
Carolin hendak mengejar sosok Sharon yang menjauh, tapi Cruise menghentikannya.
Carolin pun menoleh ke Cruise, "Kak?"
Cruise menatapnya dengan dingin, "Jangan mengganggunya."
Carolin ingin membantah, tapi tatapan Cruise membuatnya terdiam. Dia agak cemberut, "Jelas-jelas dia yang memukuliku ...."
Cruise melepaskan tangan, lalu mengangkat garis pandang dan melihat Sharon yang telah keluar dari pintu. Alisnya agak mengernyit.
Hanya dalam waktu tiga bulan, dia telah banyak berubah.
Sharon berjalan lurus hingga akhirnya masuk ke mobil. Di sepanjang jalan, dia sama sekali tidak menoleh ke belakang lagi.
Seperti yang dikatakan Novi, tidak sepadan.
Delvina melirik Sharon di sebelahnya. Setelah masuk ke dalam mobil, Sharon tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia terus memandang ke luar jendela mobil dengan ekspresi datar. Jelas sekali bahwa dia sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Nona Sharon."
Ruangan mobil sunyi senyap sampai Delvina memanggil Sharon.
Sharon memiringkan kepalanya untuk melihat Delvina. Saat melihat Delvina ragu-ragu, dia tertawa, "Tadi aku membuatmu ketakutan?"
Delvina menggelengkan kepalanya, "Apakah Anda benar-benar ingin tinggal di Kota Bionka selama setengah tahun ini?"
__ADS_1
Sharon mengangkat alisnya, "Kenapa? Kamu takut aku akan jatuh cinta padanya lagi?"
Kata-kata Sharon merepresentasikan sikapnya dengan sangat jelas.
Delvina, "Bukan. Bagaimanapun juga, tempat ini adalah Kota Bionka. Saya takut Anda akan digertak."
Sharon tersenyum, "Jangan khawatir. Tidak banyak orang yang bisa menggertakku."
Dulu dia bodoh sampai rela dipukuli oleh Keluarga Thomson. Sekarang dia sudah sadar. Kalau pihak Cruise berani menyentuhnya, dia pun berani balas dendam.
Delvina ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi pada akhirnya dia terdiam setelah melihat senyum di bibir Sharon.
Benar juga. Sharon adalah putri dari Keluarga Tamin. Siapa yang berani menggertaknya?
Begitu kembali ke rumah Keluarga Thomson, dia langsung mengadu pada Tuan Besar Thomson.
Lebih dari tiga bulan telah berlalu, tapi amarah Tuan Besar Thomson belum sepenuhnya mereda. Begitu dia mendengar bahwa Sharon telah kembali, api amarahnya kembali mengamuk.
Apalagi ada Carolin yang berusaha membesar-besarkan masalah. Pada akhirnya, Tuan Besar Thomson benar-benar marah besar. Dia langsung menelepon Cruise, lalu meminta Cruise membawa Sharon untuk bersujud dan mengaku bersalah di hadapannya besok.
Saat menerima telepon dari Tuan Besar Thomson, Cruise baru saja kembali ke apartemen. Dia berdiri di balkon dengan ekspresi dingin, "Kakek, saya dan dia sudah bercerai."
"Memangnya kenapa kalau kalian sudah bercerai? Kalau kita melaporkan perbuatannya ke pihak polisi, dia setidaknya akan dikurung beberapa bulan!"
Cruise menarik dasinya dengan jengkel, "Apa yang disebarkannya adalah fakta."
__ADS_1
Tuan Besar Thomson membeku sesaat. Ketika dia hendak menjawab, telepon telah ditutup.
Cruise menutup telepon dan melemparkan ponsel ke sofa di belakang, lalu dia menunduk untuk mengambil sebatang rokok.
Setelah menghilang selama tiga bulan, Sharon tiba-tiba muncul kembali dengan identitas sebagai manajer Perusahaan Wins. Kelinci kecil yang biasanya jinak kini menunjukkan gigi dan cakarnya yang tajam.
Cruise mendengus, "Baru dilepas tiga bulan saja sudah berubah menjadi buas dan liar."
Saat dia menyesap rokok, ponsel di sofa berdering.
Cruise memandangnya dengan acuh tak acuh. Dia tidak bermaksud menjawabnya.
Namun, penelepon tidak menyerah. Ketika dia menelepon untuk kedua kalinya, Cruise akhirnya melangkah dan mengangkat telepon, "Apa."
Penelepon adalah Lando Gustin. Musik di ujung sana amat memekakkan telinga. Cruise mengernyit. Dia hampir saja ingin menutup telepon.
"Kami sedang bermain di ONE, datang?"
"Tidak."
Cruise menjawab dengan ekspresi datar. Tepat ketika dia hendak mematikan telepon, dia mendengar suara Lando lagi, "Cruise, Sharon sudah kembali ke sini?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Dia ada di depanku!" Lando mendengus, "Oh, ada kekasih barunya juga. Cowoknya lumayan ganteng."
__ADS_1