
Rito pun sedikit kagum dengan sikap yang ditunjukkan Karen. "Yah, gadis ini ... lumayan sih. Tapi, benar apa yang dikatakannya. Siswa yang masuk lewat jalur seleksi terasa berbeda dari kebanyakan siswa lainnya." batinnya memerhatikan siswa seangkatannya yang ada di dalam pusat pelatihan.
"Bagaimana? Hitung-hitung untuk melakukan demonstrasi duel. Kau di sini karena ditunjuk oleh guru sebagai peraga, 'kan, Willo?" Karen tersenyum lebar.
Laki-laki dengan rambut berwarna pirang itu menggertakan giginya. Nada bicara Karen terasa meremehkan.
"Gimana, bos? Kau sungguh ingin menerima tantangannya?" bisik salah satu anak buahnya yang ragu.
"Jika aku menolak. Mau di taruh mana mukakku?" berang Willo sampai syaraf di mukanya bermunculan, ia melotot tajam.
"Ayolah, senior. Kami ingin melihat bagaimana caranya memegang dan mengayunkan pedang dengan dengan benar." Karen tertawa cekikikan, ia memegangi perutnya. "Maaf, maaf. Ini sangat lucu, kau tau?"
"Cih, sialan si ****** itu! Dia membuat semua pilihan terasa buruk." batin Willo mengepalkan kuat genggaman tangannya.
"Baiklah, aku terima. Mari kutunjukan caranya berpedang yang baik!"
"Diputuskan!" ucap Karen bersemangat sambil menjentikkan jarinya.
Dipilihlah sebuah area yang cukup luas, Karen membuat lingkaran dengan diameter 10 meter.
Semua orang di pusat pelatihan tak melewatkan kesempatan ini. Yah, meski tantangan duel memang sering terjadi karena itu ajang pembuktian. Para guru pun menonton untuk mengawasi karena was-was jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
"Peraturannya sederhana, tak boleh ada yang keluar dari lingkaran, itu saja!" ucap Karen santai. Ia mulai melihat siswa-siswi junior untuk dipilih untuk duel.
"Semoga saja bukan aku! Aku terlalu malas untuk ikut permainan ini! Apalagi teman-teman sekelas memperhatikan!? Mereka akan curiga jika aku mengeluarkan kekuatanku yang sebenarnya!?" batin Rito yang melihat ke arah para penonton.
"Hei, Karen, siapa lawanku? Siapa pun itu ... aku tak akan memberinya ampun!" ucap Willo yang berupaya menggertak, ia sudah mengeluarkan pedangnya.
"Tunggu, tunggu sebentar. Aku tak ingin ada yang terluka karena hal sekonyol ini. Jadi, kita akan menggunakan pedang kayu." Dari arah penonton mendadak terbang dua pedang kayu. "Terima kasih."
Karen menangkapnya lalu melemparkan salah satunya pada Willo.
"Cih, ini membosankan, kau tau?!" Willo dengan enggan menerima pedangnya.
"Ya, ya. Diam, tak usah protes! Willo lawanmu adalah dia ... kamu bersedia, kan, Kitan?"
Seorang laki-laki keluar dari kerumunan, ia menerima pedang kayunya.
"Berjuang, kalahkan dia!"
__ADS_1
Laki-laki berambut cokelat dan mata hijau itu mengangguk.
"Hoh ...? Kuharap kau tak frustasi setelah melawan seniormu!"
"Saya malah merasa terhormat bisa melawan senior. Itu akan menunjukkan bahwa para orang kaya dan bangsawan itu lemah!" ucap Kitan serius, tersenyum menyeringai.
Semua orang yang mendengarnya tersentak, banyak siswa yang tersindir dan mulai menggumamkan kalimat-kalimat tak sedap pada Kitan.
Kitan cuma menikmati cemooh di sekitarnya dengan senyuman. Ia mulai menguruskan pedangnya pada Willo.
"Kita mulai saja, senior!"
"K-kau! Aku tak akan segan-segan!" berang Willo menggertakan giginya. "Kau sudah menggali kuburanmu sendiri di akademi ini."
"Ya, dan saya yang akan menimbunnya sendiri. Saya tak akan pernah mengizinkan tangan kotor kalian untuk menyentuhnya."
Karen mulai memberi aba-aba untuk memulai duelnya. "Kalian siap? Aku akan melempar sebuah koin, jika sudah mencapai lantai, maka duel sudah dimulai."
Karen melemparkan sebuah koin. Semua orang menjadi tegang, apalagi setelah Kitan memprovokasi seluruh akademi.
Ting ...
"Eh? Tunggu? Apa itu cara memegang pedang yang benar? Si Kitan itu malah seolah-olah sedang menggenggam ... Kapak?" batin Rito.
Ketika Willo dan Kitan beradu pedang, bisa disaksikan bahwa hipotesis yang Rito utarakan tak keliru.
Kitan dalam posisi menekan Willo, ia menggenggam erat pedangnya dengan kedua tangan, dan menekan Willo yang dalam posisi bertahan. Besar tenaga yang dikeluarkan oleh laki-laki berambut cokelat itu sampai membuat tangan Willo gemetaran.
"Ada apa, senior? Tanganmu gemetar? Apakah ini sudah terlalu kuat?" Kitan tersenyum, walaupun wajahnya dibanjiri keringat.
"Tutup mulutmu, sialan!"
Tak kuat menahan tebasan dari Kitan, Willo memutuskan mundur. Namun, tak akan dibiarkan semudah itu. Kitan langsung berlari mengejarnya dan mengayunkan pedang, tapi lebih mirip mengayunkan kapak untuk menebang pohon.
Willo tak bisa menangkisnya.
Buaghh ...
Ia terkena telak pada rusuk kirinya, membuat hilang keseimbangan dan terjatuh. Willo mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Apakah itu sakit, senior?" Kitan tersenyum miring, menopang pedang kayunya di pundak. "Yah, tapi jika ini pertarungan sungguhan ... senior pasti sudah mati! Ayunan pedangku sudah terlatih, karena sejak kecil aku sudah bekerja menebang pohon. Jika tadi itu pedang asli, sudah pasti tubuh senior akan terbelah dua jika tak menggunakan Enhancement!"
Willo mendengar ocehan Kitan dengan kepala tertunduk, ia bisa merasakan tatapan semua orang yang mengelilinginya. Harga dirinya sudah hancur.
"Anak ini lebih kuat dariku? Aku kalah? Itu tak boleh terjadi!" rutuk Willo dalam hati.
"Katamu ... penebang kayu, 'kan? Lalu, kenapa sekarang kau menegang pedang, bukan kapak?" ucap Willo sedikit cekikikan dalam posisinya yang tertunduk.
"Yah, tapi jika senior tak bisa mengalahkan seorang penebang kayu dalam duel pedang, bukannya itu memalukan——"
Syatt ...
"Tak ada yang bilang ini duel pedang!" teriak Willo yang mengayunkan pedangnya yang berpendar ungu ke arah Kitan.
Laki-laki itu terlambat bereaksi dan menyebabkan keningnya tergores. Ia sedikit syok.
"Hahaha ... Karen, kau tak pernah bilang bahwa ini duel pedang, 'kan?" Willo tertawa puas setelah membuat wajah angkuh Kitan menghilang.
Rito melihat Karen tersenyum tipis.
"Aku mengatakan bahwa kalian hanya berduel, itu saja!? Apa kurang jelas?" ucap Karen tersenyum licik.
"Ah, jadi diperbolehkan, ya?" Kitan menghapus darah di keningnya, ia melirik Karen yang tersenyum. "Baiklah, aku ikuti permainannya ... Enhancement!"
Tubuh Kitan mulai diselimuti aura berwarna putih. "Dengar senior, jangan merasa bangga hanya karena bisa menggores keningku? Apalagi tadi menggunakan cara pengecut!" Ia menatap tajam Willo.
"Istilah itu tidak ada di pertarungan sesungguhnya. Semua cara boleh dilakukan!?" Giliran tubuh Willo yang diselimuti aura berwarna ungu.
Sementara itu, Koyuki beserta lain nya yang tampak menikmati cerita Rito pada masa lalu nya saat di akademi membuat mereka bersemangat sampai menempel dekat dengan nya.
Rito yang tampak risih memutuskan untuk berhenti menceritakan masa lalunya, padahal cerita tersebut sudah pada bagian terpenting nya.
"Ayolah Rito, kenapa tidak lanjutkan lagi cerita itu!" ucap terseru koyuki padanya.
"Tidak, cukup sampai di sini saja." balas Rito.
Pas akhirnya Rito semakin kukuh untuk tetap tidak melanjutkan nya. sedangkan mereka tampak lemas terbaring di pinggiran balkon
Bersambung...
__ADS_1