Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 32. Nona Carolin Ingin Berlutut?


__ADS_3

Carolin menangis sambil mengadu. Sharon tetap berdiri di tempat tanpa bergerak sama sekali. Bahkan dari tubuhnya terpancar aura yang sangat dingin dan menatap Cruise dan Lando yang ada di depan pintu dengan dingin.


Sekujur tubuh Carolin tampak menyedihkan, dia memeluk lengan Cruise sambil menangis tersedu-sedu.


Raut wajah Cruise tampak sangat serius dan menatap Sharon seolah ingin menelannya.


Lando yang berada di samping menarik napas dan berkata, "Sharon, sepertinya kamu tidak perlu melakuan hal yang separah ini?"


Novi membuang muka dan berkata, "Nona Carolin benar-benar sangat hebat berpura-pura. Kamu yang mulai duluan tapi sekarang malam ketakutan dan mengadu."


Selesai Sharon menyeka tangannya, dia menatap Cruise dengan datar dan berkata, "Cepat juga datangnya."


Sambil berbicara, Sharon mendengus dan berkata, "Keluarga Thomson tidak bisa mengajari Nona Carolin, kalau begitu, aku terpaksa harus mengajarinya."


Selesai berbicara, dia menoleh dan melihat Novi, "Ayo pergi, kita pergi makan."


Sharon berjalan ke arah luar seolah tidak terjadi apa-apa.


Tentu saja, dia menganggap Cruise layaknya tidak ada.


Ketika dia berjaan ke depan pintu, Cruise yang tampak dingin mengangkat tangan untuk menahan Sharon dan berkata, "Minta maaf."

__ADS_1


"Pak Cruise yakin ingin aku minta maaf?" tanya Sharon.


Mendengar perkataan Cruise, Sharon menoleh dan menatapnya. Setelah itu, dia tersenyum tipis dan kedua bola matanya tampak sangat dingin.


Pada saat ini, Carolin yang merasa dilindungi tiba-tiba berteriak keras, "Aku tidak ingin dia minta maaf. Aku ingin dia keluar dan berlutut padaku!"


Seumur hidupnya ini, Carolin tidak pernah merasa sesedih ini.


Sharon tertawa dan melihat Carolin dengan tersenyum samar, "Nona Carolin ingin berlutut?"


"Sharon!" ujar Carolin.


Cruise mendengus dingin. Sikap arogan Sharon benar-benar membuatnya sangat emosi.


Mendengar perkataan Carolin, Cruise mengangkat alis dan berkata, "Pergi ke rumah sakit."


Akan tetapi, Carolin tidak ingin pergi karena dia sama sekali tidak rela. Dia ingin Sharon memohon padanya dan berkata, "Aku tidak mau, Kak! Dia memberikan obat padaku! Aku ingin lapor polisi! Dia menculik aku dan memberi obat padaku!"


"Oke! Kalau begitu, aku bantu Nona Carolin untuk lapor polisi," ujar Sharon.


Sharon mengeluarkan ponsel dan langsung menekan "110". Hanya saja, sebelum dia menelepon, dia melihat sekilas ke arah Carolin dan berkata, "Sekalian aku ingin mengecek masalah aku diculik kemarin malam."

__ADS_1


Carolin seketika menjadi ketakutan. Kedua kakinya juga menjadi lemas karena efek obat yang ada di dalam tubuhnya. Dia bersandear di lengan Cruise dan merosot ke bawah.


Cruise mengulurkan tangan untuk menariknya. Carolin melirik sekilas ke arah Sharon, lalu Sharon juga sedang menatapnya dan berkata, "Aku sudah lapor polisi. Nona Carolin harus bertahan sedikit ya, nanti kita ke kantor polisi untuk membuat laporan."


Carolin tiba-tiba sedikit merasa takut pada Sharon. Apa yang dia lakukan memang tidak terlalu tertutup, jadi apabila hal ini terungkap, maka dia akan masuk penjara.


Memikirkan hal ini, Carolin menjadi takut dan berkata, "Kakak, aku merasa tidak enak. Aku mau pergi ke rumah sakit, aku benar-benar merasa tidak enak ...."


Cruise menggendong Carolin dengan ekspresi dingin. Sebelum pergi, dia menatap Sharon dengan dingin. Sharon bahkan menatapnya balik dengan datar tanpa menghindar.


Awalnya Carolin hanya membesar-besarkan ketidaknyamanannya karena efek obat tersebut. Akan tetapi, semakin lama dia merasa efeknya semakin hebat dan mulai merasa tidak nyaman.


Pada saat ini, kesadarannya mulai membuyar dan mulai berteriak menangis ingin melepaskan pakaiannya.


Cruise pun tak lagi berlama-lama dan langsung menggendong Carolin pergi ke rumah sakit.


Novi cemberutkan bibir dan berkata dengan tidak puas, "Kalau tahu, kita datang lebih awal. Begitu efek obatnya sudah bereaksi, kita buang dia keluar agar dia tahu diri!"


Sharon juga merasa sedikit menyesal, tetapi dia tahu, efek dari obat tersebut benar-benar sangat menyakitkan, "Biarkan saja, anggap saja lepaskan dia dulu."


Apabila ada kesempatan sekali lagi, dia tidak akan sebaik ini.

__ADS_1




__ADS_2