
"Hei! mana janji tadi, bukankah katamu akan memberi tahu namamu sekarang," wanita itu mendorong-dorong tubuhnya yang sedang tertidur.
Gangguan yang selalu di dengar oleh pria itu akhirnya memberitahukan namanya sekali lagi dengan lantang.
"Ok-ok, kalian bisa panggil aku Shin," Shin kembali melanjutkan tidurnya kembali.
"Hah!! hanya itu saja!" wanita itu marah karena ucapan yang sangat sederhana dari Shin.
Pada akhirnya, mereka memperkenalkan namanya masing-masing pada Shin, setelah dia memberitahukan nama miliknya.
Ichiro, Akira, Ken, Tetsuya, dan yang terakhir koyuki. Mereka berpetualang ke arah Utara sesuai arahan dari Kasim veder.
Mereka sudah di bekali dengan kemampuan yang sudah di latih selama 1 bulan penuh, hanya saja mereka masih kurang dalam hal pengalaman bertempur secara langsung.
Shin tidak ikut acara mengobrol mereka, karena ia hanya ingin bersantai selagi ada waktu, entah sampai kapan kedamaian itu masih bertahan.
Mereka semua akhirnya sampai di daerah Padang rumput, sebuah tanaman yang kurus tapi dengan ketinggian yang hampir 2 meter.
Tempat itu ditinggali oleh sekawanan serigala bertaring, gigi runcing di kedua sisi dari serigala tersebut sangat tajam sampai bisa menembus pertahan armor.
Walau sebenarnya serigala itu di anggap makhluk yang mudah di hadapi, tapi bagi para petualang yang baru memulai karir, sekawanan serigala bertaring itu adalah lawan yang sangat sulit dilawan oleh mereka.
Secara kebetulan serigala bertaring itu menghalangi perjalanan mereka. Mau tidak mau mereka harus membereskan semua serigala tersebut, Shin hanya bersembunyi mengamati ke 5 orang yang sedang membereskan hambatan tersebut.
Jumlah awalnya hanya 5 di saat mereka menghabisinya, tapi perlahan-lahan jumlah itu bertambah setelah menghabisi serigala tersebut.
Ichiro, Akira dan Tetsuya mulai kelelahan dengan jumlah serigala bertaring yang terus bertambah.
Koyuki tidak bisa membantu mengurus sekawanan serigala itu dengan kemampuan miliknya, dia hanya memiliki sebuah kemampuan untuk meng-heal teman yang terluka.
Sedangkan Ken yang menggunakan belati miliknya, dia sulit masuk ke dalam celah pertarungan, celah tersebut selalu di tutup dengan rapih seakan-akan itu adalah umpan untuk dirinya masuk ke perangkap musuh.
Shin yang tidak tega dengan teman perjalanannya, ia mulai menggunakan pedang miliknya yang berada di pundaknya.
Tangan kanan Shin mengangkat ke atas sebelah kiri kepalanya.
__ADS_1
"Kalian semua menunduk!!" ucap Shin dengan lantang dan tegas.
Shin mulai mengayunkan pedangnya dari sisi kiri bagian atas kepalanya, kemudian menggerakkan pedangnya dari sisi kiri ke kanan samping bagian tubuh dirinya dengan cepat.
Menciptakan sebuah tebasan angin dari arah tebasan pedang tersebut, semua serigala bertaring itu terbelah menjadi dua seketika beserta darah yang tiba-tiba berhamburan ke mana-mana.
Mereka terkejut dengan kemampuan yang di miliki Shin saat menghabisi sekawanan serigala bertaring tersebut.
"Kenapa tidak kalian berlatih saja di sini, sekalian ini akan menjadi tepat istirahat kita dalam beberapa hari," Shin menyarankan untuk meningkatkan pengalaman bertarung mereka sebelum sampai di tujuan.
"Ok! tapi kita harus bertanya dulu pada yang lain," ucap koyuki pada Shin.
"Aku setuju!" Akira mengangkat tangannya ke atas.
"Tentu saja! ada hal yang ini aku lakukan di sini," Tetsuya dengan senang hati untuk tinggal di Padang rumput beberapa hari.
"Kalau begitu, aku akan mencari beberapa batang kayu sekarang," Ichiro langsung mengambil tugas lain untuk membuat tempat bersandar.
Ken tidak mengeluarkan suara sedikitpun saat di tanya oleh koyuki, dia hanya menganggukkan kepalanya seakan-akan menyetujuinya.
"Kalau kalian semua setuju maka dalam beberapa hari kita akan menginap di sini. Apa tuan juru kemudi tidak keberatan dengan saran kita," Shin mendatanginya secara langsung.
"Setuju. Ok semuanya kalian bebas melakukannya, kalau ada masalah aku akan datang menolong," Shin melompat ke atas kereta kuda dan bersandar di atasnya.
________________
Mereka perlahan-lahan menghabisi satu demi satu serigala bertaring itu, dengan sedikit memberikan sebuah umpan daging yang di beli sebelum meninggalkan akademi kerajaan vellenia.
Level mereka pun perlahan meningkat sedikit, status window mereka hanya bisa di lihat olehnya sendiri. Maka tidak mungkin seseorang bisa melihat kemampuan mereka.
Perburuan mereka terhenti sementara waktu, waktu yang sudah menjelang malam beserta lapar yang terus berbunyi di perut mereka.
Untungnya Ichiro sudah mempersiapkan beberapa kayu yang sudah di bawa olehnya. Mereka membuka tas mereka yang berisi daging yang sudah di bungkus dengan beberapa daun.
Mereka memanggang daging tersebut dengan sebuah batu yang sudah di panaskan dari bara api dibawah batu.
__ADS_1
Perlahan aroma dan warna daging mulai terlihat jelas di mata mereka, warna berwarna merah sedikit kehitaman dengan tekstur yang sudah semakin lunak membuat air liur mereka menetes di mana-mana.
Ada 6 daging yang sudah matang di batu panas, mereka mulai mengambil masing masing 1 daging untuk di makan, karena ukuran daging tersebut sangat besar sampai membuat perut mereka kenyang seketika.
Mereka tertidur di samping api yang masih menyala, Shin secara tidak sengaja mendeteksi seorang bandit yang kebetulan lewat di tempat mereka.
Sesegera Shin pergi menemui para bandit tersebut untuk mengusirnya, tapi para bandit tersebut menolak secara langsung, mereka menyerang dengan menggunakan senjata tajam di tangan mereka.
Shin mematahkan pergelangan tangan dan kaki mereka yang berani menyerangnya.
Salah-satu bandit yang hanya diam melihat temanya terluka, dia meminta Shin untuk membiarkan temannya bebas, dan memberikan sedikit uang di dalam saku kepada Shin sebagai tanda permintaan maaf.
"Bolehkan kami pergi dari sini!" ucap bandit itu yang sedikit ragu-ragu.
"Tentu, silahkan saja," Shin membiarkan mereka kabur dari tempat tersebut.
"Terima kasih tuan rendah hati, kebaikanmu akan kami balasan," seketika mereka lari dengan cepat membawa semua teman bandit nya.
___________
Shin kembali ke tempat kereta kudanya, ia kembali melanjutkan tidurnya dengan tenang tanpa gangguan yang akan datang.
Suara tenang yang di iringi hembusan angin membuat kulit mereka kedinginan, untung sebuah api yang masih menyala membuat tubuh kedinginan menjadi hangat seketika.
Malam pun terlah berlalu dengan damai...
Keesokan harinya...
Masalah lain datang setelah malam, tas yang berisi makanan habis tanpa tersisa. Mereka lupa mengecek jumlah makanan yang mereka bawa sebelum daging tersebut di makan.
Mereka mulai menyalahkan satu sama lain dengan asalan tidak mengecek kembali persediaan mereka.
"Hei! kenapa kalian tidak berburu hewan saja di sana," Shin sedikit memberikan saran pada mereka semua.
"Benar juga, sekarang kita mulai mencari bahan makanan di sana. Shin apa kau mau ikut?" Tetsuya mengajak Shin untuk ikut berburu.
__ADS_1
"Maaf. Siapa yang akan berjaga di sini, bila kita semua pergi," Shin menolak ajakan Tetsuya dengan alasan keamanan tempat mereka.
Bersambung....