
Eric adalah seorang Presdir sebuah perusahaan, jadwalnya penuh dari pagi sampai malam. Tak mudah baginya untuk meminta sekretaris mengosongkan waktu satu hari lebih agar dia bisa datang ke sini untuk menjenguk putri kesayangannya, tak disangka malah muncul kejadian seperti ini.
Karena besok Eric memiliki acara pejamuan makan yang penting, malam ini mau tak mau dia harus kembali ke Kota Bionka. Padahal Eric ingin menunggu Delvina melacak siapa orang yang menyebarkan gosip "simpanan" ini, setelah itu dia ingin langsung membawa Sharon untuk meminta pertanggungjawaban pada orang tersebut.
Akan tetapi, besok Eric tak hanya memiliki acara pejamuan makan yang penting, dia juga masih ada rapat. Oleh karena itu, setelah makan malam Eric harus kembali.
Malam ini Sharon juga ada acara pejamuan bisnis, jadi dia tidak bisa mengantar Eric ke bandara.
Sebelum Eric pergi, dia terus mengingatkan Sharon untuk memberi tahu dia apabila Delvina sudah menemukan penyebar rumor tersebut.
Setelah Sharon berjanji berkali-kali, Eric baru masuk ke dalam mobil Alphard yang sudah menunggu di depan pintu hotel sejak tadi.
Setelah mengantar Eric masuk ke dalam mobil, Sharon juga masuk ke dalam mobil Delvina dan bersiap untuk berangkat acara pejamuan bisnis malam ini.
Kota Bionka pada awal Maret masih sedingin musim dingin dan angin di malam hari bahkan lebih kencang.
Sharon mengenakan gaun tube top coklat tua dan mantel wol coklat. Mobil diparkir di depan pintu hotel. Oleh karena itu, dia langsung melepas mantel dan berjalan dengan sepatu hak tinggi hitam.
Malam ini adalah jamuan bisnis dan orang-orang yang datang tentu saja orang-orang dari kalangan bisnis.
Oleh karena itu, Sharon pun tidak terkejut ketika bertemu Cruise.
__ADS_1
Pertemuan di siang hari sudah cukup menjelaskan pandangan Cruise terhadap masalah "simpanan" seperti apa. Ketika bertemu lagi setelah enam atau tujuh jam, Sharon dapat melihat tatapan menyindir dari matanya dan itu membuatnya semakin sedih.
Mungkin karena sudah pernah kecewa berlebihan, sekarang sudah tidak pernah merasa kecewa.
Dia hanya menatap Cruise dengan datar dan tersenyum. Setelah itu, dia mengambil wine dan berjalan masuk ke dalam acara.
Pakaian Sharon hari ini bukanlah yang termegah, paling berlebihan dan paling menarik perhatian orang. Akan tetapi, perilaku dia yang baik dan santai sulit membuat orang untuk mengalihkan pandangan darinya ke mana pun dia pergi.
Terlebih lagi, Sharon memiliki wajah yang sepenuhnya mewarisi keunggulan wajah orang tuanya. Dia mengenakan gaun tube top berwarna coklat tua yang memamerkan pinggang dan rok sepertujuh yang kebetulan menunjukkan pergelangan kaki yang halus dan putih. Dia juga memakai gelang kaki klasik di pergelangan kaki tersebut. Lalu, di bawah cahaya, beberapa berlian yang tersebar di gelang kaki bersinar menyilaukan.
Cruise berdiri agak jauh dari kerumunan sambil menatap Sharon yang sedang mengobrol dan bercanda di depan sekelompok orang yang licik. Senyum bibir tersebut entah kenapa membuatnya kesal.
Sharon benar-benar sangat ada kemajuan. Setelah berakting menjadi istri yang baik selama tiga tahun ini, sekarang akhirnya dia menunjukkan watak aslinya setelah bercerai setengah tahun ini.
Cruise mencibir sambil tersenyum sinis. Lalu, dia mengangkat kepalanya dan menenggak habis wine yang ada ditangannya.
Sharon sebenarnya tidak membenci acara relasi sosial semacam ini. Apalagi, malam ini dia juga datang dengan membawa identitasnya. Percakapan di antara mereka bisa dikatakan sangat menyenangkan.
Akan tetapi, rumor yang beredar memang sungguh luar biasa. Baru saja Sharon mengambil segelas wine, Budiman, generasi kedua paling terkenal di Kota Bionka sudah menghampirinya dan berkata, "Nona Sharon hari ini sangat cantik."
Budiman ini juga seorang playboy. Akan tetapi, jauh lebih buruk dibandingkan dengan Dion. Meskipun Dion playboy, dia masih tahu batasan.
__ADS_1
Sedangkan Budiman ini berbeda. Jika dia menyukai siapa, dia akan menipu orang tersebut untuk naik ranjang.
Sharon tersenyum dan menjawabnya dengan sedikit acuh tak acuh, "Terima kasih, Tuan Muda Budiman. Temanku di sebelah sana, aku ke sana dulu."
"Eh, tunggu jangan pergi. Aku ada sesuatu yang ingin diskusikan denganmu."
Sharon mendengus dan berkata, "Mendiskusikan apa?"
"Itu harus melihat apakah Nona Sharon mau mendiskusikannya atau tidak," ujar Budiman.
Melihat Sharon yang tidak pergi, Budiman pun mengangkat tangannya ingin memeluk Sharon. Akan tetapi, Sharon berjalan ke samping dan berkata, "Tuan Muda Budiman, ada begitu banyak orang di sini, kalau kamu menyentuhku akan membuatmu kehilangan harga diri."
"Menarik," ujar Budiman.
Budiman tertawa dan berkata, "Aku suka orang seperti kamu. Di luar terlihat menawan, tetapi sebenarnya sangat jago mempermainkan laki-laki. Bukalah harga, berapa biaya untuk tidur denganmu semalam?"
Perkataan ini bukan penghinaan biasa, jika orang lain yang mendengarnya pasti sudah sangat marah. Sedangkan Sharon malah tersenyum dengan samar dan menatapnya berkata, "Tidak mahal, hanya dua triliun."
Ketika Budiman mendengar perkataannya, raut wajahnya seketika berubah dan berkata, "Sharon, kamu sedang mempermainkan aku?"
"Kenapa malah jadi mempermainkan kamu? Itu memang harga standarnya, kalau Tuan Muda Budiman tidak sanggup, aku sanggup membayarnya."
__ADS_1
Belum sempat Sharon berbicara, tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang tidak asing dari samping. Dion berjalan ke samping Sharon, dia sedikit memicingkan mata persiknya dan melihat ke arah Budiman, "Tuan Muda Budiman, aku yang membayar dua triliun, jadi aku akan bawa pergi orangnya."