Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Masih Ada waktu


__ADS_3

Kevin menginginkan Raka agar jangan terus-menerus bersedih dan menyalahkan diri sendiri karena yang sudah terjadi bukan salah siapapun.


"Suatu saat dia pasti akan kembali padaku. Aku percaya!" Raka masih berharap agar Rani kembali padanya.


Raka selalu menyesali hari dimana Rani menolaknya dan berkata untuk menjauhinya. Ia mengatakan tidak mencintai Raka sedikitpun. Ia berkata sebaiknya tak perlu mencampuri urusannya. Sekarang Raka sudah tahu bahwa Rani menderita karena sifat keras kepalanya untuk membodohi Raka dan membohongi perasaannya.


"Tidak ada orang lain selain aku yang bisa memilikimu. Kau selalu ada di sisiku. Aku jadi tidak tahu bagaimana bersyukur karena kau sangat sempurna untuk berada di sampingku. Oleh karena itu maafkanlah sifat kekanak-kanakan yang aku punya. Aku tahu kamu pasti akan segera mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. Aku Rani-mu dan kau akan menjadi Raka-ku. Kamu adalah takdirku." Tulisan terakhir yang meluluh-lantakkan perasaan Raka. Bagaikan cuaca yang tak beraturan. Takdir telah mempermainkannya.


Buku itu tergeletak disamping tempat tidurnya. Tertutup rapat setelah ia menuliskan surat panjang lebar (Lihat di bab sebelumnya).


"Ketika cahaya bintang memadam. Sedikit demi sedikit dari luar jendela, aku menegok. Langit malam ikut bersedih karena aku memikirkan wajah indahmu,"


"Aku tulis surat untukmu kepada Tuhan. Kau pergi meninggalkanku ke pangkuanNya. Aku tak bisa melupakanmu. Ku kumpulkan semua air mataku dan mengirimnya kepada Tuhan, bahwa aku mencintaimu,"


"bahwa cinta bukan menjadi milikku. Bahwa walau cinta bukan darimu. Bila kau menemuiku. Aku akan merendah, berbaring di sampingmu. Bahwa aku tak mampu melupakanmu. Sedetik saja. Aku akan mencintaimu saja." Kembali Raka merindukan kekasih hatinya. Hujan yang mendera hati membuat rindu semakin mencekam. Ia mengucapkan kalimat di atas sembari menatap jendela berembun dikarenakan hujan.


"Wahai kasihku, wahai Rani-ku. Aku akan menantimu. Bila surat air mataku sampai ke Tuhan. Suatu saat kau pasti akan kembali padaku. Aku percaya, ku kumpulkan air mataku agar kau kembali. Aku tak mampu melupakanmu."


Waktu Rani terus saja berjalan. Empat puluh hari sudah berlalu. Ia pikir setelah Raka menemukan isi hatinya yang tersembunyi, Raka akan mecoba menerima kenyataannya dan merelakan kepergiannya. Tapi hal itu tidak terjadi sehingga ia masih tertahan untuk menuju keabadian.


"Meski aku harus mengucapkan selamat tinggal. Jangan sampai ini membuatmu menangis. Meski aku jauh tapi aku memelukmu dalam hatiku. Di setiap malam kita terpisah, ku selalu melihatmu dari kejauhan. Hatiku juga sakit melihatmu terluka. Jangan bersedih. Hatiku sakit melihatmu menderita seperti itu. Meski aku harus pergi jauh. Jangan bersedih. Setiap kau mendengar dentingan melodi nan sedih. Ketahuilah bahwa aku berada di sisimu. Sampai saat kau berada di pelukanku lagi. Tersenyumlah." Meskipun tak bisa mendekat, Rani masih terus melihat Raka yang bersedih di balik jendela.


"Aku sudah mengatakan sebelumnya ini tidak mudah dan manusia itu sangat memusingkan. Kenapa kau berdiri saja disini? Kau bisa mendekatinya karena dia tidak bisa melihatmu." Sosok itu kembali datang dan mengajak Rani berbicara.

__ADS_1


"Aku ini roh yang paling menyedihkan," lirih Rani kecewa. "Kau lebih baik dariku karena kesempatanmu masih ada," ujar sosok itu tak seperti biasanya. Ia tidak menceramahi atau meledek Rani.


Lalu Rani mendelik ke arahnya, "Kenapa kau jadi seperti ini?" Rani penasaran bagaimana bisa sosok itu menjadi Penjemput dan Pengantar roh. "Aku mengajukan diri dengan sukarela," jawabnya.


Rani menatapnya heran dan masih terus mendengarkan, "Saat aku meninggal, aku masih meninggalkan suatu hal penting untuk dilakukan."


Rani bertanya, "Apa itu?"


"Kau tak perlu tahu karena itu bukan urusanmu!" jawab sosok itu. Ia kembali ke karakter aslinya yang sangat menyebalkan dan sering membuat Rani kesal. Alasannya menjadi seperti ini sudah ada di depan matanya.


Rani meminta tolong lagi pada Sosok itu. Apa dia tidak bisa memberitahu Raka kalau dia harus melupakan Rani. Kalau diperlukan Rani mempersilahkan sosok itu masuk saja ke mimpi Raka dan katakan padanya.


Sosok itu tidak percaya Rani akan memintanya melakukan hal itu. "Kau ini tuli atau tidak punya otak? Aku tidak mencampuri urusan manusia! Kenapa tidak kau saja yang masuk ke mimpinya dan katakan langsung padanya?!" Sosok itu tidak bisa melakukannya karena itu juga di luar tanggung jawabnya.


"Jadi, kau tidak dapat melakukan ini?" Rani kembali memaksanya. "Bukannya aku tidak dapat, aku tidak mau!" tolak sosok itu bersikeras.


Rani menjadi ciut dan mengatakan padanya, "Bukankah kau dulunya juga seorang manusia. Saat kau hidup, kau pasti juga menyukai seseorang dan mencintai seseorang. Pasti seperti itu?!"


Sosok itu berkata itu mungkin saja karena semasa hidupnya ia juga pernah menyukai seorang gadis. Tapi dia tidak pernah punya kesempatan untuk mencintainya karena dia mati terlalu cepat meskipun dia sudah mempersiapkan kematiannya. Dia tidak punya waktu untuk mencintai dan mengatakannya pada gadis itu. "Jika kau menjadi seperti aku, bagaimana rasanya?" tanya sosok itu menyuruh Rani memikirkannya.


"Pasti rasanya benar-benar mengerikan," jawab Rani yang tidak menyadari dengan siapa sebenarnya dia berbicara.


"Tidak, itu tidak mengerikan. Aku masih bisa melihatnya dan menemukan seorang yang lebih baik dariku. Aku hanya ingin dia bahagia," jawab sosok itu. Lalu Rani menatapnya iba, "Kau juga menyedihkan."

__ADS_1


Sosok itu berkata, "Jika kau tahu itu maka jangan bermain-main dan membuang waktuku. Selesaikan masalahmu dengan segera. Jika kau tidak ingin berakhir menjadi roh jahat."


Keduanya kini berdiri berhadapan. Wajah sosok itu berubah ketika berdiri dekat dengan Rani. Sorot matanya terlihat sedih menatap Rani serta Rani juga ikut terdiam dan seperti merasakan sesuatu.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengannya. Dia begitu dekat dan membuatku nyaman, apa di kehidupan sebelumnya kami pernah bertemu?" ucap Rani di dalam hatinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Rani duluan yang membuang padangan dan kembali memohon karena dia sudah tidak sanggup lagi melihat Raka menderita.


"Kau masih punya waktu, gunakan saja untuk menghiburnya. Tapi jangan kau lupakan aturannya. Jika itu bisa membuatmu bahagia, maka lakukanlah selagi kau bisa melakukannya." Rani terkejut mendengar saran dari sosok itu. Ia merangkulnya dan berterima kasih karena sudah memberikan saran yang bagus, "Apa aku boleh menggunakannya untuk membuatnya lepas dari kesedihan itu?"


Sosok itu menjawab, "Kau boleh menghabiskan waktumu dengan sesuka hati tapi gunakan waktumu dengan sebaik-baiknya. Kau ini beban terakhirku dalam masa 250 hari ini. Jangan buat ini menjadi sulit. Aku akan terkena masalah jika tidak bisa membawamu menuju keabadian."


"Jika dia tidak bisa melupakanmu, maka dia akan terus merindukanmu. Itu akan mempersulitmu untuk pergi. Meskipun kau tak menginginkannya, kau tetap harus melakukannya. Kau hanya ingin memberitahunya tapi kau tak memiliki hak untuk tinggal bersamanya. Kau harus ikut pergi bersamaku," lanjut sosok itu.


*****


Raka kembali normal tapi agak sedikit gila. Ia menjalani hari-harinya seperti biasa. Pergi ke kampus, nongkrong, mengurus usahanya dan tak lupa mengunjungi Rumah Baca setiap dua minggu sekali. Sekilas tak ada yang salah darinya, tapi jika di perhatikan lebih lanjut, ia menjadi Raka yang kehilangan akalnya.


Ia menganggap Rani tak pernah meninggal. Ia merasakan keberadaan Rani masih di sekitarnya. Ya, benar. Dia menggila setelah membaca buku itu. Mengoceh tentang kencan semu yang ia lakukan bersama Rani. Ia sulit untuk dihentikan jadi tidak ada pilihan lain selain membiarkannya.


******


**Halooo Guyss... Apa kalian menikmatinya?


Silahkan vote, like, rate dan koment yaa biar kita semakin semangat!!!

__ADS_1


Author akan semangat up jika kalian memberikan sedikit saja cinta di dalam karya ini... Terimakasih guyss.... 💙💙💙


Happy reading**~


__ADS_2