Become A Hero

Become A Hero
Kenangan Masa Lalu Bagian 2


__ADS_3

Rito mulai mengenakan seragam akademinya. Satu setel yang terdiri dari kemeja putih, celana biru tua, dan dilengkapi dengan blazer berwarna senada.


Rito bercermin sebentar. "Hmm ... terlihat bagus!?"


Tok ... tok ... tok ...


"Sudah mau berangkat, 'kah?" gumam Rito yang masih sedikit merapikan seragamnya. "Tunggu sebentar, tinggal sedikit lagi." 


Setelah dirasa siap, Rito pun membuka pintu. Tapi, siapa sangka .... bukan Maid tadi yang menyambutnya. Itu orang yang berbeda.


Gadis seumuran Rito dengan rambut abu-abu tergerai di bawah punggung, mata biru yang menatapnya tajam, terlebih ia mengenakan seragam yang serupa.


Gadis itu bersedekap tangan di bawah dada. "Kau!" ucapnya yang terdengar dingin.


"T-tuan Putri Vania?" gumam Rito sedikit gugup.


"Cih, apa sih yang dia inginkan?" batin Rito kesal.


"Ada apa, ya ... Yang Mulia?" 


Putri Vania berjalan maju, Rito lantas jadi bingung dan malah berjalan mundur. Ia pun jadi masuk ke kamarnya sendiri.


Malahan sang Putri menutup pintunya rapat-rapat.


Rito sontak panik. "Apa yang diinginkan wanita ini?" batinnya yang berusaha berpikir positif.


"Yang Mulia ... kenapa Anda——"


"Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau bisa memiliki afinitas sihir elemen kegelapan? Kau iblis? Demon?"


"Hah?"


"Jawab atau aku akan menggunakan kekerasan?" Putri Vania menodongkan sebuah pedang.


"Apa tujuanmu pada kerajaanku, pada keluargaku?" 


Bilah berwarna putih dari Rapier milik Putri Vania semakin dekat dengan leher Rito. Ia reflek mengangkat kedua tangannya.


"Tujuan? Saya yang harusnya bertanya, apa tujuan kerajaan ini kepada saya? Ini jelas-jelas ilegal sebab sudah menculi——"

__ADS_1


"Diam!" bentak Putri Vania, menghentikan perkataan Rito.


"Aku sebetulnya menentang ide konyol itu. Menangguhkan nasib kerajaan pada  sekelompok remaja tak berpengalaman? Sepertinya hanya aku dan kakak yang waras di Istana ini. Tapi, aku masih belum menjadi siapa-siapa, jadi tak punya hak untuk memberikan pendapat."


Putri Vania berjalan mengitari Rito sambil terus menodongkan Rapier-nya. Ia waspada jika Rito memiliki senjata. "Katakan, apa tujuanmu?"


"S-saya untuk saat ini belum memiliki tujuan!"


"Jangan main-main, sialan! Aku benar-benar serius ... Rapier ini mungkin akan segera membolongi lehermu!?" gertak Putri Viona.


"Saya sungguh tak ada niat buruk pada kerajaan ini atau keluarga Anda. Saya bahkan masih bingung, kenapa saya harus di sini!" bantah Rito.


Sementara itu ....


"Kau tau, Chaos Dragon .... Putri ini sungguh menyebalkan!" Rito melakukan telepati dengan Chaos Dragon.


"Begitulah, wanita. Hadapi saja semampumu, jika sudah kelewatan ... buat dia bungkam!" balas si naga.


"Jangan terus mengelak dengan berperan sebagai korban! Aku tak memiliki hubungan dengan pemanggilan kalian ke dunia ini! Jadi, jangan salahkan aku!" Putri Vania menjadi sedikit nyolot, alisnya berkedut.


"Sebenarnya, aku sudah kehilangan kesabaran. Jika tak mau bicara ... yah, masa bodoh dengan tujuan! Ancaman harus dilenyapkan ...."


Rito tenggelam dalam bayangannya sendiri, lalu kegelapan pekat menyelimuti kamar itu. Semua kejadian itu hanya terjadi dalam beberapa mili detik.


Kegelapannya mulai hilang dan Putri Vania nampak tergelak tak sadarkan diri.


"Tuan Putri yang susah diatur." ucap Chaos Dragon yang muncul dari bayangan.


"Woah! Tadi nyaris saja. Aku tertolong." Tak berselang lama, giliran Rito yang muncul.


"Jika kau mati, aku juga mati." timpal Chaos Dragon. "Aku mungkin harus menggunakan sihir pelupa ingatan." Ia terbang di samping gadis berambut abu-abu itu.


"Kau bisa melakukannya?"


"Kau meremehkanku? Ingatlah berapa umurku!?" Chaos Dragon sedikit kesal.


"Meskipun begitu, dia ke depannya pasti akan tetap menggangguku. Apa tak ada solusi yang bisa langsung menyelesaikan masalah ini?" tanya Rito.


"Tidak ada! Itu adalah urusanmu. Yah, kau sebisa mungkin, jangan pernah sendiri!? Oh, ya ... dia semalaman mengintai kamar ini." beritahu si naga hitam.

__ADS_1


Rito ber-oh dan menatap Putri Vania penuh minat.


"Hmm ... naga, aku sedikit penasaran. Kenapa Putri Vania bisa menyangka aku memiliki afinitas kegelapan? Itu kebetulan atau dia memang memiliki semacam kemampuan untuk mengetahuinya?" Rito menatap intens sang Putri yang tertidur.


"Siapa yang tau? Tapi, anggap saja dia memiliki kemampuan semacam itu."


Chaos Dragon mulai menggunakan sihir pelupa ingatannya. Ia menghapus kejadian tadi dari memori sang Putri.


"Ngomong-ngomong, sihir apa yang kau gunakan tadi?" ucap Rito di sela-sela Chaos Dragon melakukan sihirnya.


"Blind Area! Sihir pembuta yang menyelimuti suatu area dengan kegelapan total." terang Chaos Dragon.


"Kedengarannya berguna. Lain kali, tolong ajari sihir itu. Sekalian dengan sihir penghapus ingatan."


Chaos Dragon selesai menghapus ingatan Putri Vania.


"Sudah selesai. Sisanya urus sendiri. Dan berita penting ... kalian harusnya sudah terlambat untuk ke akademi."


"Apa?"


.


.


.


.


Acara penerimaan siswa baru di akademi dilaksanakan di aula.


Dan satu fakta bahwa akademi masih satu komplek dengan Istana. Jadi, Rito hanya perlu berjalan beberapa menit untuk sampai di aula.


"Aku terlambat!?" batinnya yang melihat kursi di aula sudah hampir terisi penuh.


Karena kedatangannya yang sedikit mencolok, para siswa akademi memerhatikan Rito. Namun, ia pura-pura tak melihat dan memilih kursi yang masih kosong.


"Bukankah dia seenaknya? Padahal siswa baru!?"


"Yah, tapi orang-orang dengan tipe seperti itu memang cocok untuk menjadi bahan rundungan."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2