
Haloo guyss... Happy Reading!!!
Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....
Terusss kalau kalian sayang, kasih VOTE dan LIKE yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom KOMENTAR juga...
Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...
Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~
*****
Raka menemani Risa bertemu Ari di peristirahatan terakhirnya. Tempat yang sama di mana Rani disemayamkan. Sempat terpikir bagi Raka untuk memberitahu Risa tentang kebenaran Rani yang tidak ada lagi di dunia. Tapi ia masih tegas mengurungkannya karena sulit baginya mengatakan hal itu.
Mereka sampai di depan pemakaman Ari. Tampak batu nisan bertuliskan nama Ari Wijaya. Risa memandangnya dan Raka ikut memandang kepedihan Risa di kala menatap tulisan itu. Raka lalu mengucap janji untuk menjaga Risa dan calon bayinya di hadapan pusara Ari. Sebagai gantinya ia juga meminta Ari menjaga Rani, kekasih hatinya.
__ADS_1
Roh Rani dan Ari juga berada di sana. Di kala Raka mengucapkan janji, Ari dan Rani saling bergantian memandang. "Mereka akan bahagia," ucap Rani. "Aku akan menjagamu seperti janjinya," ucap Ari menatap Rani. Tapi Rani menolak, ia berkata bahwa sudah ada yang menjaga dan bersamanya saat ini. Sosok yang selalu datang membantu dan memperhatikannya. Ia yang memberikan Rani kesempatan melakukan hal ini dan ia pula yang selalu mengingatkan Rani akan waktunya yang hampir habis. Rani sedang membahas sosok malaikat maut yang selalu bersamanya. Meskipun Rani sering kesal dengan kehadirannya yang menjengkelkan tapi sebenarnya Rani mensyukuri atas apa yang sudah ia berikan pada Rani. Terkadang Rani terpikir sangat dekat dengan sosok itu. Dia terlihat asing tapi sebenarnya ia sangat dekat.
Tiba-tiba Mitha datang. Mereka semua berkumpul di sana. Risa, Raka, Roh Rani, Roh Raka dan juga Mitha. Raka terkejut melihat Mitha sebab ia tidak tahu jika Mitha adalah adiknya Ari. Mitha langsung saja memaki Risa. Ia menumpahkan semua kebencian padanya. Ia menyebutnya sebagai pembunuh, wanita penggoda dan juga jal*ng.
Raka menyuruh Mitha menghentikan ucapannya. Apa yang diucapkan Mitha sangat menyakitkan terdengar, terlebih lagi Risa bukan seperti yang disebutkan Mitha. Raka memperingatkan Mitha bahwa yang terjadi bukanlah kesalahan Risa. Ini hanyalah takdir. Seperti yang Mitha katakan padanya, maka harusnya Mitha juga terima itu. Ari dan Rani sudah tenang dan kita harus mengikhlaskannya. Tapi Mitha menolak, kata melupakan tak pernah ada di kamusnya. Apalagi harus memaafkan seseorang yang sudah merenggut kebahagiaannya. "Dia tidak akan bisa bahagia, jika aku tidak bahagia. Dia harus lebih sengsara daripada yang aku rasakan."
Hati Risa sakit mendengarnya. Ia berlari menjauh pergi dari tempat itu. Roh Rani bergantian menatap Ari dan Risa, Mitha dan Raka. "Seperti janjiku, aku akan membuat Mitha menerima Risa. Sekarang kau kejarlah Risa," ucap Rani. Roh Ari pergi mengejar Risa dan diikuti juga oleh Raka. Saat itulah Rani yakin bahwa ia harus mempersatukan Risa dengan Raka. "Benar, Raka. Kau juga kejarlah Risa. Buat dia bahagia agar dirimu juga temukan bahagia. Maafkan aku pergi terlebih dahulu. Pastikan dirimu lebih bahagia dengan orang yang kamu cintai."
Di pusara Ari yang tinggal kini hanyalah Mitha dan roh Rani. Mitha menangis tersedu-sedu sambil berbicara dengan pusara Ari. Rani ikut merasa kasihan padanya. Tapi Mitha tidak boleh pula terlalu larut dalam kesedihannya. "Kenapa tidak ada satu pun orang yang berpihak padaku? Kenapa selalu aku yang ditinggalkan sendiri. Dahulu kakak yang meninggalkanku dan memilih perempuan itu. Kini kenapa Raka juga lakukan hal demikian? Apa aku tidak pantas mendapatkan cinta dan kebahagiaan?" Mitha terhayut dalam tangisannya.
Selagi mereka pergi. Tatapan Mitha penuh benci. Dia tidak akan membuat Raka bersama dengan Risa. Ia akan selalu membuat Risa sengsara. Dendam telah merubahnya menjadi sangat kejam. "Jika aku tidak bisa memilikinya, maka dia juga tidak akan bisa!"
*****
Risa merasa tidak enak saat orang-orang mengira bahwa Raka suaminya. Tapi dia juga tak bisa memungkirinya, Raka sangat baik dan sudah berjanji padanya. Hal itu membuatnya perlahan kembali menginginkannya. Apakah ia bisa memperbaiki masa lalu?
__ADS_1
Hanya satu kesalahannya saat itu, ia tidak bisa tegas dengan perasaannya. Dia tidak percaya diri bahwa saat itu ia bisa mendapatkan Raka. Namun bersama Ari, dia juga perlahan merasakan ketenangan. Oleh karena itu, hal ini terjadi. Cinta Ari telah tumbuh membuahkan hasil di rahimnya. Itu bukanlah kesalahan, dia tidak ingin menyebutnya sebagai kesalahan ataupun keterpaksaan. Dia mencintai dan menyayangi calon bayinya. Ini adalah amanah yang diberikan Tuhan untuknya, ia harus menjaga dan menjalankannya dengan sepenuh hati. Tuhan mempercayainya sebagai perempuan yang sempurna.
Setelah pulang dari Supermarket, mereka beralih jalan menuju Rumah Baca. Sepanjang jalan Risa mencuri lirikan memandang wajah rupawan yang dimiliki Raka.
"Aku tahu kalau aku tampan, Sa. Jadi gak usah terlalu lama-lama dilihat, ntar kamu malah muntah. Hehehe." ucap Raka menyadari bahwa Risa sudah menatapnya dari tadi. "Kamu tahu kan karena ketampananku itulah Dila mengejar-ngejar aku." Raka bercanda dengan membawa kenangan masa lalu.
Risa tertawa getir dengan kepercayaan diri Raka, "Kamu masih ingat Dila. Aku pikir kamu udah lupa sama dia." Raka menjawab bagaimana ia bisa melupakan masa lalu. Tidak mungkinlah, "Kata orang-orang masa SMA masa paling indah. Bagaimana aku bisa lupa, apalagi sama kebaikan kamu saat itu, Sa. Dulu hingga sekarang aku sangat bersyurkur bisa bertemu denganmu, Sa." Raka mengucapkannya dengan tulus. Ia bergantian menatap Risa kemudian kembali fokus pada jalanan.
Risa tersipu. Dia baru saja mendengar kalimat pujian yang setelah sekian lama ia tak dapatkan. Entah kenapa juga jantungnya ikut berdegup kencang saat Raka melontarkan pujian itu. "Aku serius dengan janjiku, Sa. Aku akan menjaga dan melindungi kalian." Raka mengalihkan pandangannya sejenak dari jalanan bergantian menatap perut Risa.
Risa tahu maksudnya. Raka pasti hanya mengasihaninya. Tidak mungkin Raka memiliki perasaan dan mencintainya. Dia tahu betul bahwa saat ini sudah ada perempuan baik di hati Raka yang mengisi relung terdalamnya. Cintanya pada gadis itu pasti sangat berarti. Mereka juga terlihat saling mencintai. Buktinya goresan pada bangku di bawah pohon pinus di Rumah Baca tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Masih ada dan sangat jelas sebagai saksi cinta suci mereka.
"Terimakasih, Raka. Aku sudah banyak merepotkanmu. Aku sudah sangat bersyukur kamu memberi kami tempat tinggal. Jadi kamu tidak perlu mengurus kami. Aku bisa sendiri mengurus diri dan calon anakku. Kamu tidak perlu lagi datang ke Rumah Sakit, aku bisa datang sendiri. Aku gak enak harus membuat kamu seolah menjadi ayah dari anakku. Kamu pasti tidak nyaman dengan hal itu." Risa ingat betul saat di Rumah Sakit tadi, semua orang mengira Raka suaminya.
"Kamu gak perlu merasa gak enak, Sa. Aku senang melakukannya." Raka tidak keberatan. Risa dan calon anaknya sudah dia anggap sebagai keluarga.
__ADS_1