Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
30 Maret


__ADS_3

Sekarang tanggal 30 Maret. Hari ini selalu menjadi hari dimana diadakannya pertunjukan oleh anak-anak di Rumah Baca. Rani sudah mempersiapkan segalanya. Sudah tahun ia mempersiapkannnya.


Terkadang tanpa ia izinkan, Raka juga datang ikut membantu. Jika sudah berhubungan dengan anak-anak Rani tak dapat menolak keberadaan Raka. Ia harus berpura-pura dekat dan baik kepada Raka. Sehingga anak-anak tidak curiga.


Sebelum pertunjukan dimulai, Rani menyempatkan diri mengunjungi peristirahatan Raka. Rani menatap pusara Raka dengan seksama. Tertulis di batu nisan nama RAKA ANDIKA. Lalu Rani mengusap pusara itu dan sekelebat kejadian dua tahun lalu terlintas. Air matanya tak sadar telah membasahi kedua pipinya setelah mengingat apa yang terjadi. Lalu perlahan Rani mengusapnya.


"Semoga kamu tenang, Ka." ujarnya sambil menabur bunga kamboja di atas makam Raka.


Angin semilir bertiupan menghembus dedaunan kering yang berserakan. Rani menanyakan apakah Raka baik-baik saja disana tanpa dirinya setelah menabur bunga kamboja. Ia tahu Raka akan meninggalkannya, tapi ia tak pernah tahu Raka meninggalkannya saat ia tak siap. Takdir benar-benar kejam dan tak memihak padanya.


Kini ia mencoba bertahan hidup, menjalani hari-harinya yang terasa membosankan. Seperti pesan terakhir Raka. Meskipun tanpa kehadiran Raka dalam hidupnya. Rasanya ia takkan dapat hidup dan melupakannya. Orang yang mengajarkannya makna kehidupan. Orang yang memberitahunya bahwa hidup ini indah. Orang yang sebenarnya mencintainya, kini tak ada lagi di sisinya. Tentu ia belum bisa melupakan Raka, malaikat tak bersayapnya. Hal yang paling ingin dia dengarkan, Aku mencintaimu.


"Aku selalu dapat tersenyum karena ada dirimu, Aku merasa paling bahagia karenamu. Melalui dirimu hidupku pun terasa hidup. Aku tahu kau juga mencintaiku," lirih Rani menatap pusara Raka. Ia sudah mengikhlaskan kepergian Raka. "Raka, ketika jantungmu berhenti berdetak. Aku pikir jantungku juga akan berhenti berdetak. Tapi akhir-akhir ini, jantungku terus saja berdetak sendiri. Bukan karenamu, tapi karena seseorang. Bagaimana bisa seperti itu?"


"Maafkan aku. Kamu takkan hilang dari hatiku. Namun di hadapanmu aku tak bisa berbohong. Apa aku boleh mencintai Raka lain selain dirimu? Bisakah aku memberitahunya?" ucap Rani sambil berlinang air mata mengakui perasaannya.


"Maaf, aku menangis lagi" ucap Rani tegar sambil menyeka air mata di pipinya. Lalu Rani mengirim doa untuk Raka sebelum ia pergi.


Sesampainya Rani kembali ke Rumah Baca, Raka sudah berada di sana. Persiapan untuk pertunjukkan sudah selesai.


"Kak Rani dari mana saja?, mas Raka udah dari tadi nungguin." ujar seorang anak. Rani tersenyum dan mengacak rambut anak tersebut.

__ADS_1


"Yaah jangan diacak-acak,, Rambut Dido udah dirapiin sama mas Raka tadi," gerutu anak tersebut.


"Gak apa-apa Dido, nanti mas Raka rapikan lagi. Sekarang Dido siap-siap gih. Bentar lagi mau tampilkan?" ujar Raka


"Semua sudah siap." Raka mendekat dan melaporkan pada Rani bahwa pertunjukkan sudah dapat dimulai.


"Terimakasih." ujar Rani datar.


Pertunjukkan pun dimulai. Anak-anak dengan baik menampilkan pertunjukkannya. Banyak tamu yang datang, bahkan orang-orang yang terpandang dibidangnya ikut hadir memeriahkan pertunjukkan.


"Inilah yang selalu diimpikan Raka, hingga Rani selalu menjaga impian ini." mata sang ibu pengurus Rumah Baca ini berkaca-kaca mengucapkan kalimat tersebut di sebelah Raka. Lalu Raka menoleh menatap ibu tersebut.


"Bu, saya mencintai Rani." ujar Raka kepada sang ibu sambil menaruh tangannya diatas tangan sang ibu.


"Saya ragu Rani akan menerimanya, Bu." Raka sedikit pesimis. Ia takut Rani masih menolaknya. Mengingat masa lalu Rani yang penuh cerita membuatnya bimbang untuk melanjutkan perasaan ini atau tidak. Di tambah lagi sikap Rani yang dingin dan terus menghindar. Apa masih bisa Rani menerima perasaannya?


"Nyatakan secepatnya atau tidak sama sekali, kesempatan hanya datang sekali. Ibu merestui kalian, Ibu yakin Rani akan bahagia bersamamu." seru sang ibu penuh harap. Ia mengingat pesan terakhir Raka pada Rani saat itu. Menurutnya Raka yang ada dihadapannya ini sesuai dengan apa yang disebut Raka saat itu.


Raka mengangguk. Ia harus mengumpulkan keberanian untuk mengungkapnya. Jika tidak sekarang, kapan lagi. Ia pasti bisa menggantikan Raka di hati Rani. Ia harus yakin perasaan Rani pasti ada untuknya.


Raka memberanikan diri naik ke atas panggung, saat pertunjukkan terakhir usai. "Selamat malam semua.. Maaf saya menyita waktu hadirin semua." suara Raka menggema.

__ADS_1


Rani yang mendengar langsung menghentikan aktivitas nya, "Apa lagi yang akan dilakukannya" Rani ngebatin dan terlihat gusar.


"Saya akan menyatakan sesuatu. Semoga orang yang saya sebut akan suka. Dia selalu meminta agar saya menjauhinya, dia tak pernah suka jika saya mendekat dan ikut campur urusannya. Tapi saya akan jelaskan, kenapa saya senang di dekatnya, kenapa saya selalu ingin ikut campur urusannya. Semakin dia meminta saya untuk membencinya dan mendorong saya untuk terus menjauhinya. Maka dia tak pernah tahu semakin banyak pula rasa cinta saya untuknya. Semakin saya ingin melupakannya maka semakin saya terus mengingatnya. Saya mencintainya dengan sepenuh hati ini." Ucap Raka berterus terang.


Rani hanya diam mematung. Ia tidak bisa apa-apa. Anak-anak dan semua tamu mendengarkan dengan seksama.


"Saya tidak tahu apa artinya cinta, tapi setelah saya melihatnya dan berada di dekatnya. Saya rasa itulah artinya cinta. Saya tak pernah suka didekati oleh perempuan sebelumnya. Tapi saat bersamanya, saya senang. Jika dia tak mau mendekat, maka saya yang akan mendekat. Sampai ia lelah menolak keberadaan saya, maka saya takkan pernah menyerah untuk terus berada di dekatnya. Untuk pertama kalinya, saya menyukai seseorang hingga mengubah saya menjadi seperti orang kehilangan akal. Benar sekali, dia membuat saya tergila-gila." Raka melanjutkan


Rani tercengang atas ucapan Raka. Sebegitu besarkah arti dirinya?


"Rani, aku mencintaimu." Raka melempar tatapannya tulus ke arah Rani setelah ia mengucapkan narasi nan panjang tersebut.


Lalu semua orang ikut menatap Rani, bertepuk tangan dan menyerukan agar Rani menerima perasaan Raka. Rani yang malu langsung berlari meninggalkan tempat pertunjukkan. Raka segera menyusulnya. Ia mengejar dan menarik tangan Rani hingga membuat Rani berbalik arah. Kali ini jarak mereka kembali berdekatan. Terdengar hembusan nafas Raka terengah-engah. Namun Rani malah mendorongnya menjauh.


"Aku sudah berakhir dengan Mitha," kalimat itu langsung keluar dari mulut Raka tanpa tersendat.


Rani berusaha untuk tidak peduli. Dia tidak boleh goyah. Ia harus menyanggah apapun yang akan dikatakan Raka. Hingga Raka tak curiga dengan perasaannya yang sesungguhnya. Kemudian Rani menghempaskan tangannya yang dipegang Raka.


"Aku tidak peduli." ucap Rani kasar


"Tidakkah kau tersentuh dengan apa yang sudah ku lakukan? aku mencintaimu. Aku katakan, aku mencintaimu Rani." Raka menekankan kalimatnya.

__ADS_1


"Tidak semudah itu disebut cinta. Itu hanya rasa penasaranmu padaku. Kelak jika kau sudah puas dengan itu, maka tidak akan ada lagi perasaan itu. Jauhi saja aku, bukankah sudah puluhan kali ku katakan JAUHI AKU, JANGAN DEKATI AKU, AKU TIDAK MENYUKAIMU. Jadi jangan berpikir itu CINTA, itu hanyalah ambisimu sesat. Aku beritahu kamu satu hal. Apa artinya Cinta? Cinta hanyalah sebuah ambisi." Rani menolaknya dengan setiap tekanan pada kalimat yang keluar dari mulut nya.


__ADS_2