
"Tuan Putri, itu sedikit kelewatan. Mengatai seseorang sebagai iblis itu——"
"Dia benar-benar ras iblis! Dia memiliki afinitas elemen kegelapan! Apa kalian tak merasakannya?" berang Putri Vania. Ia kemudian mengeluarkan pedang Rapier-nya.
"Aduh, aduh. Putri! Kau sepertinya haus perhatian!?" batin Rito sambil melirik ke sekitar. Ia dan Putri Vania sudah menjadi bahan tontonan.
"Akan kubuktikan bahwa dia benar-benar bukan manusia!" Sang Putri menghunuskan pedangnya pada Rito. "Mengakulah!"
Rapier milik Putri Vania mulai berpendar biru. Sang Putri menguatkan kuda-kudanya.
"Enhancement——"
"Distrub Magic!" teriak Xyro.
Sedangkan, Ogida langsung membekuk Putri Vania dan mengarahkannya di lantai. Gadis itu kesakitan ketika kedua pergelangan tangannya ditekan.
"Maaf, Anda yang sudah memaksa kami harus berbuat seperti ini!" ucap Ogida, kemudian Xyro mengikat tangan Putri Vania dengan sihirnya.
"Pangeran Venill dan seluruh keluarga Anda pasti kecewa melihat ini!" Xyro sedikit prihatin menatap Putri Vania.
"Insiden beberapa tahun lalu sepertinya masih membekas." gumam wanita berambut biru itu dengan pelan.
Putri Vania kemudian dibawa oleh Xyro dan Ogida pergi dari aula. Sedangkan Rito diurus oleh beberapa guru. Statusnya di akademi lumayan tinggi karena ia adalah pahlawan, yah, hampir menyamai keluarga kerajaan. Namun, infomasi ini hanya diketahui oleh para petinggi akademi.
"Kenapa Putri Vania bisa menyangka kamu adalah iblis? Apakah kamu melakukan sesuatu sehingga disangka begitu?" tanya pria tua yang merupakan guru paling senior di akademi.
Rito reflek menggeleng. "Kami bahkan baru bertatap muka kemarin."
"Begitu, ya? Hmm ... yah, tolong jangan dendam pada Putri Vania!" Pria tua itu berucap lembut. "Ada suatu insiden yang menyebabkannya sangat membenci bangsa iblis."
__ADS_1
"Ya, saya mengerti."
Guru itu tersenyum, "Sekali lagi, selamat datang di akademi ini, Tuan pahlawan!"
Rito dengan sedikit segan mengangguk. "Yah, meski Tuan Putrinya tidak ramah, juga beberapa siswa ... tapi, sepertinya guru-gurunya masih pada waras." batinnya.
Guru itu dan beberapa guru lainnya kemudian pergi untuk mengurus kelas mereka masing-masing. Sejatinya mereka adalah wali kelas.
"Naga, aku masih heran. Kenapa si Putri bisa tau aku memiliki afinitas sihir kegelapan? Padahal guru-guru di akademi ini saja bahkan tak sadar." Rito mengubungi Chaos Dragon lewat telepati.
"Yah, mungkin jawabannya ada di masa lalu. Dia pernah terlibat suatu insiden dengan iblis." balas si naga.
"Huh, sial! Gadis itu membuatku penasaran."
Setelah percekcokan kecil itu, Rito dan beberapa siswa baru yang memilih tetap di tempat duduknya, akhirnya didatangi oleh seorang gadis berambut hitam.
"Perkenalkan, namaku adalah Karen. Aku yang akan mengurus kalian untuk satu jam kemudian." ucap gadis dengan mata merah menyala itu. Ia menatap satu per satu siswa di sana.
"Y-ya. " ucap mereka serempak, namun agak ragu-ragu. Penyebabnya adalah sedikit pangling melihat perempuan secantik dirinya. Tak peduli laki-laki atau perempuan, mereka tetap terpedaya oleh penampilan Karen.
"Hmm ... sepertinya langsung saja, ya?! Kita pindah ke pusar pelatihan. Hari ini kalian harus sudah melakukan pembagian kelas dan beberapa hal lainnya."
Karen memimpin jalan keluar dari aula.
Setelah berjalan beberapa menit, rombongan Rito sampai di sebuah bangunan besar. Ya, itu adalah pusat pelatihan di akademi. Di sanalah para siswa melatih bakat-bakatnya, tak terikat hanya dengan sihir dan pedang.
"Sebelum masuk. Aku ingin bertanya ... kenapa kalian tak ingin memilih salah satu dari divisi yang ada? Apa alasan kalian ingin bisa mahir pada kedua divisi itu?" tanya Karen menoleh ke belakang, menatap mereka untuk mengharap jawaban.
Semua siswa lantas menjawabnya. Kebanyakan karena ingin mahir di kedua bidang itu dan ajang pembuktian. Namun, Rito memiliki alasan lain.
__ADS_1
"Aku hanya bingung, itu saja. Mau penyihir atau ksatria ... susah untuk menentukannya. Jadi, aku pilih jalan tengah." balas Rito terkesan acuh.
"Hoh, begitu. Cukup dangkal, ya? Tapi, alasanmu cukup masuk akal. Ngomong-ngomong, aku juga dulu tak bisa memilih. Kita sama ... jadi, aku sungguh menantikan sepak terjangmu di akademi ini, umm, Rito, 'kan?"
Sang pemilik nama mengangguk.
Karen lantas tersenyum, "Baiklah, ayo kita masuk. Kehidupan akademi kalian dimulai dari sini."
Tanpa sepengetahuan orang lain, seseorang dengan jubah hitam berdiri di puncak salah satu bangunan di ibukota Vellenia, jaraknya beberapa kilometer dari akademi. Ia memantau kondisi akademi.
Dan suara tawa jahat bergema, "Ada beberapa siswa yang bagus."
"Hei, Karen! Apakah kau sekarang menjadi pengasuh bayi?" teriak beberapa siswa.
Ketika rombongan Rito masuk ke dalam pusat pelatihan, mereka dengan cepat menjadi pusat perhatian. Yah, karena mereka datang paling akhir.
Karen menanggapi dengan elegan terhadap ejekan itu. "Sepertinya begitu. Tapi, salah satu dari bayi ini mungkin akan menjadi Elite Class. Level yang tak mampu kalian capai."
Tanpa diduga, Karen melakukan serangan balik. "Mereka ini adalah siswa yang masuk lewat jalur seleksi, lho? Bukannya keren? Mereka beruang dan tanpa mengandalkan uang maupun status keluargamu!"
Situasi berbalik, beberapa siswa yang tadinya mengolok-olok Karen sekarang tersudut. Banyak siswa maupun guru pembimbing yang memerhatikan.
"Cih ... jalur seleksi? Memang apa hebatnya lolos dari sana? Kudengar ujiannya mudah. Aku pun juga bisa!"
"Hoh, begitu, ya? Kau mau mencobanya?" tantang Karen.
"Huh? Apa maksudmu?"
"Kau tak mengerti? Begini ... kau sparing dengan salah satu dari juniormu yang lucu-lucu ini. Silahkan rasakan sendiri." Karen menyeringai.
__ADS_1
Bersambung....