
Akira, Ichiro, Ken, Tetsuya dan Shin berhasil menemukan tempat persembunyian penculik tersebut, tapi tempat itu di jaga di setiap sisi dengan jumlah 5 orang.
Tentu mereka tidak asal masuk menerobos ke tempat yang sudah di jaga ketat, Shin menyarankan mereka untuk masuk lewat belakang rumah tersebut.
Perlahan mereka mengendap-endap dalam pepohonan menuju ke pintu bekalang rumah.
Mereka mengeluarkan senjata berupa pedang, tombak, dan perisai di pundak mereka. Kemudian Ichiro membuka pintu itu secara perlahan tanpa terdengar oleh siapapun.
Ruangan sangat gelap sampai pergerakan mereka terhambat, Akira dan Ken mencari alat penerangan di sekitar ruangan tersebut,
Ketika dalam beberapa puluh langkah ke kanan menghadap dinding, Ken berhasil menemukan lentera yang di gantung di dinding.
Untungnya, masih ada bahan bakar di dalam lentera, Ken menyalakannya secara perlahan dan akhirnya lentera itu menyala.
Ruangan yang awalnya gelap menjadi terang, seketika menemukan bercak darah dan potongan hewan yang tersebar ke mana-mana.
"Ken berhati-hatilah saat melangkah ke depan, mungkin mereka akan menyadari keberadaan kita," Tetsuya menyarankannya untuk memperhatikan langkahnya.
"Ok! tapi di mana tempat mengurung semua orang yang di culik," Ken melangkah dengan pelan sambil membawa lentera nya.
"Tetap perhatikan sekitar tempat ini," Ichiro memberitahukan mereka untuk tetap fokus ke depan sambil memperhatikan area yang sudah kita lewati.
"Aneh, kenapa ini sangat mudah di lalui," perasaan yang tidak enak dalam hati Shin dalam keadaannya saat ini.
"Sepertinya itu pintu masuk ke dalam ruangan lain," ucap Ken sambil mendekati pintu tersebut.
"Tunggu! biar aku yang membuka pintunya, Ken tetap di belakangku," Ichiro dengan sigap membentangkan perisainya ke depan sambil membuka pintu.
Secara kebetulan pintu yang mereka masuk adalah ruangan penjara bagi korban yang di culik.
"Paman, bibi. Mereka sudah datang untuk menyelamatkan kita sekarang!" dengan bahagianya, lili membangunkan kedua orang tua itu.
"Kalian! cepat buka pintu penjara itu," Ichiro dengan tegas menyuruh temannya untuk segera membuka pintu yang terkunci.
Ken mengangkat pedang miliknya ke atas, kemudian Ken mengayunkannya dengan cepat ke arah rantai beserta bunyi bising dari hantaman kedua besi tersebut sampai para penculik itu menyadari keberadaan mereka.
__ADS_1
"Cepat keluar, kita harus pergi dari sini sekarang," Ken berbicara kepada korban yang di penjara.
"Hei Tetsuya, coba lihat anak ini. Bukankah dia mirip dengan foto di misi kita," ucap Shin yang memperhatikan anak tersebut dengan seksama.
Tiba-tiba suara langkah kaki dari dalam pintu itu mulai terdengar semakin keras. Shin beserta temannya bergegas membawa semua korban ke tempat yang lebih aman.
Berpacu dalam waktu, Shin tetap di tempat tersebut sampai semua korban berhasil di selamatkan.
"Hei Shin, apa yang kau lakukan di sana. Cepat, kita harus pergi dari sini sekarang," ucap Tetsuya dengan lantang pada Shin.
"Maaf, jika semua pergi dari sini, mungkin kita akan terkejar dengan cepat. Biar aku yang mempertahankan mereka di sini, kalian bergegas lah kemari jika sudah selesai," balas Shin kepada Tetsuya.
Karena sudah tidak ada waktu lagi untuk berdebat, Tetsuya beserta temannya lain meninggalkan Shin di tempat tersebut seorang diri.
"Bagus! sekarang aku bisa fokus bertarung tanpa ada yang mengganggu," Shin membentangkan pedangnya ke samping tubuhnya.
Pintu itu meledak seketika saat penculik itu keluar dari dalam pintu tersebut. Mereka sangat aneh, pergerakan mereka sangat lambat dan kaku, mereka layaknya seperti zombie.
Shin maju dengan perlahan sambil mengayunkan pedangnya ke sana kemari. mereka tiba-tiba berlari menghampiri Shin yang sedang mengayunkan pedangnya.
Jumlah mereka terus bertambah di saat Shin membunuhnya satu per satu, mereka selalu muncul dari dalam pintu yang hancur tersebut.
"Sial tidak ada habisnya," Shin menggabungkan api hitam ke dalam pedang miliknya untuk meningkatkan daya kerusakan pada lawannya.
Satu sentuhan saja bisa menghanguskan tubuh mereka tanpa tersisa sedikitpun, Shin maju berlari menuju ke pintu yang hancur tersebut untuk mencari asal usul mereka.
Lantas apa yang Shin temukan di dalam sana. Sebuah sarang besar di bawah tanah rumah tersebut.
Sarangnya mirip seperti lebah besar dengan tekstur mirip laba-laba, Shin memblokir pintu tersebut dengan api biasa.
Banyaknya mayat yang tergeletak di segala tempat, ada beberapa mayat baru maupun mayat yang melebihi 5 hari.
Shin secara tidak sengaja menginjak sebuah benda kenyal lonjong berwarna hitam pekat di kakinya.
"Ini mirip seperti kejadian di pulau misterius," Shin menggeser kan kaki kanannya dari benda kenyal hitam tersebut.
__ADS_1
Shin menggunakan ujung pedangnya untuk menyentuh benda lonjong hitam, secara mengejutkan benda itu bergerak seperti ulat pada umumnya.
Perlahan Shin melihat dengan teliti makhluk apa yang bergerak tersebut dengan kedua matanya.
"Sudah kuduga, ini adalah black fly!" Shin membunuhnya dengan apinya.
Black fly sejenis makhluk parasit yang memasuki tubuh inangnya melewati lubang ataupun bekas luka.
Secara bertahap korban yang sudah menjadi inang Black fly akan mati dalam waktu 1 jam, tubuh dan pikirannya tidak bisa di kendalikan oleh miliknya sebelum batas waktu 1 jam berakhir.
Shin membakar seluruh mayat yang sudah menjadi inang Black fly tersebut tanpa tersisa sambil menelusuri ruangan bawah tanah.
"Kurasa ini sudah cukup untuk memberantas akar black fly," Shin membuka pintu terakhir dari semua pintu yang ada.
Aroma busuk yang menyengat hidung Shin mulai menyebar kemana-mana. Shin menutup hidungnya dengan selembar kain yang ia miliki sebelumnya.
Ada 5 mayat yang memegang senjata tajam di tangannya, Shin sedikit demi sedikit maju mendekati Black fly queen yang berada di belakang mayat tersebut.
Seketika mayat tersebut menyerang tanpa peringatan sedikitpun pada Shin yang hendak melewatinya.
Shin tanpa ragu menebas 5 mayat yang membawa senjata tajam itu dengan pedang api hitam miliknya.
"Siapa kau wahai manusia yang berani membunuh anak-anak ku!" dengan nada kasar dari black fly queen.
"Tentu saja untuk membunuh kalian semua, jadi terimalah kematianmu sekarang," Shin mengacungkan pedangnya ke arah black fly queen dengan angkuh.
Hahaha....
"Ketika kau sudah masuk ke dalam sini. Kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup," ucap dengan angkuh black fly queen pada Shin.
"Apa yang kau maksud, tentu aku bisa keluar dari sini setelah membunuh terlebih dahulu," Shin membalas perkataan black fly queen.
"Cih! anak-anak serang! kemana semua anak-anakku?" black fly queen bingung dengan anak-anaknya yang tidak merespon panggilannya.
"Terkejut! mereka sudah aku bakar habis, walau masih ada beberapa di belakang pintu tersebut, tapi itu sudah tidak berarti lagi," Shin memperkuat pedangnya dengan api hitamnya.
__ADS_1
Bersambung....