang ada untuk Raka.
Tak hanya Raka yang sedih dengan kepergian Rani. Mitha juga mengalami hal itu. Bahkan kesedihannya dua kali lipat dari yang Raka rasakan. Ia kehilangan orang tersayang di waktu yang bersamaan. Tidak hanya takdir yang kejam pada Raka. Takdir juga kejam bagi Mitha. Takdir membuat mereka menderita untuk bertahan di dunia nan kejam.