
1 Hari setelah meninggalkan kerajaan delona...
Mereka pergi berkelana dengan membawa sejumlah uang yang sangat banyak di dalam kereta kuda tersebut.
Koyuki, Yui dan Lina tampak terlelap tidur dalam posisi duduk setelah melakukan perjalanan tanpa henti selama satu hari penuh.
Ketika mereka hendak melewati hilir sungai dengan menggunakan jembatan tersebut, beberapa sekawanan orc menghadang tepat di tengah jembatan sambil mengacungkan senjata kearah Shin beserta temannya.
"Berhenti manusia, kalian tidak boleh lewat sebelum membayar upeti jalan ini,"
Orc itu menaruh senjatanya ke bawah jembatan, mereka meminta sejumlah uang pajak untuk bisa melewati mereka.
Tetsuya, Ken dan Akira sudah mengambil langkah yang siap menyerang kapanpun mereka lakukan, tetapi Shin menahan mereka bertiga untuk tidak bertindak gegabah.
Karena Orc itu bisa berkomunikasi dengan manusia, Shin mencoba berdiskusi kepada sekawanan orc tersebut, dan mencoba menyelesaikan masalah tersebut dengan damai.
"Kenapa kalian bisa berada di sini, bukankah ras orc itu tinggal di lereng pegunungan dengan hewan yang hidup di sekitarnya,"
Shin dengan tegas bertanya kepada ketua kelompok orc tersebut.
"Kita terpaksa pergi meninggalkan tempat itu lantaran sang raja iblis sudah menduduki wilayah itu untuk di jadikan markas mereka. Kita para orc mau tidak mau harus mengikuti perintah raja iblis itu,"
Orc itu dengan senang hati menjelaskan situasi mereka kepada Shin, tetapi Shin sedikit bingung untuk mengambil tindakan selanjutnya, lantaran itu mengingatkan pada masa lalunya yang pernah hidup dengan sekawanan goblin.
"Ok, aku akan memberikan sejumlah uang dan beberapa makanan yang cukup untuk 1 bulan penuh," Shin mengambil keputusan yang paling tepat sesuai situasi.
Shin bergegas kembali ke kereta kuda miliknya dan memerintahkan mereka untuk melewati jembatan tersebut dengan imbalan uang sebagai pembayaran pajak jalan menurut para orc tersebut.
Tetapi, salah satu temannya yaitu Lina yang masih tidak percaya dengan perkataan orc itu secara langsung, dirinya tetap memegang sebuah belati di tangannya untuk berjaga-jaga kalau situasi tidak terduga itu muncul.
Kereta kuda itu melintas melewati sekawanan orc itu dengan mudah tanpa ada masalah sedikitpun, Shin mengambil beberapa kotak makanan berukuran sedang dan sejumlah uang sebesar 20 gold kepada ketua orc.
Tetsuya beserta temannya, yang melihat kejadian tidak biasa kepada para monster termasuk orc yang biasanya sedikit agresif saat manusia mendekat, tetapi sekawanan orc itu malah bersikap santai tanpa niat untuk membunuh manusia tersebut.
__ADS_1
"Tunggu manusia yang baik, aku sebagai ketua dari kelompok orc ini akan memberikan sedikit informasi yang mungkin akan berguna untuk kalian," ucap orc sambil memindahkan uang dan makanan ke kawanan dirinya.
"Apa itu?" Shin penasaran denhan informasi tersebut.
"Ketika kalian melihat iblis dengan wujud wanita, usahakan untuk tetap tegar saat bertatap muka, dan hindari kontak mata dari iblis itu," orc itu meninggalkan Shin yang hendak mencerna informasi yang di berikan olehnya
"Hei, apa maksudmu tadi," penjelasan yang di berikan kepadanya masih belum bisa di pahami olehnya.
"Hei Shin! apa yang kau lakukan di sana, ayo segera pergi dari sini," koyuki tiba-tiba bangun setelah kereta kuda itu berhenti setelah melewati jembatan tersebut.
Tanpa membalas perkataan koyuki, Shin bergegas berlari ke kereta kuda miliknya untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah mereka sampai di Padang rumput yang sangat luas dan hanya terlihat beberapa pohon saja yang tumbuh di tempat tersebut.
Mereka memutuskan untuk berhenti untuk mempersiapkan tempat istirahat di waktu malam tiba.
Ichiro, Ken dan Tetsuya mencari beberapa ranting dan kayu yang terlihat di depan mata mereka.
Shin pergi berkeliling di Padang rumput tidak jauh dari tempat mereka singgah, sesekali dirinya membunuh beberapa monster yang mirip babi.
Ia membawa satu mayat monster babi di pundaknya dan melemparnya ke arah temannya yang sedang menyusun alat pembakaran sampai membuat beberapa orang terkejut termasuk koyuki.
"Hei sialan! sekali lagi kau membuatku kena serangan jantung lagi, kau akan tahu akibatnya," dengan sikap jengkelnya, koyuki mengintimidasi Shin sambil menekuk beberapa sendi di telapak tangan miliknya.
"Ok-ok, lain kali aku tidak akan seperti itu," Shin secara respon takut dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
Lina tertawa melihat perdebatan mereka berdua, dirinya menikmati sensasi yang tidak pernah ia temukan saat masih tinggal di kerajaan delona.
"Lina, kenapa kau juga seperti itu!" dengan lemas Shin bertanya.
"Entahlah," Lina tetap tersenyum sambil menyembunyikan tawanya dengan tangan miliknya.
"Hah!"
__ADS_1
Mereka kembali membagi tugasnya untuk membelah, memotong, dan memisahkan beberapa organ yang tidak bisa di makan oleh mereka.
"Apa kalian menyukai daging besar atau daging yang di potong kecil untuk di bakar?" Shin bertanya kepada mereka untuk menentukan ukuran daging.
2 di antara lain memilih daging yang di potong kecil, sedangkan mereka lebih memilih daging besar yang di bakar secara langsung.
Tentu mereka memiliki alasan tersendiri karena memilih daging besar tersebut, tekstur kenyal dengan tingkat kepadatan daging saat di bakar langsung membuat cita rasa daging itu semakin nikmat tidak terhingga.
Mereka memulai memotong daging dengan ukuran sedang dan menaruh potongan daging itu di atas batu panas beserta api yang menyala di dalamnya.
Setelah selesai menaruh semua potongan daging tersebut ke dalam batu panas beserta api yang terus menyala.
Mereka harus menunggu sekitar 5 menit untuk membalikan posisi agak tidak terjadi gosong, sebab daging yang terlalu di masak sampai berwarna hitam dengan tekstur yang sedikit agak keras membuat rasa daging tersebut pahit saat menggigitnya.
Yui yang sedang memandang langit, seketika se-ekor naga terbang melewati mereka dengan cepat tanpa memberikan.
"Woahh, ada naga yang melewati kita," Yui penasaran dengan naga tersebut.
"Bukankah itu....! ucap Lina yang terpotong saat temannya datang untuk menyela penjelasannya.
"Hei, coba lihat dengan teliti, di atas naga itu ada seorang manusia!" Ken berteriak kegirangan sambil menatap tajam ke arah naga yang sedang melintas.
"Dia seorang saint dari gereja suci di kekaisaran, entah alasan apa dirinya pergi dengan cepat menggunakan naga tersebut," Lina melanjutkan penjelasannya.
"Apa kita bisa mendapatkan naga seperti dirinya?" Ken mengungkapkan keinginannya kepada mereka.
"Itu mustahil, hanya ada beberapa naga saja yang masih hidup di benua ini. Naga yang dia tunggangi itu adalah naga jinak yang sudah di rawat sejak masih kecil," Lina menjelaskan soal naga kepada Ken.
Hehe....
"Jangan terlalu berharap lebih tentang keinginanmu itu," ucap Shin sambil mengendarai kereta kuda miliknya.
Bersambung....
__ADS_1