
Sementara itu, tak berselang lama ... Putri Vania juga datang. Semua orang lantas terkejut.
Gadis itu sedikit menunduk dan melirik ke arah kakaknya Venill. Ia nampak sedikit menyesal.
Sang kakak cuma mengangguk.
Kemudian, Putri Vania ikut memilih tempat duduk.
Akademi kerajaan Vellenia bersikap adil terhadap semua siswanya, tak peduli dari latar belakang apa ... setiap siswa akan diperlukan sama.
"Laki-laki itu?" gumam Putri Vania dengan suara pelan.
Karena tak kebagian tempat duduk, Putri Vania terpaksa mendapatkan tempat duduk sisa. Sebetulnya ada beberapa siswa yang menawarkan posisi yang bagus, seperti di samping Pangeran Venill.
Tapi, gadis berambut abu-abu itu tetap ikhlas mendapat tempat duduk sisa. Walaupun ia harus duduk bersebelahan dengan Rito.
"Jika di keramaian seperti ini, sih. Dia tak mungkin berani berbuat yang aneh-aneh!?" batin Rito melirik Putri Vania, ia tersenyum penuh kemenangan.
Sementara sang Putri, ia menahan dirinya untuk tetap tenang.
"Jika menemukan saat yang pas, aku pasti akan memergoki dirinya. Si pengguna elemen kegelapan itu! Si iblis ini! Dan juga ... kenapa aku bisa tertidur?" batin Putri Vania sangat geram.
Faktanya, Rito membawa Putri Vania ke kamarnya agar tak menimbulkan kecurigaan.
Acaranya sudah dimulai ... pertama-tama adalah mendengarkan pidato dari kepala akademi. Kedua ... pengenalan, menceritakan sejarah berdirinya akademi tersebut. Di waktu itu ... Rito tertidur lelap, menopang kepalanya dengan tangan.
"Bisa-bisanya dia tertidur!?" ucap Putri Vania menatap Rito dengan pandangan jijik.
Setelah rangkaian acaranya selesai, sepasang pria dan wanita menuju ke area para siswa baru.
"Baiklah, semuanya. Kami ucapkan selamat datang di akademi kerajaan Vellenia. Sebagian dari kalian pasti sangat berat untuk bisa hadir dan mengenakan almamater. Sekali lagi selamat, saya Xyro Aslen, guru sihir kalian. Dan ini adalah Ogida Alsen, orang yang akan mengajari bagaimana caranya mengayunkan pedang dengan benar." ucap wanita berambut biru panjang memperkenalkan dirinya, sekaligus saudara laki-lakinya.
Semua siswa baru mengangguk.
__ADS_1
Xyro kemudian tersenyum. "Nah, pada hari pertama ... belum ada pelajaran. Tapi, agenda kalian untuk hari ini adalah penentuan divisi dan kelas."
Ada dua divisi di akademi Vellenia, yaitu divisi penyihir dan ksatria. Itu adalah divisi utama, namun ada juga beberapa sub divisi.
Sementara kelas dibagi menjadi lima yang ditentukan oleh performa tiap siswa. Dalam satu tahun ajaran, kontribusi dan perkembangan siswa akan dinilai. Itu menentukan untuk promosi atau degradasi.
"Jika kalian masuk ke divisi penyihir, silahkan keluar melalui pintu kanan aula. Sedangkan bagi yang mau masuk ke divisi ksatria, silahkan keluar melalui pintu sebelah kiri. Di sana akan ada guru lain yang akan membimbing kalian ke tempat tertentu." terang Ogida.
Kumpulan siswa baru itu mulai sedikit gaduh, mereka menunjukkan kebimbangan. Terutama teman-teman Rito.
"Hmm ... pilih divisi apa?" batin Rito yang bingung.
Secara perlahan, satu demi satu siswa mulai keluar dari pintu kiri maupun kanan. Sampai akhirnya hanya menyisakan beberapa orang.
Siswa senior yang melihat ada juniornya yang tak bergerak sedikitpun menjadi tertarik.
"Yah, kumpulan siswa yang ambisius." ucapnya tersenyum.
Siswa yang masih tinggal adalah Putri Vania, Rito, dan beberapa siswa lain.
"Ya, karena saya ingin mempelajari keduanya secara serius." Putri Vania berucap dengan percaya diri.
"Ah, Yang Mulia ... kadang menjadi maruk itu bukan sesuatu yang bagus, lho?!" Xyro menggodanya.
"Lihat saja nanti."
Sementara itu, Ogida memerhatikan siswa lain yang memiliki pemikiran sama dengan Putri Vania.
"Para siswa yang masuk lewat jalur seleksi ternyata sangat ambisius! Mereka ingin mengalahkan para orang kaya dan bangsawan?"
###
"Kenapa kau ikut-ikutan tetap di sini?" Putri Vania berdiri lalu meneriaki Rito.
__ADS_1
Namun, pemuda itu hanya menanggapinya dengan ekspresi datar. Rito menatap Ogida.
"Semua orang bebas menentukan pilihannya, Tuan Putri. Anda tidak bisa memaksanya!" ucap Ogida pelan.
Putri Vania menunjukkan sikap yang seharusnya tak boleh ada pada seseorang dengan gelar setinggi dirinya.
Ia mendecih, "Dia bukan siswa akademi ini! Terlebih ... dia bukan manusia!" Putri Vania sedikit berteriak.
Seisi penghuni aula dapat mendengarnya, ia berhasil mencuri perhatian semua orang.
"Ada apa dengan Putri Vania? Kenapa dia marah-marah?"
"Yah, mungkin laki-laki di sana adalah penyebabnya?! Hmm ... tapi, harusnya Putri Vania tak menunjukkan sikap seperti itu ... ia sudah mencederai statusnya. Perilakunya tadi tak ada bedanya dengan para rakyat jelata."
Beberapa siswa senior memberikan komentar miring pada gadis berambut abu-abu itu. Dan Rito juga mampu mendengarnya.
Sementara itu ... Ogida menatap bingung Putri Vania dan Rito.
"Tuan Putri ... apa maksudnya?" tanyanya, ia kemudian menatap Rito. "Kamu dari ras apa?"
Tentu saja Rito menjawab dengan tegas. " Ras manusia."
Yah, itu memang bukan kebohongan.
"Kau bukan manusia! Mengakulah! Kau pasti ingin membuat kekacauan di negeri ini, 'kan, bangsa iblis?"
Semua orang langsung menoleh lagi ke arah keributan itu.
"Apa maksud dari Putri Vania? Iblis? Ada bangsa iblis di tempat ini?" Beberapa orang mulai panik.
Xyro yang tak menyangka bahwa keributan kecil itu menjadi serius lantas berupaya melerai nya.
Bersambung...
__ADS_1