
Pukul enam malam, tepat jam pulang kerja, Delvina mengetuk pintu dan masuk untuk mengingatkan Sharon, "Nona Sharon, jadwal acara makan malam pukul enam tiga puluh."
Mendengar perkataan Delvina, Sharon mendongakkan kepala dan melihatnya sekilas. Setelah itu, dia mengangkat tangannya untuk memijat pelipisnya dan berkata, "Oke."
Untuk pergi ke hotel dari sini membutuhkan waktu 20 menit apabila tidak macet.
Sharon mematikan laptop. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil tas yang ada di samping dan langsung keluar dari kantor.
Devina sudah menunggunya di depan pintu. Kemudian, dia berkata, "Nona Sharon, apakah perlu memanggil supir?"
Sharon mengesampingkan kepalanya untuk melihat Delvina sekilas dan berkata, "Tidak perlu. Aku langsung bawa mobil saja ke sana."
Jika dia benar-benar harus minum bir, nanti dia akan menyewa supir.
"Baik, Nona Sharon," ujar Delvina.
Keduanya langsung pergi ke tempat parkir di lantai -1. Ketika Sharon melihat Delvina mengikutinya, dia menghentikan langkahnya dan berkata, "Kamu juga bawa mobil saja."
Daripada Delvina kesulitan untuk pulang nanti.
Delvin tercengang sebentar. Lalu, ketika tersadar dari lamunannya, dia langsung mengiyakan dan berjalan ke mobilnya yang ada di samping.
Selama perjalanan, Delvina memberi Sharon laporan rinci tentang perwakilan desa kali ini melalui telepon.
__ADS_1
Yang menghadiri acara makan malam hari ini ada Reza Samsudin, kepala desa dari Desa Simudati dan juga Raffi Satria, ketua komite desa.
Menurut penyelidikan Delvina, Reza yang memimpin para penduduk desa untuk menyetujui dan menandatangani kompensasi pembongkaran. Akan tetapi, orang yang memimpin untuk mundur dan merobek kontrak juga dia. Oleh karena itu, bisa dilihat bahwa kepala desa ini tampaknya juga tidak sederhana. Dia terlihat sangat paham terhadap perubahan situasi.
Sharon tersenyum dan berkata, "Orang yang pintar."
Dia suka bernegosiasi dengan orang pintar.
Delvina yang berada dibalik telepon pun mengiyakan dan mulai memperkenalkan Raffi, "Raffi terlihat seperti mengikuti arus. Dalam kompensasi pembongkaran ini, dia ikut menandatangani kontrak, dia juga ikut untuk membatalkan kontrak. Padahal, sebenarnya dialah yang menyuruh Reza untuk memimpin pembatalan kontrak satu bulan yang lalu."
Sharon mendengus dan berkata, "Menarik."
Lampu merah di depan sudah menyala. Sharon pun sudah kurang lebih tahu kondisinya dan berkata, "Baiklah. Aku kurang lebih sudah tahu apa yang terjadi. Sekretaris Delvina, aku matikan telepon dulu."
"Sampai jumpa," ujar Sharon.
Kondisi jalan hari ini cukup baik, tetapi dalam waktu 25 menit mereka baru tiba di depan pintu hotel.
Ketika mereka berdua tiba di ruangan VIP, masih ada waktu dua menit dari waktu yang sudah ditentukan.
Pelayan mengangkat tangan untuk mendorong pintu terbuka. Sharon pun melangkahkan kakinya dan berjalan masuk.
"Pak Reza, Pak Raffi, saya Sharon, manajer dari Perusahaan Wins. Hari ini Pak Juhri ada urusan, jadi dia mengutus saya untuk datang bernegosiasi dengan anda. Tadi di jalan sedikit macet, jadi saya datang sedikit terlambat. Saya harap anda tidak keberatan."
__ADS_1
Mendengar perkataan Sharon, Reza dan Raffi memiliki ekspresi yang berbeda. Reza terlihat tidak senang dan Raffi tidak ada perubahan apa-apa. Justru dia tersenyum kepada Sharon dan mempersilakan Sharon untuk duduk.
Setelah duduk, Reza dan Raffi saling bertatapan sekilas. Ekspresi wajah Reza sudah kembali normal dan berkata, "Bu Sharon terlalu sungkan. Kita janjian pukul setengah tujuh, Anda juga tidak terlambat. Kami yang datang kepagian."
Sharon tersenyum dan basa-basi berkata, " ... sudah jam makan malam, kalian pasti sudah lapar. Bagaimana kalau kita pesan makan dulu?"
Usia Reza dan Raffi kurang lebih sama sekitar 40-an tidak sampai 50 tahun. Sebelum datang ke sini, Delvina sudah melakukan penyelidikkan bahwa mereka berdua suka minum bir.
Sharon langsung meminta pelayan untuk menyajikan sebotol Maotai. Lalu, ketika bir datang, Sharon bersulang terlebih dahulu dan berkata, "Saya akan minum bir ini sebagai hukuman karena sudah membiarkan anda menunggu lama."
Ketika dia berkata, dia mengangkat kepalanya dan minum.
Bir yang aromatik itu memasuki tenggorokan. Kemampuan minum bir Sharon cukup baik, jadi dia masih bisa minum beberapa gelas alkohol.
Hidangan pun dengan cepat sudah disajikan. Hampir sepanjang waktu Sharon lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dia juga hanya membalas bersulang sekali ketika mereka mengajak bersulang.
Waktu terus berlalu setiap menit setiap detik. Mereka juga sudah makan hampir selesai, bahkan dua botol Maotai juga sudah habis. Melihat Sharon yang tak kunjung buka suara, Reza dan Raffi pun mulai tidak sabaran dan berkata, "Bu Sharon, Anda langsung pada intinya saja. Apakah perusahaan kalian bisa memenuhi permintaan kami atau tidak? Kalau bisa, kami semua akan menandatangani kontrak sesegera mungkin. Lagi pula, kalau tertunda terlalu lama juga tidak baik untuk perusahaan kalian."
Sharon sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataan tarik ulur dari Reza. Dia malah menatap Reza dan tersenyum berkata, "Pak Reza, saya juga mengerti maksud anda. Tapi, saya ada beberapa informasi yang ingin saya sampaikan pada anda."
Sambil berbicara, Sharon menyampingkan kepala untuk melihat Delvina sekilas. Kemudian, Delvina memberikan rencana yang sudah disiapkan sejak awal.
Sharon melihat sekilas ke arah mereka berdua dan berkata dengan datar, "Lokasi Desa Simudati memang berada di tengah pusat. Kalau penduduk desa kalian tidak mau pindah, itu memang akan berdampak besar pada perencanaan penggunaan lahan kami. Tapi, setelah beberapa hari diskusi, kami menyadari bahwa bukannya tidak ada cara untuk menyelesaikan masalah ini. Kami mengerti bahwa penduduk desa kalian enggan meninggalkan kampung halaman mereka. Kami juga tidak tega melihat penduduk desa harus pindah, jadi kami membuat rencana baru untuk menghindari desa dengan mudah. Kalau penduduk desa kalian benar-benar enggan pindah, kami bisa memulai rencana kedua."
__ADS_1
Begitu perkataan Sharon terlontarkan, Reza dan Raffi langsung saling bertatapan. Di antara mereka, Reza yang sudah sedikit mabuk karena minum beberapa gelas bir pun langsung menepuk meja sambil berdiri dan berkata, "Bu Sharon sedang mengancam saya?"