
Waktu terus berjalan karena ia takkan pernah berhenti hingga akhir zaman. Berganti hari dan takkan pernah bicara~
Memang benar, waktu tak memberi jawaban pada Raka. Melainkan Rakalah yang harusnya memberi dan mencari jawaban atas apa yang ia rasakan. Ucapan Rani di saat itu masih membekas di benaknya. Dua alasan yang memutarbalikkan otaknya. Masih adakah alasan lainnya, hingga Rani sangat tak ingin didekati olehnya?
Ia sudah mencoba untuk tidak peduli lagi pada rasa yang terpaut untuk Rani. Tapi itu konyol dan sangat bodoh. Hatinya selalu saja mengutuk hal buruk tersebut. Ia takkan menyerah. Raka tak mampu jauh dari Rani. Hatinya menolak untuk melakukan hal demikian. Kesempatan yang selalu terngiang menghantuinya dengan keberadaan Mitha yang selalu lalu-lalang di dekatnya. Apakah dia akan menyerah?
"Haii Raka ... Apa kabar?" Mitha menghampiri, Raka pikir ada Rani di dekatnya tapi setelah dia menolehkan pandangan. Ternyata Rani tidak ada. Raka semakin kacau. Tak biasanya mereka berdua terpisahkan. Biasanya mereka seperti surat dan perangko. Nempel kemana-mana berdua. Tapi sekarang hanya ada Mitha, Rani benar-benar menghindarinya.
"Halo Mitha," Raka memberi jawaban singkat. Mitha semakin mendekat. Sikap Mitha semakin mengacaukan Raka. Saat Mitha mendekat, Raka melihatnya dan tiba-tiba saja terbesit pilihan yang diarahkan Kevin. Seputus asa inikah ia menghadapi Rani hingga selalu saja hal itu terfikirkan?
"Raka, ada sesuatu yang ingin kubicarakan, kamu ada waktu luang gak?" Mitha memberanikan diri. "Bicara di sini saja langsung," tanpa ragu Raka mempersilahkan.
"Nanti saja," ucap Mitha hendak pergi.
"Tunggu Mitha." Raka mencegat.
__ADS_1
"Ada apa? aku harus buru-buru karena masih ada kelas. Nanti kita bisa lagi." Raka menghentikan langkahnya Mitha yang hendak pergi.
"Dimana Rani?" Raka tak bisa berhenti menanyakan keberadaan Rani. Tak bisa dia sedetik pun tak ingat pada Rani.
"Mungkin dia di kelas, dia terlihat sedikit aneh belakangan ini. Lebih senang sendiri dan gak mau aku temani," jelas Mitha. "Nah, bukankah kalian dekat?" tanya Raka.
Apakah Rani juga akan menjauhi Mitha? Karena Mitha mulai dekat dengan Raka. Apa dia benar-benar akan menghapus Raka di sekitarnya? Memikirkan hal itu saja mampu membuat Raka termangu. Ia gelisah dengan sikap Rani yang sengaja menghindarinya. Apa kesalahannya hingga Rani lakukan itu padanya? Apakah menyukai Rani adalah sebuah kesalahan? Apakah mendekatinya juga merupakan kesalahan?
"Kenapa kamu bertanya tentang Rani?" Mitha seperti mencurigai pertanyaan Raka.
Mitha pun pergi setelah mereka selesai berbicara. Ia tak menyadari sebenarnya Raka lebih peduli tentang Rani daripada tentangnya.
Saat ini Rani sedang menyibukkan diri di Perpustakaan. Ia membaca buku yang sebelumnya sudah ia baca, mengulangnya terus-menerus setiap dia ke Perpustakaan ini.
Beberapa menit kemudian, Mitha datang dengan raut muka senang. "Kelihatan senang sekali, habis dari mana?" ujar Rani. Mitha hanya senyum-senyum tak jelas.
__ADS_1
"Ada apa sih?" Rani mulai gelisah dengan ekspresi Mitha. "Nanti, Ran," jawabnya singkat.
"Nanti apa?" Rani penasaran. Mitha masih tersenyum sambil memejamkan mata dan menaruh kedua telapak tangannya di pipi.
"Sepertinya aku tahu yang terjadi." Rani mulai menebak apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya ini.
"Nanti aku bakal bicara sama Raka, aku akan ungkapkan semua ... Aku rasa dia juga punya perasaan yang sama denganku Ran," Mitha menjelaskan dengan berseri-seri. "Bagaimana kamu tahu dia juga suka sama kamu? Jangan menyimpulkan terlalu buru-buru, Tha." Rani memperingati.
"Ternyata dia memperhatikan aku loh, Ran. Aku gak bakal salah, Rani. Dia selama ini sudah memperhatikanku. Aku yakin itu, buktinya dia tahu kalau kita selalu bersama. Makanya tadi dia nanya, kenapa tiba-tiba kita gak bersama ... Itu tandanya dia perhatian sama aku, kan?" Mitha sangat bersemangat dan tersenyum lebar, ia sudah memejamkan matanya membayangkan apa yang akan terjadi nanti dengan bahagianya.
Rani membasahi kerongkongannya yang kering. Ia merasa Mitha telah salah paham. Tapi ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Mitha. Itu bisa merusak suasana hatinya. Jadi ia hanya membiarkannya menari-nari dalam khayalannya. Jika ia menyangkal dugaannya, maka dia akan sedih. "Jangan terlalu senang dulu, apa yang kamu pikirkan belum tentu itu yang terjadi." Rani menimpali dan membuyarkan khayalan Mitha yang sedang menari-nari di puncak kepalanya.
"Buku itu bukannya sudah ratusan kali kamu baca? Buku tebal itu lagi," ketus Mitha menyadari buku yang dipegang Rani. "Kenapa? kan gak ada larangannya baca buku yang sama." Rani menjawab dengan ketus.
"Ya terserah sih. Ya emang cuma kamu aja yang bakal baca buku setebal itu," ujar Mitha dan kemudian melanjutkan angan-angannya pada Raka.
__ADS_1
Mitha tidak tahu apa yang sebenarnya telah disembunyikan oleh Rani dalam bukunya. Buku itu ibarat kotak pandora dalam genggaman Rani. Sewaktu-waktu akan menggemparkan jika dibuka.