
Setelah Mitha pergi, Raka menatap buku yang ada di hadapannya. Ia kembali teringat pada hari itu. Hari dimana ia gagal mengatakan perasaannya pada Rani. Waktu lima menit yang diberikan Rani hanya berakhir sia-sia. Matanya berkaca-kaca saat mengingat kembali hari itu. "Aku yang terlalu bodoh untuk percaya pada waktu." Raka mulai membuka lembar pertama buku itu.
Pada lembar pertama belum terlihat apapun. Hanya tulisan yang menceritakan pertemuan tokoh yang ada di dalam cerita. Raka membacanya, air mata mulai bergulir. Cerita pada buku ini menceritakan hal yang sama dengan pertemuannya bersama Rani. "Apa ini yang selalu kamu baca? Kamu menyukai bagaimana mereka bertemu? Aku juga menyukainya saat dimana kita pertama kali bertemu." Lalu Raka membalik halaman berikutnya. Ia menemukan catatan tempel dan tulisan Rani (Silahkan lihat Bab sebelumnya, jika ingin tahu apa yang ditulis Rani.)
Raka terus-menerus membalik halaman dan terus menemukan tulisan Rani. Sampai pada halaman terakhir, ia membaca setiap rahasia yang disembunyikan Rani. "Ini sebabnya kamu memintaku untuk membencimu. Ini sebabnya kamu selalu mendorongku untuk menjauh. Aku terlalu bodoh untuk tidak mengetahui alasanmu menginginkan itu. Aku ... Aku tidak bisa tidak mencintaimu dan tidak bisa untuk membencimu." Raka kesal dan marah pada dirinya sendiri.
Raka menangis sesegukkan. Ia merasa ini tidak adil. Ini terlalu menyakitkan. Ia hanya menginginkan dan membutuhkan Rani sebagai takdirnya. Sebagai cinta pertama dan terakhirnya. Tapi kini semuanya sudah tidak mungkin. "Aku dahulu percaya waktu akan menyelesaikan segalanya tapi ternyata aku sangat bodoh untuk percaya hal itu. Takdir yang pilu telah memisahkannya membuat kau pergi meninggalkanku. Apa kita tak bisa bersama?"
"Dimana kamu, Rani? Aku sangat membutuhkanmu. Tolong kembali saja sekarang. Katakan saja apa yang sudah terjadi ini adalah lelucon. Cukup kembali kepadaku dan katakan kalimat yang ingin kamu katakan langsung di hadapanku. Aku ingin kamu hidup di sisiku selamanya. Jangan pergi. Tolong jangan tinggalkan aku. Bawa aku bersamamu. Aku tidak ingin ditinggalkan sendirian. Aku masih sangat mencintaimu. Aku tahu itu, kamu menyakitiku sebanyak kamu mencintaiku. Aku tahu kamu lelah, tapi aku tak bisa tanpamu. Kembalilah padaku. Tidak apa, jika kamu kembali dan hanya membenciku. Aku masih bisa hidup dengan itu. Tapi aku tidak bisa bernafas tanpamu. Aku tahu ini gila, tapi aku tidak bisa tanpamu. Aku tidak bisa melupakanmu. Meski kamu berikan ini padaku. Terlambat ... Aku tidak akan membiarkanmu pergi seperti itu. Jangan minta aku melakukan itu. Jangan pergi. Cukup, kembali saja padaku. Aku akan membuatmu mencintaiku lagi." Mitha benar, Raka tidak bisa melupakan Rani. Meskipun ia sudah membaca semua hal yang ingin Rani sampaikan.
Roh Rani masih di taman, tempat dia biasa berkeliaran. Ia tampak murung tak seperti biasanya. Ia menatap langit dengan kesal. "Apa aku sengaja dibuat menjalankan takdir seperti ini?" Dirinya mengeluh tak bisa melakukan apa-apa. Sejak dia hidup sampai sekarang, dia tak pernah berhasil dengan cintanya. Kematian selalu terjadi untuk memisahkannya. Kenapa takdir tak sedikitpun memihak dan kasihan padanya?
__ADS_1
Rani masih mendumel dan kesal. Lalu tiba-tiba ia teringat pada sosok itu. Dia pasti akan memarahi Rani karena memprotes takdir yang dituliskan. Sudah beberapa hari ini dia tidak terlihat mengganggu. "Apa yang sedang dia lakukan? Jika dia dengar aku berkata seperti tadi, dia pasti akan menceramahiku. Ternyata menjadi roh sangat membosankan jika dia tidak datang mengganggu."
"Kau merindukanku?" Sosok itu sudah berada di hadapan Rani. Dia tiba-tiba saja datang dan membuat Rani terkejut. Untuk sesat Rani berdebar dengan tatapannya yang tiba-tiba saja menusuk. "Aku pasti sudah gila, roh tidak mungkin punya hati yang berdebar. Aku pasti hanya takut jika dia mendengar aku sudah mengeluh." ucap Rani di dalam hati.
Rani lalu mengelak dan melangkah mundur. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya sosok itu. Rani menceritakan masalahnya. Dia khawatir Mitha tidak bisa memberikan buku itu pada Raka. Padahal yang sebenarnya buku itu sudah berada di tangan Raka. Hanya saja Rani tidak mengetahui hal tersebut.
Lagi-lagi sosok itu duduk di samping Rani. Ia mendengarkan Rani dan merangkulkan tangannya ke pundak Rani. "Aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya dan dia yang juga tidak bisa pergi bersamaku. Kita berdua tidak lagi bisa saling mencintai. Kita sudah berada di tempat yang berbeda. Jadi tidak bisa ... Cinta yang tak pernah bisa kurasakan. Seseorang yang ingin aku temui ketika aku memutuskan untuk kembali. Aku tidak sanggup menemuinya. Dia bahkan tidak bisa melihatku." Rani mengeluhkan kondisinya. Sosok itu menjawab, "Kita tidak bisa menang melawan waktu. Seiring berjalannya waktu. Lupakan saja."
"Apa dia akan bisa membiarkan aku pergi? Aku yang bersalah. Tapi dia selalu saja menyalahkan dirinya atas kesalahanku. Matahari sangat panas, tapi aku telah membuat hatinya membeku. Aku biarkan dia patah hati dengan menyakitinya. Patah hati telah menutup hatinya. Bisakah dia melupakanku? Bisakah dia membiarkanku pergi dengan ikhlas? Mampukah aku mengembalikan kebahagiaannya?" Rani bertanya-tanya, apakah dia akan bisa kembali menuju keabadian? Jika baru mulai saja sudah terasa sangat sulit.
Sosok itu kembali menjawab. Perasaan hanya dimiliki oleh manusia. Itulah yang membuat manusia menjadi rumit dan bukankah dia juga sudah sering katakan bahwa dia tidak mencampuri urusan manusia. "Aku akan membantumu dengan memberitahukan satu hal. Apa yang kau pikirkan sejak tadi dan yang kau risaukan sedari tadi. Dia sudah mendapatkannya. Rencanamu pada percobaan pertama sudah mendekati hasil. Tapi itu bukanlah akhirnya. Setelah semua jelas, kau baru bisa pergi bersamaku menuju keabadian."
__ADS_1
Rani menatapnya kesal, informasi yang sangat penting kenapa baru sekarang dia beritahu. Rani harus bergegas menemui Raka. Dia harus melihatnya langsung. Apa Raka bisa mengikhlaskannya?
Rani sudah sampai di rumah Raka. Pandangannya kosong untuk menghampiri. Apa dia sanggup untuk melihat Raka yang sudah ia sakiti?
"Aku tidak bisa melihatmu. Aku ... Aku mencintaimu ... Tapi aku harus pergi ... Aku harus segera meninggalkanmu ... Aku hanya berharap kebahagiaan untukmu karena aku tidak bisa memberikannya untukmu ... Aku hanya akan membawa cintamu. Aku tidak akan membawa pergi hatimu. Temukan segera seseorang yang bisa mencuri hatimu dan jangan lepaskan genggamannya. Betapa menyenangkan dan baiknya itu. Jika cinta adalah sesuatu yang bisa diperoleh? Aku tidak bisa memberikan itu. Memang benar ... Aku mencintaimu .... Tapi ... Cinta ini akan menghilang seiring dengan menghilangnya tubuh dan jiwaku. Aku akan membawa cinta ini menuju keabadian bersama denganku." Rani tak punya keberanian untuk mendekati Raka. Meskipun Raka tidak bisa melihatnya tetap saja ia tidak akan menemuinya. Jika ia bertemu dengannya, ia takut hatinya akan goyah dan menginginkannya kembali. Itu tidak bisa ia lakukan. Jika itu terjadi dia tetap akan tinggal disini menjadi roh jahat yang mungkin saja akan menghancurkan hidup seseorang. Ia tidak akan bisa menuju keabadian.
Saat Rani hanya menatap dari luar rumah. Kevin datang ke rumah Raka. Ia mengkhawatirkan Raka. Kevin beberapa hari ini dibuat kesal oleh Raka yang tak seperti dirinya. "Tolong berhenti, Ka. Gw sudah katakan, Lo harus berhenti. Mengapa Lo sangat keras kepala? Semua yang terjadi bukan kesalahan Lo! Bodoh. Biarkan dia pergi. Biarkan dia tenang."
Raka terlihat sangat lesu. "Gw menyesal, Vin. Gw gak bisa memilikinya. Gw biarkan dia pergi. Lo gak ngerti betapa dalamnya cinta Gw sama Rani. Lo gak tahu kan, Vin? Gw gak tahu bagaimana cara memperbaikinya, Vin. Hati Gw sakit. Perasaan Gw sangat buruk. Sepertinya Gw akan gila, Vin."
"Lo harus sadar, Ka! Lo bisa mencintainya sampai mati. Tapi Lo gak bisa memiliki orang yang sudah mati." Kevin tidak sengaja sudah berkata demikian. Ia tidak tahu jika perkataannya barusan sangat menyakitkan bagi Raka. "Sorry, Bro. Gw gak bermaksud berbicara begitu. Tapi Bisakah Lo kembali normal menjadi Raka yang Gw kenal? Memang sangat menyedihkan Rani meninggalkan kita, tapi karena itu Lo gak perlu menderita sendirian, Gw yakin Rani pasti menginginkan kebahagiaan Lu. Rani pasti ingin agar Lo mengikhlaskan kepergiannya." Kevin menginginkan Raka agar jangan terus-menerus bersedih dan menyalahkan diri sendiri karena ini bukanlah salah siapapun.
__ADS_1
****
Jangan lupa vote, like dan komentar ya guyss ... Di tungguin hehehe 💙💙