Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 64. Apakah Tuan Muda Dion sedang Menungguku?


__ADS_3

Sharon melihat Raffi sekilas dan tersenyum berkata, "Pak Reza, Anda salah paham. Bagaimana mungkin saya mengancam Anda? Hanya saja penduduk desa tampak enggan untuk meninggalkan kampung halaman mereka. Jadi, Perusahaan Wins pun tentu tidak akan membeli atau menjual secara paksa."


Perkataan Sharon ini sudah sangat jelas. Saat ini bukan Perusahaan Wins yang memohon mereka untuk menandatangani kontrak dan pindah, tetapi mereka yang sedang memohon pada Perusahaan Wins untuk melakukan pembongkaran.


"Sembarangan! Saya lihat kedatanganmu hari ini pasti untuk berbicara omong kosong saja! Saya ingin bertemu dengan Pak Juhri! Minta Pak Juhri datang ke sini!"


Suara Reza sangat keras. Bahkan, urat biru di dahinya pun muncul di seluruh dahinya. Dia menatap Sharon seolah ingin memukul Sharon.


Akan tetapi, Sharon sama sekali tidak terlihat takut. Dia justru menatap Reza balik dan berkata dengan tegas, "Pak Reza, Pak Juhri sudah mempercayakan masalah ini kepada saya."


Kemudian, Sharon pun terdiam sejenak, baru berkata, "Lagi pula, saya juga hanya mendengar perintah Pak Juhri saja."


Juhri ingin mempermalukan dia, kalau begitu dia akan main belakang.


"Dasar bajingan! Berbicara omong kosong apa kau! Jelas-jelas kemarin Pak Juhri sudah berjanji pada saya, kalau saya ...."


"Bu Sharon, terima kasih untuk informasinya. Nanti kami akan mempertimbangkannya baik-baik."


Raffi yang berada di samping menyela perkataan Reza. Lalu, dia menatap Sharon dengan sungkan dan sikapnya menjadi sangat ramah.


Sharon mengambil berkas kembali dan berkata dengan wajah tanpa ekspresi, "Tiga hari. Saya hanya memberi waktu tiga hari untuk kalian. Setelah proyek dimulai, sudah tidak ada gunanya kalau Pak Reza dan Pak Raffi mencari saya lagi."


Selesai Sharon berbicara, dia melihat sekilas ke arah Delvina.


Delvina menganggukkan kepala dan mereka berdua langsung membalikkan badan meninggalkan ruangan VIP.


Efek dari minum bir putih memang cukup besar, jadi baru saja Sharon keluar dia ruangan VIP, dia sudah merasa kepalanya pusing.


Tadi dia minum empat gelas bir yang berarti hampir setara dengan tiga ratus gram. Sharon sudah beberapa tahun tidak pernah minum bir seperti ini lagi. Begitu efek mabuk birnya bereaksi, sekujur tubuh Sharon terasa sangat panas. Langkah kakinya bahkan sedikit lunglai dan jalannya tidak stabil.

__ADS_1


Delvina menopangnya dari belakang dan berkata, "Nona Sharon, apa kamu baik-baik saja?"


Sharon menggelengkan kepala dan berkata, "Aku masih sadar, aku mau ke toilet untuk cuci muka."


"Aku akan menemani Anda," ujar Delvina.


Sharon menoleh dan melihat Delvina sekilas, lalu dia tersenyum dan berkata, "Tidak perlu. Aku masih bisa jalan, kamu tolong panggilkan supir sewaan saja."


Mereka berdua minum bir, jadi jelas tidak bisa mengendarai mobil.


Delvina juga sudah tidak kekeh ketika melihat Sharon yang jalannya hanya sesekali tidak stabil dan wajahnya masih biasa saja. Dia hanya menganggukkan kepala dan berkata, "Baik, aku panggil supir dulu."


Sharon mengiyakan, lalu melihat sekilas papan petunjuk dan menginjak hak tingginya berjalan ke arah toilet.


Efek bir ini benar-benar kuat.


"Maaf ...."


Ketika sedang berbelok, Sharon menabrak orang lain. Seketika Sharon menjadi lebih sadar. Lalu, ketika mendongakkan kepala, dia melihat Dion dan tersenyum berkata, "Kebetulan sekali."


Dion menatap Sharon, lalu matanya yang tajam itu memicing dan berkata, "Mabuk?"


"Sedikit," ujar Sharon.


Dion menatap Sharon lagi. Dia juga tidak mengatakan percaya atau pun tidak percaya. Dia hanya berkata, "Mau ke mana?"


Sharon menunjuk toilet yang ada di belakang Dion dan berkata, "Ke situ."


Dion menoleh melihat sekilas dan tersenyum berkata, "Pergilah."

__ADS_1


Sharon kali ini memang tidak mempunyai kemampuan untuk basa-basi lagi. Wajahnya sudah sangat merah dan pemikirannya juga sedikit melambat.


Setelah menganggukkan kepala, Sharon langsung masuk ke toilet. Dia pun jauh lebih segar dan sadar setelah membilas wajahnya dengan air dingin.


Dia menarik beberapa lembar tisu dan menatap dirinya sendiri di cermin. Wajahnya sangat merah dan alis berkerut, pantas saja Dion bertanya padanya apakah dia mabuk.


Sharon tersenyum dan membuang tisu bekas menyeka tangan ke dalam tong sampah. Kemudian, dia membalikkan badan keluar dari toilet.


Baru saja keluar, dia melihat Dion yang masih belum pergi. Sharon tertegun sejenak dan berkata, "Apakah Tuan Muda Dion sedang menungguku?"


Setelah cuci muka, Sharon jauh lebih sadar daripada barusan.


Dion tersenyum samar, lalu melihatnya sekilas dan berkata, "Seorang pria kalau melihat calon pacarnya mabuk pasti akan khawatir."


Dari awal wajah Sharon sudah panas, tetap begitu mendengar perkataan Dion jadi semakin panas.


"Sekretarisku sedang menungguku di luar," ujar Sharon.


"Kalau begitu, aku antar kamu keluar," ujar Dion.


Permintaan Dion ini tidak berlebihan, Sharon pun tidak menolaknya.


Baru saja Sharon keluar dari lift beberapa langkah, dia malah ditabrak oleh seorang wanita yang berlari ke arahnya. Sejak awal Sharon memang tidak bisa berdiri dengan stabil, jadi begitu ditabrak, dia langsung terhuyung dan tubuhnya jatuh ke samping.


Dion yang berada di sebelah langsung mengulurkan tangan untuk menariknya. Setelah itu, Sharon pun buru-buru menstabilkan posisi berdirinya.


Baru saja berdiri stabil dan mendongakkan kepala, dia melihat Nichole dan Cruise yang baru berjalan masuk dari pintu depan hotel.


Seketika, Sharon pun menjadi lebih tersadar.

__ADS_1


__ADS_2