
Hiks, hiks....
Sebuah kereta kuda berisikan budak di dalamnya melintas melewati Shin yang sedang duduk di atas kereta kuda miliknya.
Penjual budak yang kebetulan lewat itu melihat Shin yang sedang duduk, dia menawarkan budak miliknya pada Shin dengan harga yang terjangkau.
Shin hanya diam dan melihat isi di dalam kereta tersebut tanpa berbicara sedikitpun, ia tahu akan sangat merepotkan bila membebaskan semua budak yang berada di kereta kuda.
Beberapa budak yang berteriak, menangis, menghayal berbicara sendiri mereka di pecut dengan tali.
Awalnya Shin merasa kasihan kepada budak yang sedang di hukum, tapi ada salah satu budak yang entah kenapa merasa nikmat bila di pecut dengan tali, dia merasa kegirangan saat dirinya di hukum.
Shin menutup mata miliknya seakan-akan tidak pernah melihat pemandangan tersebut terakhir kali.
"Ada apa tuan?" penjual budak itu bertanya pada Shin yang sedang menutup matanya.
Penjual budak itu mengira bahwa barang milik ya tidak memuaskan pelanggannya, dia memberikan harga yang lebih terjangkau dari pada sebelumnya.
Tangan Shin tiba-tiba di tarik oleh penjual budak dan membawa ia ke tempat budak berkualitas lebih tinggi dari semua budak yang berada di tempatnya.
"Aku akan beli budak ini. Berapa harganya?" Shin menunjukan jarinya pada budak di depan matanya.
"Oh, mata tuan sangat hebat memilih budak berkualitas tinggi, bagaimana kalau 500 gold pada budak ini? penjual budak menunjukan jumlah angka pada jari tangan kanannya.
Ketika hendak menolak budak yang harganya sangat mahal itu, tiba-tiba suara 'kamu bohong' terdengar di belakang Shin.
Penjual budak itu marah dan memukulnya dengan tongkat miliknya, Shin terkejut dengan perkataan sebelumnya, ia sekali lagi bertanya pada penjual budak pada budak yang berbicara sebelumnya.
"Kalau kau ingin membawa budak ini. Bawalah, akan ku beri harga sebesar 50 gold," penjual budak kesal dengan situasi negoisasi pada pelanggannya.
"Aku ambil! ini uangnya," Shin memberikan sekantong uang berisikan 50 gold di dalamnya pada penjual budak.
"Cepat bawa dia keluar dari sini, gara-gara dia Bisnisku selalu rugi karenanya!" penjual budak itu selalu kecewa dengan sikap budak yang di bawa Shin tersebut.
Setelah Shin membawa budak yang di beli sebelumnya, pedagang budak beserta kereta kuda yang berisikan budak pergi meninggalkan mereka berdua di tempat tersebut.
Ia melepas beberapa borgol di bagian leher dan tangan dirinya dengan kunci yang sudah di berikan oleh penjual budak sebelumnya.
__ADS_1
"Boleh tahu siapa namamu? dan kenapa kamu bisa berada di tangan penjual budak?" Shin bertanya dengan rasa ingin tahunya pada budak yang baru di belinya.
"Yui!" ucap dirinya dengan tegas.
"Panggil saja aku Shin. salam kenal Yui!" Shin mencoba mengelus rambut di kepala Yui.
"Kamu bohong!" Yui dengan tegas membantah ucapan Shin sebelumnya.
Shin kesal dengan sikap tidak sopan Yui pada dirinya, seketika ia mencoba memperkenalkan namanya lagi. Yui kembali membalas dengan ucapan 'kamu bohong' Shin bingung dan mencoba bertanya pada Yui apa alasan ia berbohong.
"Itu bukan nama aslimu!" Yui membalas pertanyaan Shin sebelumnya.
"Bukankah sudah di bilang aku Shin!" Shin membantah ucapan Yui.
"Bohong!!" tegas Yui.
"Ok, kau menang. Kanzaki Rito, itu namaku, atau kamu bisa memanggilku Rito," ucap Shin yang membongkar rahasianya.
"Tentu kak Rito," Yui memeluk Kanzaki Rito.
"Tapi sebelum itu, Yui harus memanggilmu Shin ketika di depan mereka. Ok!" Shin memohon pada Yui untuk tetap merahasiakan nama aslinya.
Pada akhirnya Yui menjadi rekan baru perjalanan Shin beserta teman kelompoknya.
Mereka akhirnya sampai di tempat kelompok Shin berada, Yui yang merasa mengantuk tiba-tiba tertidur di pangkuan Shin di atas kereta kuda.
Shin terkejut dengan kedatangan mereka semua yang telah berburu sekian lamanya, mereka secara spontan langsung menghampiri dan bertanya langsung pada Shin soal anak tersebut.
Tetsuya dan Ken tidak langsung mendekati Shin, tetapi mereka malah menatap tajam pada anak yang di bawa oleh Shin.
"Hai, boleh aku tahu namamu!" koyuki memeluk erat Yui dengan kedua tangannya.
"Yu...Yui!" kesulitan bernafas di saat koyuki memeluknya dengan erat.
"Sepertinya beberapa jam lagi mau malam, sebaiknya kita segera membuat perapian sekaligus membakar hasil buruan kita," Tetsuya dengan sigap langsung menyalakan kayu tersebut dengan sihir api dasarnya.
"Sebentar, aku sedang merapikan beberapa kayu yang sudah terbakar," Ken secara perlahan menggeser posisi kayu yang tidak terkena api sebelumnya.
__ADS_1
Perut Yui berbunyi saat aroma daging yang mulai di bakar di atas perapian tersebut tercium di hidungnya.
"Hehe, kau pasti sangat lapar bukan, duduklah di sebelah sana," Tetsuya menyarankan Yui untuk segera bergabung di acara makan bersama.
Karena takut kehabisan daging bakar, mereka sesegera menempati masing-masing tempat dan menunggu sampai daging benar-benar matang.
"Hei koyuki, apakah anak ini tidak akan menjadi beban kita nanti!" Ichiro mengarahkan dagingnya ke Yui.
"Apa yang kau bilang, tentu saja dia sangat berguna nanti. Benarkan Yui!" koyuki memeluk dengan erat Yui.
Akira hanya diam dan memakan jatah daging miliknya sampai habis, sedangkan koyuki selalu memeluk tubuh Yui.
",Pertama-tama kita harus mencari sumber air terlebih dahulu. Kita sangat membutuhkannya sekarang, terlebih lagi untuk Yui," Tetsuya menyarankan untuk mencari sumber mata air terdekat.
"Kenapa tidak menggunakan sihir dengan elemen air. Apa di sini yang memiliki kecocokan dengan elemen air?" Ken berganya pada seluruh kelompoknya.
Semuanya hanya diam tanpa berkata sedikitpun, Ken menganggap rekannya tidak memiliki kecocokan dengan elemen air.
Keesokan harinya...
Mereka semua kembali melakukan perjalannya menuju sumber mata air terlebih dahulu, sebelum pergi ke tujuan utama mereka.
Setelah berhasil melewati Padang rumput, mereka memasuki kawasan hutan yang lumayan lebat dengan pepohonan yang agak tinggi.
Hanya beberapa hewan yang tidak berbahaya di tempat tersebut, tapi mungkin saja ada monster yang siap menunggu mangsa mereka datang ke tempatnya.
"Apa emang di sini tuan kusir? tempat yang berisi sumber air," Shin bertanya langsung pada kusir tersebut.
"Masih sedikit jauh dari tempat kita untuk sampai di sumber mata air, sebelum itu kita harus melewati beberapa titik sebelum sampai pada tujuan.
"Kalau begitu, kabari aku bila sudah sampai pada tujuan. Aku mau tidur sebentar," Shin berbaring di atas kereta kudanya.
Beberapa jam kemudian...
Akhirnya mereka sampai pada sumber mata air yang mereka cari, hanya saja mereka harus melewati beberapa pemeriksaan sebelum benar-benar masuk ke dalam.
Di tempat tersebut banyak sekali pelancong yang kebetulan lewat hanya untuk beristirahat beberapa hari sebelum dia melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Bersambung....