Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 3 Bercerai


__ADS_3

Hujan semakin deras, sementara hati Sharon semakin dingin.


Entah berapa lama dia berlutut, hujan akhirnya berhenti. Namun, langit masih gelap gulita.


Kedua pelayan yang mengawasinya sudah tertidur lelap. Sebenarnya dia boleh pergi begitu saja. Namun, dia merasa tidak puas.


Dia tidak percaya bahwa Cruise benar-benar sekejam ini.


Terkadang manusia memang terlalu naif.


Saat fajar, Cruise akhirnya datang.


Sharon telah berlutut sepanjang malam. Dia sudah sangat lesu, tapi dia bersikeras menunggu sebuah jawaban.


Dia mencubit telapak tangannya sendiri agar rasa sakit membuatnya tetap terjaga, "Apakah kamu sudah tenang?"


Kalau Cruise sudah tenang, Sharon ingin menjelaskan kejadian kemarin padanya.


Cruise memandangi Sharon. Sharon yang kehujanan sepanjang malam tampak sangat terpuruk. Matanya jelas terlihat lesu. Namun, tatapannya masih menampakkan kegigihan yang tak terkatakan.


Cruise merasa tertekan akibat tatapannya itu, "Apakah kamu mengaku bersalah?"


Sharon terbengong sesaat. Dia seketika merasa keputusannya untuk berlutut sepanjang malam sungguh sangat konyol.

__ADS_1


Namun, bagaimanapun juga dia telah berlutut sepanjang malam dan menunggu Cruise sepanjang malam. Ketidakpuasannya tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.


"Tadi malam, aku benar-benar tidak mendorong Nichole. Dia yang melompat sendiri."


Sambil berkata, Sharon berdiri dengan terhuyung-huyung. Dia mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Cruise, "Tapi aku tahu kamu pasti tidak akan percaya, jadi ...."


"Ayo kita bercerai saja, Cruise."


Ayo kita bercerai saja, Cruise.


Cruise mengira pagi ini dia akan mendapatkan pengakuan dari Sharon atas kesalahannya. Siapa sangka, bukannya mengakui kesalahan, Sharon malah ingin bercerai dengannya.


Usai berkata, Sharon langsung berbalik dan berjalan menjauh. Langkahnya sangat lambat. Lututnya bengkak dan sakit karena dia berlutut sepanjang malam. Hujan juga membuatnya mengalami demam tinggi. Setiap langkah diambilnya dengan susah payah. Meski begitu, dia tetap menegakkan punggungnya setegak mungkin.


Ketika dia menyeret kopernya ke lantai bawah, Cruise kebetulan hendak naik ke atas. Sharon sama sekali tidak melihatnya, melainkan langsung menyeret koper dan pergi.


Kondisi Sharon sangat buruk. Setelah keluar dari rumah Keluarga Thomson, penglihatannya mulai kabur.


Untungnya, Novi datang sebelum Sharon pingsan.


Saat Novi melihat Sharon menyeret kopernya di pinggir jalan sendirian, Novi sangat marah.


"Apakah Cruise sudah mati?"

__ADS_1


Novi buru-buru turun dari mobil dan meletakkan koper Sharon di bagasi. Begitu dia berbalik, Sharon langsung tumbang.


"Sasa!"


Novi kaget. Dia buru-buru berlari untuk menahan Sharon. Saat dia menyentuh Sharon, sentuhan panas membuatnya terkejut lagi.


Dengan iba dan marah, Novi membawa Sharon ke dalam mobil, "Aku akan membawamu ke rumah sakit, Sasa."


Sharon dalam keadaan koma. Dia bersandar pada kursi mobil dengan wajah pucat yang memprihatinkan.


Novi tidak sempat mempertanyakan masalah ini pada Keluarga Thomson lagi. Dia langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.


Sharon dalam keadaan koma dengan demam tinggi baru bangun pada sore hari.


Begitu dia membuka matanya, dia langsung dapat melihat Novi terbaring di samping ranjang rumah sakitnya.


Sharon tercengang. Kejadian beberapa jam yang lalu kembali berputar di benaknya. Hatinya sangat sakit sampai terasa sesak.


Dia takut membangunkan Novi, jadi dia terus menahan tangisannya. Dalam kegelapan, air matanya terus mengalir tanpa henti.


Dia memang bersalah. Dia tidak seharusnya berpikir bahwa dia dapat meluluhkan hati Cruise. Sejak awal, hati Cruise hanya ada Nichole. Perjuangannya dalam tiga tahun ini sungguh konyol.


Wajar saja Nichole mengatakan bahwa dirinya bodoh. Setelah dipikir-pikir, dia bukan hanya bodoh, tapi juga goblok.

__ADS_1


Di dunia ini, tidak ada wanita lain yang lebih bodoh darinya.


__ADS_2