Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Perasaan Mitha


__ADS_3

Raka khawatir Mitha akan mengetahui yang sebenarnya. Namun jika memang itu yang terjadi, ia akan menerimanya. Lagipula ia juga sudah tidak nyaman menjalankan hubungan palsu ini. Ia tidak bisa memutuskan karena ia yang memulai cerita ini. Ia hanya berharap Mitha segera bosan dan mencampakkannya. Tapi apakah itu bisa terjadi? Mengingat perasaan Mitha yang sangat besar padanya.


"Mitha—" perlahan Rani sadarkan diri. Tangannya yang mulai bergerak terasa oleh Mitha. "Kamu tidak apa-apa?" Mitha terdengar sangat cemas.


"Aku baik-baik saja, cuma masih sedikit pusing," ucap Rani lemah. Lalu Rani mendelik ke arah Raka yang juga masih berada di sana.


"Kamu harus berterimakasih pada Raka karena dia yang sudah menolongmu," ucap Mitha.


Raka tak habis pikir, Mitha bisa mengatakan hal itu. Begitu pun dengan Rani. Ia tak menyangka Mitha akan mengatakan itu. Apakah Mitha tidak tahu kalau Raka sedari tadi bersamanya? Apakah Mitha sama sekali tak mencurigainya?


Persahabatan mereka benar-benar rumit. Satu sisi menjaga perasaan yang lain dan satu sisi terus mempercayai yang lain. Apakah itu definisi dari persahabatan? Kau harus selalu percaya sahabatmu dan kau harus selalu berkorban untuk sahabatmu? Meskipun kau sudah dibodohi?


"Terimakasih," ucap Rani dingin kepada Raka. Ia tidak ingin membuat pembicaraan yang akan menimbulkan kesalahpahaman. Kini ia harus ditinggalkan sendiri. Ia membutuhkan waktu untuk beristirahat. Mereka yang berada di tenda medis harus keluar dan membiarkan Rani tinggal untuk memulihkan kondisinya.


"Mitha, kamu tidak cemburu?" tanya Raka memastikan keadaan Mitha setelah keluar dari tenda medis.


"Untuk apa aku cemburu? Rani adalah sahabatku," jawab Mitha dengan tenang. Ia percaya dengan sahabatnya melebihi siapa pun.


"Tapi kan—" Raka hendak memberitahunya kalau ia sedari tadi menghabiskan waktu bersama Rani. Tapi ia tak sempat melanjutkan kalimatnya karena sudah dipotong oleh Mitha terlebih dahulu. "Aku tidak masalah kalian bersama ... Aku tidak akan salahpaham dengan sahabatku, apalagi denganmu. Aku percaya pada kalian," ujar Mitha dan tak ada yang berubah dari ekspresinya. Ia masih bersikap dengan tenang.


Sungguh. Mitha sangat tidak bisa ditebak dan dimengerti. Dia sosok yang baik atau berpura-pura baik menutupi kenyataannya. Raka bingung. Dia merasa bersalah dengan Mitha. Tak akan sanggup rasanya ia bisa menyakiti Mitha. Apabila sikap Mitha sebaik ini.


*****


Kini Mitha sedang duduk termenung di luar. Jauh dari orang-orang. Ia membutuhkan waktu untuk menata hatinya dan butuh waktu untuk menyendiri. Ia terpikirkan sesuatu yang sudah lama mengganggunya. Ia ingin masalah ini secepatnya usai. Ia sudah cukup lelah untuk berpura-pura. Namun ia tak ingin melepaskan apa yang sudah di sisinya, yakni Raka.

__ADS_1


Lelah baginya tidak apa-apa melihatnya memperhatikan Rani. Tersiksa hatinya, Raka berada di dekat Rani. Tapi bagaimana ia bisa terus berpura-pura? Semua sudah tampak dengan jelas. Bahwa hati Raka tak pernah untuknya. Ia menyadari perasaan Raka hanya untuk Rani setelah semua kejadian ini. Tapi tetap saja ia harus mempercayai mereka. Sampai semua benar-benar jelas dan sampai mereka sendiri yang memberitahunya kebenaran yang terjadi di antara mereka.


Tiba-tiba datang seseorang mendekati dan duduk di dekatnya. Mitha menoleh. Orang itu adalah Kevin. "Hei—" Mitha melempar senyuman. Menutupi masalah yang berkecamuk di dalam hatinya. Kevin bisa melihat dengan jelas apa yang dirasakan oleh Mitha.


"Kamu gak ikut serta sama yang lain?" Mitha bertanya memecahkan kecanggungan. Tapi Kevin menjawab, "Aku yang harusnya bertanya demikian, ini kan kegiatan jurusanmu, aku hanya tamu dan tak mengerti apa yang kalian lakukan. Orang-orang di sini juga terasa asing bagiku kecuali kamu, Rani dan Lia." Mitha menunduk mendengar penjelasan Kevin. Perkataan Kevin benar dan ia sudah salah bertanya.


"Aku boleh bertanya?" Kevin memulai percakapan. "Silahkan" Mitha tak keberatan.


"Apa kamu baik-baik saja?" Kevin memastikan keadaan Mitha setelah melihat apa yang terjadi. "Aku?? Aku baik-baik saja, apa maksudmu?" Mitha mulai gelisah dengan pertanyaan Kevin.


"Kamu yakin? Kenapa tidak terlihat begitu?" Kevin semakin memancing Mitha. "Terlihat bagaimana?" Mitha semakin gelisah. Ia khawatir, apa Kevin menyadari kegelisahannya?


"Hmmm ... Tidak apa-apa. Aku pikir kamu terlalu baik saja—" Kevin hendak beranjak meninggalkan Mitha. Ia sengaja memancing Mitha.


"Kenapa kamu berpikiran aku terlalu baik?" Mitha menginginkan penjelasan. "Yaa berarti kamu tidak buruk, kan? Bukankah itu terdengar seperti pujian? Kamu tidak menyukai pujian?" jawab Kevin dengan santai.


"Kenapa tiba-tiba? Apa maksudmu? Aku merasa ada maksud lain dengan kamu berkata demikian," Mitha terlihat gugup.


"Aku yang harusnya bertanya apa maksudmu, apa yang ada dalam pikiranmu itu?" Kevin mulai berterus terang.


"Pikiranku? Apa yang kamu ketahui?" Mitha mulai ketakutan.


"Ayo duduk ... Kamu terlihat sangat gugup, aku tidak akan memakanmu." Kevin mengajak Mitha untuk sejenak rileks. Mitha menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Apa Kevin merasakan sesuatu?


"Jangan gugup denganku, aku hanya tidak mengerti bagaimana kamu bisa tenang dalam kondisi seperti ini?" Kevin memulai memperjelas keadaan dan menginterogasinya, "Apa yang kamu sembunyikan dibalik mereka?"

__ADS_1


"Mereka?" Mitha sangat gelisah, ia membasahi kerongkongannya yang kering. "Raka dan Rani." Kevin kembali memperjelas kata mereka yang ia maksud.


"Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku mempercayai mereka," tolak Mitha dengan keras.


"Bagaimana kamu tidak menyembunyikan apa-apa, sementara kamu berada di tengah mereka? Aku bisa melihatnya dengan jelas. Jangan berpura-pura lugu dan sok baik, itu tidak pantas untukmu," serang Kevin.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" Mitha benar-benar tidak tahu.


"Jangan berlagak sok baik di depan ku, kamu tahu kan kalau Raka tak pernah tulus denganmu. Tapi kamu masih saja menahannya, jangan bersikap seperti malaikat. Raka takkan pernah tersentuh olehmu. Sebab hatinya tak pernah secuil pun untukmu." Kevin menjelaskan semuanya. Sepertinya ia tidak menyukai Mitha. Baginya, Mitha hanya berpura-pura baik selama ini.


Mitha tampak baik-baik saja dengan itu. Fakta yang dipaparkan oleh Kevin, itu benar. Ia juga merasakan kegelisahan itu. Sehingga ia tak lagi terkejut mendengarnya. Ia juga merasakan bahwa tak pernah ada dirinya di dalam hati Raka.


"Satu hal lagi, kenapa kamu tega lakukan itu pada Rani? Bukankah kalian sahabat?" ujar Kevin. "Rani?" Mitha sontak kaget mendengar nama Rani disebut, ia merasa tak melakukan apa-apa pada Rani. Semua masih seperti biasanya.


Lalu Kevin tersenyum merendahkan, "Aku melihat kamu berpura-pura lagi, aku tak mengerti dengan hubungan persahabatan kalian ... Hanya Rani yang menjaga perasaanmu, apa kamu pernah menjaga perasaan Rani?"


"Apa maksudmu?" Mitha benar-benar kebingungan.


"Rani menyukai Raka, sebenarnya mereka saling menyukai tapi kamu berada di tengah-tengah mereka menjadi penghalang, bersikap tidak tahu dan menjadi orang yang paling baik bagi keduanya. Tidakkah itu sangat keterlaluan?" pernyataan Kevin memukul telak Mitha.


Ia tak pernah tahu sama sekali jika Rani juga menyimpan perasaan pada Raka. Lalu kenapa dia yang disalahkan oleh Kevin? "Jangan menghakimi aku dengan begitu buruk, aku benar-benar tidak tahu kebenaran yang kau sebutkan barusan. Rani tak pernah mengatakannya, aku serius ... Aku tak pernah tahu kalau Rani menyukai Raka." Mitha membela diri karena dia merasa tidak bersalah.


Kevin yang sudah terlanjur kesal tak mau menghiraukan, "Sekarang kamu sudah tahu, apa kamu bersedia melepas Raka untuk sahabatmu itu?" Mitha tak mampu menjawab. Hatinya menolak untuk melepaskan Raka.


"Aku benar. Kamu hanya berpura-pura baik." lalu Kevin meninggalkan Mitha seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2