
Haloo guyss... Happy Reading!!!
Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....
Terusss kalau kalian sayang, kasih VOTE dan LIKE yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom KOMENTAR juga...
Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...
Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~
******
Rani berkata pada sosok itu bahwa ia pasti tidak pernah tahu rasanya melihat orang yang dicintai ada di depanmu tapi kau tidak bisa memberitahunya sesuatu. Itulah yang harus Rani hadapi saat harus meminta Raka mencari perempuan lain untuk dicintainya. Rani berkata sosok itu takkan bisa paham bagaimana perasaannya saat ini.
Sosok itu berubah jadi murung dan sedih setelah mendengar gugatan dari Rani bahwa ia takkan tahu perasaan seperti itu. Bagaimana ia bisa tidak tahu, tentu ia juga sangat tahu dengan jelas. "Apa hanya kau yang mencintai seseorang? Aku mencintai seseorang juga. Aku tidak bisa mengatakan aku mencintainya bahkan ketika aku sudah tidak ada di sisinya. Kini setelah dia sudah berada di dekatku, aku juga tidak bisa memberitahunya."
Tapi setelah Rani mendengarnya, ia menjadi putus asa dan menangis. Dia tidak tahu kalau sosok itu sedang membicarakannya. Dia terus saja memohon agar sosok itu membantunya. Sosok itu menjadi panik, "Ya! kau menangis. Jangan menangis." Ia meraih Rani dan memeluknya. Ia menepuk-nepuk punggungnya berusaha menenangkan, "Jangan menangis, jangan menangis ...."
"Meskipun aku ingin, aku tidak akan melakukannya." Sosok itu berkata bahwa ia tidak bisa membantu Rani dalam masalah ini terlalu dalam. Dia punya aturan yang tidak boleh dilanggar. Dia tidak boleh mencampuri urusan manusia. Jika ia melakukannya maka ia tidak akan bisa muncul lagi di depan Rani. Ia tidak ingin membiarkan Rani sendirian bahkan untuk menuju keabadian. Ia harus pergi bersama karena itulah alasannya menjadi Penjemput roh. Ia ingin bertemu lagi dan membawa Rani bersamanya. Dia sudah pernah meninggalkan Rani sekali maka dari itu, dia takkan melakukannya lagi. Ia tidak bisa melakukan kesalahan lagi dan menyia-nyiakan apa yang sudah ia kerjakan. Semua yang sudah ia lakukan selama menjadi Penjemput dan Pengantar roh hanya demi ini. Demi bertemu lagi dan pergi bersamanya menuju keabadian.
*****
__ADS_1
Kita kembali ke Restoran. Faraz menyadari bahwa Risa tiba-tiba menghilang. Ia mencari Risa ke belakang tapi Risa tidak ada juga. Dia tidak tahu alasannya, kenapa Risa pergi begitu saja?
Mitha sudah mendesak Kepala chef untuk mengenalkan karyawannya itu. Entah sejak kapan Mitha tertarik dengan semua yang ada di Restorannya sampai ia harus kenal semua karyawannya. Saat Kepala chef memanggil Risa malah Faraz yang datang mengahadap. Ia memberitahu bahwa Risa sudah pergi.
Mitha bingung kenapa karyawan kakaknya itu tiba-tiba saja pergi. Apa dia menghindarinya? Lalu Mitha meminta Kepala chef mengulang menyebut namanya kembali karena tadi Risa tidak terlalu memperhatikan. "Risa, namanya Risa." Kepala chef mengulanginya dengan jelas.
Mitha terdiam dan wajahnya berubah merah. Ia merasa orang yang disebutkan barusan adalah Risa yang ada dibenaknya, orang yang ia sangat benci. "Bagus jika dia pergi. Tau diri juga dia kalau dia tak seharusnya berada di dekat kita. Kak Rifki jangan mencarinya. Biarkan saja wanita itu. Wanita jal*ng tak tau diri. Wanita pembawa sial. Awas saja kalau dia bertemu denganku." Kepala chef terkejut melihat perubahan Mitha. Apa wanita yang sangat dibenci adiknya ini adalah Risa yang bekerja bersamanya selama tiga bulan ini?
Faraz juga kebingungan, bagaimana Mitha bisa membenci perempuan sebaik dan selembut Risa? Benar-benar mustahil itu terjadi. Ada apa ini sebenarnya?
Selagi Mitha masih berada di sini Kepala chef tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak ingin menyakiti adiknya karena ia tahu kondisinya. Ia harus memihaknya dan berada di sisi Mitha saat ini. Jadi ia membiarkan saja Risa pergi meskipun hatinya tidak terima.
Sementara itu Risa sedang berjalan sendirian di bawah langit malam. Ia masih mengenakan seragam kerjanya. Ia menangis dan mengingat kenangannya saat bersama Ari dahulu.
"Apa kalian ingin dibacakan kartu Tarot?" Saat itu mereka mendatangi sebuah bazar. Di sana ada yang menawarkan untuk melihat peruntungan mereka. Risa tidak tertarik untuk dibaca peruntungannya dengan kartu tarot tapi Ari tetap memaksa. Ari berkata, "Tidak salah kita mencobanya untuk bermain-main."
Orang yang menawarkan itu meminta mereka membayar dua puluh ribu rupiah terlebih dahulu. Ari membayarnya dan menarik salah satu kartu Tarot. Mereka mendapatkan kartu The Lovers. Risa melirik kartu itu dan Ari malu memperlihatkannya. Ia mengira kartu ini memiliki arti yang bagus untuk mereka berdua. Tapi ekspresi orang yang menawarkan kartu itu berubah, dia tidak suka hasil kartu yang dipilih Ari. Kartu itu memiliki arti yang buruk untuk mereka berdua.
Risa bertanya apa kartunya jelek, tapi orang itu memutuskan berbohong untuk menyenangkan mereka dengan berkata, "Kartu ini mewakili cinta tanpa syarat. Kalian adalah pasangan serasi dan pernikahan kalian nantinya akan indah dan langgeng." Ari tampak senang dengan hasil tafsiran kartu yang ia pilih dan dengan bangga ia berkata, "Aku yang memilihnya!"
Lalu orang yang menafsirkan tarot itu mulai memainkan sulap dan mengeluarkan mawar pink, "Ini adalah hadiah istimewa untuk pasangan yang sudah ditakdirkan." Ia berkata demikian karena ia merasa bersalah sudah berbohong.
__ADS_1
Risa terpesona dengan sulapnya begitu juga Ari. "Wow ... mawar pink." Ari berkata itu adalah bunga favoritnya Risa. Ia mengambilnya dan mengucapkan terima kasih lalu mereka pergi dengan bahagia.
Arti sesungguhnya dari kartu yang dipilih Ari adalah mereka pasangan yang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mereka sangat berbeda dan tidak akan cocok, mereka akan berpisah dan terpisah untuk selamanya. Orang itu tidak mau mengatakan kebenarannya karena mereka terlihat sangat serasi dan saling mencintai, "Bagaimana aku bisa berkata pada mereka kalau mereka akan terpisah selamanya? Si pria terlihat sangat mencintai perempuannya," ucap orang itu dalam hati dan memulai mengatur ulang kartunya setelah mereka pergi.
Mereka kini duduk di bangku taman. Ari tanya apa Risa lapar tapi Risa menjawab tidak. Lalu Ari berkata, "Aku akan gila, Sa." Risa heran dan bertanya, "Kenapa?"
Ari menjawab, "Aku juga tidak lapar karena harumnya mawar ini pasti sudah membuatku kenyang." Lalu ia menatap Risa yang tertegun karena gombalannya. Ari berlutut dan memberikan mawar pink itu pada Risa. Setelah Risa mengambilnya, ia berdiri dan mencium dahi Risa.
Tidak hanya kenangan manis itu yang Risa ingat saat berjalan sendirian. Ia juga mengingat kenangan buruk yang ia berikan pada Ari. Saat mereka bertengkar atau tepatnya saat Risa marah-marah dan meminta Ari meninggalkannya. Ia minta putus dari Ari setelah ia tahu bahwa ia sedang hamil anaknya Ari.
Ari menolak putus dengan Risa dan berkata kenapa Risa berubah. Lalu Risa menjawab, "Bagaimana orang bisa tidak berubah? Orang selalu berubah! Aku tidak lagi ingin bersamamu. Tinggalkan aku."
"Tapi ... bagaimanapun aku tidak bisa meninggalkanmu karena aku mencintaimu." Ari bersikeras tidak mau meninggalkan Risa.
"Apa kau tidak bisa mengerti? Aku tidak ingin bersamamu. Tinggalkan aku dan kembali pada keluargamu. Aku hanya merusak hidupmu. Aku perempuan perusak. Jadi, aku minta, tinggalkan aku." Risa mengusir Ari. Ia tidak berkata alasan yang sebenarnya. Mereka tidak mungkin bisa bersama. Tidak ada satu orang pun dari pihak Ari yang menyukainya. Jika Ari tahu dia hamil anaknya pasti Ari akan sulit melepaskannya. Ia tidak mau Ari menjadi durhaka dengan keluarganya. Lebih baik dia menanggungnya sendiri dan pergi.
"Baiklah. Aku akan pergi tapi besok aku akan kembali lagi. Aku mengerti, kamu pasti butuh ketenangan." Ari terpaksa pergi dan setelah Ari pergi, Risa menangis tersedu-sedu.
Kembali ke masa kini. Risa sangat terpukul dengan ingatan itu, lalu ia tersungkur jatuh ke tanah. Roh Ari yang mengikutinya melihat ia menangis. Ia lalu mengulurkan tangan dan memegang wajah Risa. Ia menariknya mendekat, "Kenapa kau seperti ini ... Bagaimana bisa seperti ini? Risa?"
Ari sedih karena wajah Risa terlihat muram dan tidak berseri seperti dulu, lima tahun yang lalu. Ia juga ikut menangis sedih. Lalu ia menghapus air mata dari wajah Risa. Ia memandangnya dan mencoba menyentuh kepalanya.
__ADS_1
Saat itu juga Risa bingung dan pandangannya hampir kabur, tapi dia seperti melihat wajah Ari, wajahnya terlihat serius sekali. Ia bisa merasakan sesuatu sebelum akhirnya ia pingsan.