
Berlangsung selama beberapa jam mereka melewati Padang rumput yang penuh dengan rumput panjang beserta hewan maupun monster yang terlihat di tempat tersebut.
"Kemana kita akan pergi sekarang?"
Tetsuya bertanya kepada mereka, untuk menentukan tujuan selanjutnya, Shin yang sudah memastikan tujuannya sejak meninggalkan kerajaan delona.
Hal pertama yang di pikirkan ya untuk meningkatkan pengalaman bertarung mereka beserta mengasah skill yang mereka kuasai.
"Oh, kalau itu kita akan pergi berburu, tapi ini tidak sekedar berburu karena kita akan memasuki sebuah dungeon yang di mana monster tersebut sangat agresif dan aktif di bandingkan di luar dungeon," Shin memutar arah ke samping menuju ke sisi kiri jalan memasuki hutan.
"Di hutan ini entah kenapa sangat menakutkan, di bandingkan dengan hutan yang pernah kita lewati sebelumnya!" koyuki merasa tidak enak badan setelah memasuki hutan tersebut.
Ken memanfaatkan situasi koyuki yang sedang takut itu, dia memikirkan sesuatu cerita horor untuk menakut-nakutinya.
"Apa kalian ingat dengan cerita tentang sosok hantu yang tinggal di hutan lebat seperti ini," Ken mulai bersilat lidah memulai rencana miliknya.
"Jangan-jangan tentang cerita di hutan itu bukan, yang terkenal memakan korban saat seseorang memasuki hutan itu," koyuki mengingat cerita hantu yang selalu di ceritakan oleh neneknya kepada dirinya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tetsuya tiba-tiba tertarik dengan pembahasan Ken sebelumnya.
"Cerita tentang jiwa yang terperangkap di hutan dan menarik siapapun orang yang berani memasuki hutan itu," Ken menjelaskan kepada Tetsuya.
"Bukankah itu hanya mitos saja. Aku tidak percaya yang namanya hantu!" tetsuya kembali ke tempat duduknya.
"Apa itu, apa Yui boleh dengar!" Yui penasaran dengan apa yang di ceritakan oleh Ken.
Beberapa teman mereka tidak ikut mendengar cerita dari Ken, mereka menghabiskan waktu hanya untuk bercerita hal-hal yang menakutkan.
Tidak habis pikir koyuki sampai ketakutan dengan menutup dirinya dengan sebuah selimut yang di milikinya.
"Hal aneh mulai terlihat setelah mereka mendekati aliran sungai tersebut, air itu mengalir secara deras dengan kejernihan air yang bisa di lihat isi di dalam air tersebut.
Perasaan yang selalu di awasi dari balik hutan itu membuat mereka sedikit takut termasuk koyuki, karena waktu hampir menjelang malam.
Mereka memutuskan untuk berkemah di sekitar aliran sungai sambil mengumpulkan beberapa barang seperti batu dan kayu untuk di jadikan alat bakar sekaligus api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan dari terpaan angin malam.
Akira yang tampak menikmati aroma daging panggang yang sedang di panggang, tiba-tiba suara retakan ranting kayu terdengar di belakang pohon tepat mereka duduk.
__ADS_1
Mereka hanya berfikir bahwa hanya merekalah yang berada di sekitaran tempat tersebut, Akira yang sudah terlanjur penasaran dari suara itu, dia mencoba menghampiri sumber suara tersebut.
"Aneh!" Akira tidak melihat ranting kayu tepat di samping sumber suara.
Beberapa tangan hitam keluar dari balik bayangan di sekitar tempat tersebut, perlahan tangan itu mendekat dan menarik Akira ke dalam bayangan tanpa dia membuat suara sedikitpun.
10 Menit kemudian...
"Kemana Akira? kalau cuma mengecek tidak selama ini," ucap Ichiro kepada Akira yang terlalu lama pergi.
"Biarkan saja dia, mungkin saja dirinya sedang menyelesaikan masalah pencernaan. Mungkin!" Ken hanya menebak apa yang di lakukan Akira saat sana.
"Benar juga, di sini tidak ada toilet yang bisa kita gunakan, tentu saja alam adalah sebuah toilet alami yang bisa di gunakan kapan saja dan dimana saja," Tetsuya melanjutkan pembicaraan Ken.
"Hei kenapa kamu selalu menempel padanya di saat ada kesempatan!" koyuki sedikit kesal dengan tingkah Lina.
"Tentu, karena kita adalah pasangan yang sudah resmi bukan," Lina sedikit menggoda koyuki sambil menyindirnya.
"Hah...! kalau bisa tolonglah di tempat yang dimana kita tidak bisa melihat," koyuki sedikit malu-malu dan sedikit berdalih dengan alasan tertentu.
"Sepertinya aku sudah mulai mengantuk," Ichiro mulai menutup secara perlahan di kelopak matanya.
Mereka berdua pergi ke dalam tenda khusus pria, sedangkan para wanita tidur di kereta kuda.
Tidak ada hal istimewa di dalam tenda khusus yang mereka buat sebelumnya, isi di dalam tersebut hanya selimut dan alat pencahayaan.
Tak berlangsung lama, Akira tiba-tiba keluar dari balik semak-semak dengan tatapan kosong.
Kulit Akira berkeriput layaknya orang yang sudah menjadi tua, pupil berubah menjadi merah, beserta beberapa luka di sekujur tubuhnya.
Suasana menjadi hening saat Akira duduk di samping mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Shin yang menyadari keanehan itu mulai memainkan akting miliknya untuk membongkar penyamaran palsu tersebut.
"Kenapa kau lama sekali di sana?"
Perlahan Shin merubah posisi duduknya dan mendekati Akira yang sedang berdiam di tempat tersebut.
__ADS_1
"Hei Shin, apa yang kau lakukan?"
Tetsuya melihat tindakan Shin yang terlihat aneh miliknya.
"Tidak apa, ini hanya untuk mempererat pertemanan kita," perlahan demi perlahan mendekati Akira dengan pasti.
Lina hanya memperhatikan situasi dengan cermat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini.
Mata Lina tertuju pada tangan kanan Shin yang hampir menempel di pundak Akira, entah apa yang akan dilakukan Shin itu.
"Wah ternyata Shin baik juga, sampai mengelus bagian punggung temannya yang sedang terluka itu," Lina mengikuti alur yang sedang berjalan.
"Benar juga yang di katakan oleh Lina barusan. Kukira kau ini orang yang sulit di tebak," entah mengapa Tetsuya salah paham yang di lakukan oleh mereka berdua.
Hehe....
"Ternyata sudah ketahuan rupanya, kalau begitu aku akan sedikit memberikan hadiah kepada Akira sekarang," Shin mulai mengeluarkan api di telapak tangannya.
"Hei ada api di belakang baju Akira! Shin apa yang kau lakukan padanya," Tetsuya mulai mempertanyakan atas tindakan Shin sebelumnya.
Mereka hanya melihat tubuh Akira yang sedang terbakar oleh api, dirinya berteriak meminta pertolongan untuk memadamkan apinya.
Shin menahan mereka yang ingin menolong Akira saat itu juga, bahkan Shin tidak segan membuat mereka sedikit mengalami luka bila tidak menuruti keinginan Shin tersebut.
Mereka diam, mereka hanya menyaksikan sebuah acara yang mirip seperti acara pengorbanan seperti pada masa lampau.
Perlahan tubuh Akira yang sudah meleleh tiba-tiba merubah menjadi sosok monster yang menakutkan, sampai membuat mereka kaget dan terkejut tindakan dengan penampilannya yang sangat menyeramkan.
"Kenapa kalian tidak menolongku. Kenapa! kenapa!," tiba-tiba suara Akira berubah dari suara asli menjadi suara yang sangat berat dan sedikit kaku.
"Kami ingin menolong, tapi Shin mencoba menghalangi kami!" Tetsuya melihat wujud asli dengan mata kepalanya sendiri.
"Kenapa! kenapa!" Akira masih mengelontorkan kata-mata yang sering di keluarkan olehnya.
"Shin! ada apa dengan Akira?" Lina bertanya dengan pasti tentang sesuatu yang barusan terjadi padanya.
Shin hanya menjawab dengan satu kata saja, karena Shin malas untuk menjelaskannya secara detail kepada Lina sekarang.
__ADS_1
"Mimik,"
Bersambung.....