
"Terima kasih sebelumnya sudah mengizinkan kita tinggal sementara waktu kemarin. Untuk hari ini kita akan pergi melanjutkan perjalanan menuju ke dungeon yang sudah di sepakati bersama," Tetsuya memberikan salam perpisahan kepada keluarga pemilik rumah itu.
"Apa tidak ada barang yang tertinggal? ucap nenek sambil memberikan senyuman kepada mereka.
"Sudah tidak ada lagi yang tertinggal di dalam sana," balas Tetsuya kepada nenek itu sambil memindahkan barang terakhir ke kereta kuda mereka.
"Baguslah. Berhati-hatilah di jalan, terlebih lagi dengan keturunan hitam," nenek itu memberikan saran kepada mereka.
Tetsuya beserta temannya tidak mendengarkan saran yang di berikan oleh nenek tersebut, mereka mencoba bertanya lagi, tapi kereta sudah di jalankan oleh Kanzaki Rito.
"Hei, apa kalian mendengarkan perkataan nenek tadi?" Tetsuya mencoba bertanya kepada mereka yang sedang duduk di kursi kereta.
"Darah," ucap Ken sambil mengingat perkataan nenek sebelumnya.
"Kalau tidak salah, keturunan. Mungkin!" koyuki sedikit ragu dengan ucapannya sendiri.
"Yang benar saja, apa kamu serius dengan ucapan mu sebelumnya?" kritik Tetsuya kepada koyuki yang ragu dengan ucapan miliknya.
"Di dalam sana, kenapa berisik sekali?" Kanzaki Rito sedikit penasaran dengan perdebatan mereka.
"Apa di antara kalian masih mengingat perkataan nenek tadi?" ucap Tetsuya yang sedang menunggu jawaban dari mereka.
Sayangnya mereka hanya diam tanpa membalas perkataan Tetsuya sebelumnya, mereka ragu dengan ingatan mereka sendiri.
Di sisi lain....
Seorang petualang yang kebetulan lewat dan melihat Kanzaki Rito beserta teman nya pergi meninggalkan tempat tersebut
Perlahan kereta kuda yang di kendarai oleh Kanzaki Rito mulai mendekati petualang yang sedang melintas.
"Permisi, boleh tau kalian mau pergi kemana?" petualang tersebut bertanya kepada mereka.
"Siapa kau? perkenalkan dirimu terlebih dahulu sebelum bertanya!" tegas Kanzaki Rito kepada petualang itu yang sedang berdiri di depannya.
"Maaf, kalau begitu perkenalkan, nama ku Geriel. Aku seorang petulangan yang kebetulan lewat saja," Geriel memperkenalkan dirinya dengan sopan kepada mereka.
"Namaku Kanzaki Rito, dan di belakang sana ada Akira, Tetsuya, Ken, Ichiro, sedangkan wanita nya, koyuki, Yui, dan Lina," Kanzaki Rito memperkenalkan teman-temannya kepada Geriel.
"Astaga! cantik sekali," Geriel dengan cepat mendekat dan memegang tangan kanan Lina.
Mereka serempak terkejut melihat tindakan yang tidak terduga oleh Geriel tersebut, Kanzaki Rito yang sedikit kesal dengan atas tindakan dirinya.
__ADS_1
Hehe....
"Wah-wah, benarkah aku cantik!" Lina tertawa pelan sambil menyembunyikan mulutnya dengan tangan kirinya.
"Benar sekali nona cantik," balas Geriel yang mau bersiap mencium telapak tangan Lina.
"Terima kasih pujiannya, tapi maaf! aku sudah menikah. Jadi tolong hentikan tindakanmu itu, oke," tegas Lina sambil menarik tangan kanan miliknya.
"Apa? lagi-lagi aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan!" Geriel menangis malu atas tindakan konyolnya.
"Hei, bisa hentikan drama nya!" koyuki menengok ke arah samping sambil mengkritik Geriel tersebut.
"Baik!" Geriel membersihkan air matanya dari wajah miliknya.
"Bagus. Kita mau pergi ke dungeon," ucap Kanzaki Rito sambil menunjukan arah tujuannya.
"Dungeon! boleh aku ikut, kebetulan tujuanku juga sama dengan kalian," Geriel memohon kepada mereka untuk mengizinkan ya untuk ikut dalam rombongannya.
"Boleh saja, tapi tidak tahu dengan yang lain," balas Kanzaki rito kepada Geriel.
Mereka dengan senang hati mengizinkan Geriel untuk ikut kedalam rombongan mereka. tetapi hal aneh yang di katakan oleh Geriel membuat mereka sedikit tidak percaya dengan perkataannya.
"Yang benar saja, bukan kah tadi kita pernah menginap di desa itu, bahkan desa itu baik-baik saja tanpa ada masalah sedikitpun, warga sekitar desa itu sangat ramah kepada kita sebelumnya," tegas Tetsuya dengan membela kebenaran dari perkataan Geriel sebelumnya.
"Jelaskan, aku ingin memastikan kebenaran tersebut dari mulutmu!" dengan serius Tetsuya menatap Geriel.
Geriel menjelaskan kepada mereka asal usul dan penyebab desa itu hancur. Dulu desa itu sangat makmur tanpa campur tangan kerajaan sedikitpun.
Setiap hari warga desa itu berkebun dan bertani untuk kecukupan hidup mereka setiap hari, bahkan hasil panen mereka yang lebih di bagikan kepada para warga dan pelancong yang kebetulan lewat di sekitar desa tersebut.
Mereka ramah, ketika selalu ada masalah mereka selalu menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Di suatu hari.... seorang anak entah dari mana datang ke desa tersebut, dirinya selalu membawa senjata berukuran sedang yang cocok dengan tubuhnya.
Anak itu terlihat tersenyum tanpa ada alasan khusus untuk dirinya sendiri. Anak dari desa itu datang sang menghampiri anak yang sellau tersenyum itu.
"Kau siapa? perkenalkan aku Lulu," anak desa itu mengulurkan tangannya kepadanya.
"Aku Zisk....!" balas dirinya kepada Lily sambil tersenyum lebar.
Seketika tangan Lulu menarik tangan Zisk untuk membawanya ke dalam desa untuk memberi tahukan kepada keluarganya, tapi Zisk itu menyembunyikan niat jahatnya dengan baik.
__ADS_1
Zisk mulai menghitung jumlah orang yang tinggal di desa tersebut dengan teliti, satu demi satu dirinya menghitung setiap rumah yang di tinggalnya.
5, 13, 20. Zisk sudah memastikan beberapa warga yang tinggal di desa.
27, 35, 43, 56. Hampir seluruh warga desa sudah di ketahui olehnya, dirinya sedikit bertanya kepada Lulu tentang beberapa rumah yang belum pernah di datangi olehnya.
"Ada satu rumah yang belum pernah aku datangi, kata ayahku, jangan pernah datang ke tempat tersebut," ucap Lulu yang sedikit ragu untuk datang ke rumah tersebut.
"Antarkan saja aku ke sana, kamu hanya perlu tunggu di luar rumah saja," balas Zisk kepada Lulu yang masih ragu untuk datang ke rumah tersebut.
"Baiklah!" dengan cepat Lulu menjawab perkataan Zisk sebelumnya.
"Bagus, antarkan aku sekarang," balas Zisk.
Kedua anak itu mulai pergi mendatangai rumah yang di larang oleh ayahnya Lulu, dengan cepat mereka pergi sebelum waktu malam datang.
Di depan rumah terakhir yang belum di datangi olehnya....
"Terima kasih, kau boleh menunggu di luar," Zisk perlahan mendekati pintu rumah tersebut.
Zisk mengeluarkan pedang miliknya dari punggungnya sebelum membuka pintu di depan nya.
Tok, tok, tok....
"Ya ada apa?" pria besar membuka pintunya.
Di saat membuka pintu, seketika tebasan itu hampir mengenai pria besar tersebut. Untungnya pria itu berhasil menahan arus lintasan pedang yang di arahkan oleh Zisk.
"Yo, bocah nakal siapa ini yang berani menyerang pria yang sedang mengantuk. Sayang sekali kau harus di hukum bocah nakal,"
Pria besar itu menggunakan kaki miliknya untuk menyerang bagian perut Zisk hingga terpental jauh dari tempat semulanya.
"Zisk, kau tidak apa! apa kau terluka?" Lulu mengulurkan tangannya untuk membantu dirinya bangun dari tempatnya.
"Akan ku gunakan dia untuk melemahkan pertahanan pria besar itu!"
Zisk bergegas menarik dan memeluk Lulu sambil menodongkan bilah tajam dari pedangnya ke leher Lulu.
"Lepaskan anak itu, dasar bocah nakal!" pria besar itu menggerakkan giginya dengan kuat.
"Coba saja kalau bisa!" dengan tawa jahatnya Zisk sampai membuat pria besar itu semakin marah.
__ADS_1
Bersambung....