Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 61. Benar-benar Tidak Ingin Melakukannya?


__ADS_3

Dion mengatakan hanya minum teh dan benar-benar hanya minum teh saja. Selesai minum teh, dia pun berinisiatif untuk pergi.


Sharon duduk bersandar di sofa sambil menatap pintu yang ditutup oleh Dion ketika pergi. Lalu, dia sedikit mengernyitkan alisnya. Setelah beberapa saat, dia baru menarik kembali pandangannya dan membalikkan badan kembali ke kamar.


Dion si playboy ini ternyata lumayan gentleman.


Selesai mandi, Sharon membalas pesan Novi. Setelah itu, dia langsung mematikan lampu dan tidur.


Keesokan harinya di pagi hari, Sharon sudah terbangun padahal alarm belum berbunyi.


Ruangan kamar sangat gelap, Sharon menyampingkan kepalanya untuk melihat jendela dan ternyata masih gelap gulita juga. Langit bahkan masih belum terang.


Sharon mengambil ponsel untuk melihat waktu. Saat itu, waktu baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit dan masih sangat pagi. Akan tetapi, karena kemarin malam dia tidur lebih awal, kualitas tidurnya pun juga cukup baik. Jadi, begitu bangun pagi-pagi, suasana hati Sharon pun sangat bagus. Dia bahkan berencana membuat sarapan yang enak untuk memanjakan diri.


Seorang tuan putri dari keluarga kaya raya yang tidak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga bisa berubah menjadi seseorang yang membuat sarapan sendiri saat ini, memang perlu dikatakan ini semua berkat Cruise.

__ADS_1


Seandainya bukan karena dia, Sharon merasa bahwa dia mungkin hanya bisa menggoreng telur dan memasak bubur seumur hidupnya ini.


Pagi hari di bulan Februari Kota Namika masih sangat dingin, meskipun bulan Maret tinggal beberapa hari lagi.


Cuaca hari ini tidak sebagus kemarin karena di luar tampak mendung. Akan tetapi, suasana hati Sharon justru cukup bagus.


"Pagi, Nona Sharon."


Sharon meletakkan tasnya dan tersenyum pada Delvina berkata, "Pagi, Sekretaris Delvina."


Sharon menaikkan alisnya dan berkata, "Oke."


Sekarang Juhri tidak ingin mengurus apa pun dan melempar pekerjaannya pada orang lain, atau benar-benar tidak ingin melakukannya lagi?


Sharon memikirkannya sebentar, lalu berkata, "Kamu selidiki Juhri, apakah dia melakukan sesuatu akhir-akhir ini."

__ADS_1


Sharon dikirim oleh kantor pusat untuk menjabat di sini. Oleh karena itu, Juhri sering mempersulit dia. Bahkan, awalnya dia yang bertanggung jawab atas proyek tersebut, tetapi sekarang dia tiba-tiba melemparkan proyek ini padanya di saat yang paling sensitif.


Perusahaan Wins berencana untuk membangun taman bermain di daerah Allium Kota Namika. Daerah Allium sangat luas dan jarang ada penduduk. Akan tetapi, area yang direncanakan kebetulan berpas-pasan dengan sebuah desa dan desa itu berada di tengah. Jika melewati desa ini, akan memengaruhi keutuhan taman bermain. Oleh karena itu, perusahaan bagian pusat sudah mengeluarkan dokumen pada bulan Oktober tahun lalu agar Juhri bisa pergi merundingkan kompensasi atas pembongkaran dan sekaligus membeli tanah tersebut.


Tahun lalu bulan sebelas lebih, Sharon bercerai dengan Cruise. Setelah bercerai dan kembali ke rumah, dia samar-samar mendengar Eric mengungkit masalah Perusahaan Wins di Kota Namika yang masih belum merundingkan kompensasi untuk pembongkaran.


Konon katanya negosiasi di awal adalah enam belas juta per meter persegi. Lagi pula, tempat itu juga pinggiran kota yang terpencil. Dari 35 keluarga penduduk desa, 28 di antaranya sudah menandatangani kontrak. Lalu, lima dari tujuh sisanya mengajukan dua puluh juta per meter persegi. Sedangkan, 2 keluarga lainnya menuntut Perusahaan Wins untuk memberikan kompensasi rumah di bawah naungan Perusahaan Wins di pusat Kota Namika sesuai dengan jumlah orang di kartu keluarga mereka, itu berarti satu rumah per orang.


Masalah ini tertahan di sini dan belum terselesaikan sampai sekarang.


Lalu, 28 keluarga penduduk desa yang awalnya sudah menandatangani kontrak pun ada yang menyesal dan ikut menaikkan harga kompensasi.


Ini sudah ketiga kalinya Perusahaan Wins Kota Namika dan Desa Simudati merundingkan rencana kompensasi. Mengenai harga kompensasi, Sharon tidak bisa mengambil keputusan apapun. Sekarang Juhri malah melemparkan masalah sulit ini padanya, pasti dia ingin membuatnya depresi. Jika tidak, untuk apa lagi?


Delvina langsung mengerti pemikiran Sharon dan berkata, "Aku mengerti, Nona Sharon."

__ADS_1


Sharon menganggukkan kepala dan melihat punggung belakang Delvina. Suasana hatinya yang baik seharian ini hancur begitu saja karena Juhri.


__ADS_2