
Baru saja Sharon ingin bertanya apa yang terjadi, sekretarisnya Fendy sudah berkata, "Bu Sharon, Sekretaris Delvina, maaf, sepertinya mobil mogok."
"Tidak apa-apa," ujar Sharon.
Setelah Sharon menjawabnya, dia turun dari mobil karena merasa pengap di dalam. Sekretarisnya Fendy sedang menelepon orang di samping.
Delvina berjalan ke depannya dan berkata dengan ragu, "Nona Sharon."
Sharon menundukkan kepala dan melihatnya sekilas. Lalu, dia berkata dengan santai, "Tidak perlu takut. Ini negara hukum, Fendy juga tidak akan berani melakukan sesuatu yang kelewatan."
Selesai Sharon berbicara, tiba-tiba suara rentetan mobil terdengar. Senyuman yang ada di wajahnya pun perlahan menghilang. Lalu, dia mendongakkan kepala dan melihat ke belakang ada tiga sampai empat motor mendekat.
Lampu dari mobil tersebut terlalu menusuk. Sharon mengangkat tangannya untuk menutup lampu tersebut dan menyipitkan matanya. Setelah itu, sebuah motor besar tiba-tiba berhenti di depannya, "Cantik, ada yang perlu aku bantu?"
Pria tersebut terlihat mesum dan berandalan. Pakaian yang dikenakan juga tampak longgar. Lalu, ada tato naga di lehernya.
Selesai dia berbicara, di belakangnya diikuti beberapa motor lainnya. Kemudian, mengepung Sharon dan Delvina.
Delvin bergerak maju menghalangi Sharon dan melihat pria tersebut dengan dingin, "Tidak perlu. Terima kasih."
Pria tersebut tersenyum mendengus. Lalu, ekspresi wajahnya pun menjadi sangat galak dan berkata, "Aku tidak bertanya padamu, untuk apa ikut campur?"
Sharon langsung menarik Delvina dan tersenyum pada pria tersebut, "Aku mau pergi ke kantor polisi, apakah kalian bisa membantu?"
__ADS_1
"Bisa!" ujar pria tersebut.
Pria tersebut menundukkan kepala untuk menyalakan rokok. Lalu, menyipitkan mata untuk melihat Sharon, "Kalau cewek cantik sepertimu sudah buka suara, jangankan kantor polisi. Sekalipun harus melewati gunung dan laut pun aku juga akan pergi."
Senyuman di wajah Sharon seketika menghilang dan berkata, "Barusan aku sudah lapor polisi."
"Lapor polisi? Ucapanmu menarik sekali. Kami 'kan ingin membantu kamu. Kalau kamu lapor polisi malah hanya menyia-nyiakan tenaga polisi saja. Nanti kamu mau bilang apa pada polisi? Tato ini membuatmu takut?"
Pada saat ini, sekretarisnya Fendy sudah memutuskan telepon dan berjalan mendekat. Lalu, dia berkata dengan nada mengancam, "Apa yang ingin kalian lakukan?"
"Sana pergi! Tidak ada hubungannya denganmu!" ujar pria tersebut.
Sekretarisnya Fendy masih berdiri di tempat dan berdiri di depan Sharon. Akan tetapi, beberapa orang tersebut turun dari motor dan ada dua orang yang langsung menahan Bowo.
Begitu Sharon turun, dia sadar bahwa arah jalannya berbeda. Sepertinya sekretarisnya Fendy memang sengaja membawa mereka ke sini.
Akan tetapi, saat ini bukan waktunya untuk mempermasalahkan hal ini. Kondisinya dan Delvina saat ini memang hanya bisa pasrah saja.
Sharon mendengus dan tersenyum, "Aku bisa menjaga harga dirimu, tapi kamu sudah membuat temanku ketakutan."
Di bawah sinar bulan, senyuman Sharon memang seperti seorang pelacur yang sangat menggoda.
Pria tersebut mendengus dingin di dalam hati dan mencoba tetap tenang, "Oh, kalau begitu aku minta maaf pada nona ini."
__ADS_1
Selesai berbicara, pria tersebut kembali melihat Sharon dan berkata, "Cantik ...."
Dia menunjuk ke arah kursi belakang motornya untuk memberi isyarat pada Sharon agar naik."
"Nona Sharon ....."
Delvina pun menarik tangan Sharon karena tidak ingin Sharon pergi.
Sharon menatap Delvina sambil menggelengkan kepala. Sebelum pergi, dia mengangkat tangan dan menulis angka "110" di telapak tangan Delvina.
Delvina mengerti maksud Sharon, tetapi dia tetap mengkhawatirkan Sharon. Apalagi mereka ramai dan di sampingnya ada seorang pengkhianat. Saat ini, dia juga tidak tahu posisi dirinya ada di mana. Sekeliling ini juga sangat tenang dan di pinggir jalan dipenuhi dengan rumput liar.
Pada kondisi seperti ini, Delvina juga tahu sekalipun dia dan Sharon ingin kabur, mereka juga tidak bisa kabur ke mana-mana.
Cara Sharon saat ini adalah yang terbaik. Akan tetapi, Sharon adalah putri satu-satunya dari Keluarga Tamin. Sebelum datang ke sini Eric sudah mengingatkannya untuk menjaga Sharon.
Keluarga Tamin sangat baik padanya, jadi bagaimana mungkin dia tega melihat Sharon dalam bahaya sendirian.
"Sekretaris Delvina, ini sudah larut. Lebih baik kamu balik duluan untuk beristirahat. Besok masih ada rapat di pagi hari."
Sharon menyadari apa yang dipikirkan oleh Delvina. Oleh karena itu, dia langsung buka suara agar Delvina pergi.
Delvina baru saja ingin berkata sesuatu. Akan tetapi, Sharon sudah ditarik oleh pria itu untuk naik ke atas motor. Tak lama, beberapa motor tersebut langsung melaju jauh hingga tidak kelihatan bayangan apapun lagi.
__ADS_1