Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Kepiting Saus


__ADS_3

Raka kemudian masuk dan memperkenalkan diri di hadapan anak-anak tersebut. Anak-anak duduk dengan antusias memperhatikannya berbicara. Sesekali Raka memecah suasana dengan melemparkan beberapa lelucon dan membuat tawa terdengar riuh memenuhi rumah itu. Rani yang memperhatikannya di ujung pintu juga ikut menahan tawa. Sayangnya, Raka tak mengetahui moment itu.


Tanpa sadar, waktu terus berjalan. Langit sore berubah perlahan menjadi gelap. Tampak guratan senja menyelimuti langit dan terpaksa matahari mulai turun. Berganti dengan bulan yang tersenyum menemani malam tiba.


Saatnya kelas dibubarkan. Anak-anak saru per satu berpamitan pulang menciumi tangan Rani dan Raka secara bergantian. Hingga yang tertinggal di rumah itu kini hanya mereka berdua. Sementara Ibu yang biasa menjaga dan membantu Rani mengurus Rumah Baca sedang pergi ke luar kota.


Lalu Rani berdiri di hadapan Raka. Sontak hal itu membuat Raka kaget. Apakah Rani akan memarahinya karena ia tanpa izin telah mengikutinya. Perasaannya was-was, Rani pasti akan mengomelinya dan mengatakan dengan terus terang ketidaksukaannya karena dia diam-diam telah menguntitnya. "Maaf?" ujar Raka memelas sambil menghadapkan kedua tangannya seperti orang memohon kepada Rani. "Karena mengikutiku?" tukas Rani singkat.


Lalu Raka mengangguk mengakui kesalahannya. Rani tidak lagi bicara melainkan berjalan mendahului Raka. Ia seperti tidak mempermasalahkannya. Lalu Raka kembali mengikutinya dan mencoba mendekat, "Maaf," ujarnya sekali lagi memohon.


Kini mereka sudah berada di tepi jalan meninggalkan rumah baca. Kemudian Rani terhenti sejenak. "Maafin aku." Raka kembali memelas.


Rani menarik nafas dalam-dalam dan bertanya, "Kamu lapar tidak?" kalimat tak terduga keluar dari mulut Rani.


Raka menengok arlojinya. Pukul 07.00 pm. Ini memang sudah waktunya makan malam. Rasa laparnya tak terasa karena ia keasyikkan bersama anak-anak tadi. Ia masih ingat, terakhir yang masuk ke perutnya hanya sarapan pagi berupa lontong sayur. Itu pun sudah dua belas jam yang lalu. Terdengar perutnya berbunyi. Rani tertawa pelan dan langsung menutup mulutnya. Raka malu dan langsung menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Aku lapar," polos Raka sambil tersenyum malu-malu, "Kalau kamu mau, ikutlah denganku." Rani mengajaknya ikut makan malam bersama.


"Apa boleh?" tanya Raka lagi karena merasa tidak percaya Rani mengucapkan itu. "Kalau kamu mau langsung pulang, ya boleh," ucap Rani sambil bercanda dan kembali berjalan.

__ADS_1


Raka lalu mengejar dan menyeimbangkan langkahnya. Ia tidak mau membuang kesempatan ini. "Aku tentu saja mau ikut makan malam bersamamu, bukannya pulang," ucap Raka yang kini sudah berjalan bersebelahan dengan Rani.


Sayangnya saja tidak bergandengan tangan, hehehehe.


Di bawah langit malam, disaksikan rembulan, mereka berjalan berduaan. Raka masih mengira ini mimpi, tapi setelah dia mencubit pinggangnya sendiri dan itu terasa sakit, baru dia sadar ini memang benar adalah kenyataan. Mimpi yang berubah menjadi nyata.


Tiba-tiba Rani menghentikan langkahnya di sebuah warung tenda pinggir jalan. "Kamu mau makan disini?" Raka menanyakan dan merasa ragu karena Rani memilih tempat ini. Dia kan duta kampus pasti sudah sering makan di tempat yang lebih mewah, pikir Raka. Kenapa memilih makan di tempat seperti ini?


"Kalau kamu gak mau, yaudah kamu boleh pulang. Aku tidak memaksa kamu ikut makan bersamaku." Rani tanpa segan memasuki warung tenda. Raka telah salah menilai Rani. Dia benar-benar gadis impian setiap orang. Tapi Raka takkan mengizinkan setiap orang dapat memilikinya. Hanya dirinyalah yang berhak memiliki Rani.


Rani memilih bangku di sudut belakang. Tentu saja Raka masih mengikuti karena akan rugi besar jika dia menyia-nyiakan kesempatan ini. Tampak dari posisi mereka duduk, kita bisa melihat pemandangan Kota di malam hari. Lampu-lampu terang menerangi jalanan, kendaraan yang berlalu-lalang serta asap mengepul dari tungku pembakaran ikut andil dalam pemandangan malam ini.


Rani langsung memanggil Abang penjualnya, "Seperti biasa Bang, dua porsi," ujarnya.


Sepertinya Rani sudah langganan dan biasa kemari. Itu bisa terlihat dari caranya bicara dengan pelayan tadi. Raka sengaja memilih duduk di hadapan Rani supaya ia bisa memandangnya dan nyaman bicara dengannya. Namun Rani malah tak sedikit pun melihatnya. Ia malah mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya yang sesak dilalui kendaraan bermotor. Padahal di depannya sudah ada pria tampan yang ingin sekali mengajak mengobrol, tapi topik apa yang akan dibicarakannya? Otaknya tak punya jawaban atas itu. Rani masih saja berhasil membuatnya tergugu dan kelu. Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata pun. Mereka hanya saling diam sampai makanan datang.


Makanan yang mereka pesan tersaji dengan baik, terlihat enak serta menggiurkan. Kepiting jumbo bersaus yang sangat menggugah selera siapa pun yang melihat. Ditemani segelas es jeruk membuatnya sangat serasi. Layaknya Raka dan Rani jika diperhatikan oleh orang yang ikut makan di sana akan mengira mereka berdua adalah pasangan kekasih yang sedang kasmaran.


Tanpa ragu Rani mematahkan capit kepiting dengan tangannya, memasukkannya ke mulut dan menghisap daging yang menempel pada cangkang. Raka memperhatikan dengan seksama. Bagaimana Rani melahapnya. Lalu ia menirukan cara Rani menikmati makanannya. Namun ketika baru saja memasukkan daging kepiting itu ke mulutnya, lidah Raka langsung terasa terbakar. Bahkan serasa ada asap yang keluar dari kedua telinganya. Tidak main-main, saus kepiting ini luar biasa pedasnya bagi Raka.

__ADS_1


Lalu Raka meneguk es jeruk di hadapannya, ia habiskan hingga setengah untuk menghilangkan rasa pedas yang melekat di lidahnya. Melihat Rani yang baik-baik saja. Raka mengernyitkan kening dan bingung. "Kenapa Rani terlihat baik-baik saja? Apa dia tidak merasa pedas?"


Raka tak sanggup lagi jika harus memakan kepiting itu. Akhirnya ia hanya menyendokkan tumis kangkung ke atas nasinya dan menyantapnya dengan lahap karena hanya ini yang bisa ia masukkan ke dalam perutnya yang keroncongan.


Rani terhenti dari kenikmatannya, ia memperhatikan Raka dengan makanannya. Ia terheran, kenapa Raka tidak memakan kepitingnya?


"Kamu tidak suka kepiting?" tanya Rani khawatir melihat yang ada di piring Raka hanya nasi dan tumis kangkung. "Aku suka kepiting, tapi aku tidak suka sausnya. Saus itu bisa saja membunuhku, luar biasa pedasnya," jawab Raka dengan polos namun masih terengah-engah karena kepedasan.


Rani pun tertawa mendengar penjelasan Raka. Ia terdengar sangat kekanak-kanakan, "Hahahaha." Rani tertawa dengan lepas seperti sedang meledek Raka. Ia menertawakan tingkah Raka yang seperti orang bodoh.


"Aku heran, kenapa kamu bisa tahan bahkan tidak minum seteguk pun?" tanya Raka terheran-heran sambil melihat es jeruk Rani yang masih utuh. Bahkan Rani sudah menghabiskan satu ekor kepiting. Apa ia tidak merasa kepedasan?


"Kalau minum yang manis terlebih dahulu, memang rasa pedasnya akan menyebar di mulut, kamu tadi pasti minum es itu dulu, baru menyantap sausnya?" imbuh Rani. Raka kemudian mengangguk membenarkan. Ia baru tahu ternyata itulah penyebabnya, ia bisa merasakan sensasi pedas yang sangat luar biasa.


Tapi ini memang bukan kepiting saus biasanya. Itu adalah kepiting saus luar biasa. Luar biasanya, karena sausnya terbuat dari Sambal Mercon. Sehingga pantas saja Raka akan seperti itu. Ditambahkan lagi Raka memang tidak kuat makan pedas. Beda hal dengan Rani yang sangat menyukai makanan pedas.


*****


Berikan cinta kalian dengan rate, like, komen, vote dan favorite. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2