Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 93. Tidak Mempunyai Prinsip


__ADS_3

Jika orang lain yang mendengar perkataan Dion ini, pasti sejak awal telinga sudah panas dan wajah memerah. Akan tetapi, Sharon hanya merasa jantungnya sedikit berdebar  dan tidak ada emosi apa pun lagi.


Sharon berdiri di sana dengan senyum wajah tenang dan berkata, "Sepertinya ini bukan sesuatu hal yang menarik."


Ketika Dion mendengar perkataan Sharon, dia tampak biasa saja dan hanya tersenyum, "Kalau begitu, lupakan saja."


Dion sama sekali tidak merasa canggung karena pernyataan cintanya di tolak, "Makan camilan malam?"


"Tuan Muda Dion ingin makan apa?


Dion memberitahu nama tempatnya, tetapi Sharon tidak pernah mendengarnya. Dion pun sudah menduga bahwa Sharon tidak tidak tahu tempat, jadi dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan maps.


Perlu diakui, Dion memang sangat jago dalam hal bersenang-senang, jadi tempat yang dia pilih selalu bagus.


Ketika Sharon baru saja mengikuti Dion masuk, dia sudah mendengar ada orang yang menyapa Dion. Ternyata ini tempat makan bubur seafood. Lingkungannya sangat bagus dan tidak terlihat seperti tempat makan seafood, tetapi lebih mirip tempat makan barat.


Sebenarnya jam segini masih tidak terlalu larut, tetapi orang di dalam toko tidak terlalu banyak.


Dion memilih tempat duduk yang lebih tenang. Kemudian, dia memberikan menu kepada Sharon sambil menjelaskan, "Di sini masih ada bbq, tapi baru ada mulai jam sembilan. Coba kamu lihat ingin makan apa, nanti aku akan meminta orang membuatkannya untukmu."


Sharon mengerutkan kening dan berkata, "Pamor Tuan Muda Dion cukup besar juga."


Dion menatap Sharon dan tersenyum santai berkata, "Tentu saja mereka tidak akan berani macam-macam pada bos."


Mendengar perkataan itu, Sharon mendongakkan kepala dan melihat Dion sekilas, "Aku sedikit terkejut."


"Terkejutnya karena sesuatu hal yang baik atau yang buruk?"


Dion bersandar di sandaran kursi dan menatap Sharon dengan mata persiknya itu. Sharon pun mengakui bahwa senyuman yang ada pada mata persik Dion itu memang bisa membuat orang menjadi berdebar.

__ADS_1


Akan tetapi, dia baru saja bercerai, jadi dia jauh lebih sadar dibandingkan orang biasa.


Sharon mengerutkan kening dan tersenyum datar, "Tentu saja yang baik."


Dion tersenyum dan tidak bertanya lebih lanjut.


Dion adalah sosok orang yang tahu batasan, bagaimanapun dia sangat jago dalam mengambil hati lawan jenis.


Setelah memesan makan, Sharon juga langsung terus terang, "Temanku dalam kesulitan, jadi ingin meminta bantuan Tuan Muda Dion."


Dion mengernyitkan kening memberikan isyarat pada Sharon untuk lanjut mengatakannya.


"Junifer menyewa lantai A11 dan A21 di Taman Indah, dia ingin menjadikan kedua lantai tersebut menjad satu."


"Secara prinsip, toko yang ada di sana memang tidak mengizinkan lantai atas dan bawah dijadikan satu. Tapi, ...."


Dion tiba-tiba menyampingkan badan hingga jarak di antara mereka berdua hanya berjarak setengah meter. Sharon bahkan bisa mencium aroma parfum yang ada pada tubuh Dion.


Karena kamu sudah buka suara, aku pun tidak punya prinsip apa pun.


Perkataan ini memang sangat mudah membuat hati orang tergoda.


Akan tetapi, sayang sekali, saat ini Sharon sudah mati rasa.


Sharon juga menatapnya dan menjawabnya dengan tenang, "Kalau begitu, terima kasih Tuan Muda Dion."


Dion pandai dalam hal bersenang-senang, makan dan minum. Oleh karena itu, semua rasa harus diterima oleh Dion terlebih dahulu, terlebih tempat ini milik dia.


Rasa bubur seafood ini tentu saja sangat enak. Awalnya Sharon tidak terlalu lapar, tetapi tanpa disadari dia juga makan dua mangkuk.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya?"


"Sangat enak."


Dion mengambil tisu untuk menyeka ujung bibirnya, lalu berkata, "Lain kali aku akan mengajakmu ke tempat lain."


Sharon menatap mata persik Dion yang tersenyum dan menatapnya dengan misterius, lalu berkata, "Oke."


Mendengar Sharon berkata "Oke", senyuman dibalik mata persik tersebut semakin jelas.


Akan tetapi, begitu perkataan ini sudah terlontarkan, Sharon juga sudah tidak bisa menarik kembali perkataannya.


Dion juga masih tahu batasan, jadi dia langsung mengalihkan topik pembicaraan dan berkata, "Aku antar kamu."


"Bukankah kamu minum alkohol?"


Sharon menatapnya sambil tersenyum.


"Lebih tepatnya aku menemani kamu pulang."


"Tidak perlu repot-repot."


"Aku tidak merasa repot."


Sharon pun membasahi bibirnya dan tidak menolak karena dia yang buka suara untuk meminta bantuan.


Malam ini benar-benar sebuah kebetulan. Ketika mereka mau makan malam, mereka bertemu dengan Cruise dan yang lainnya. Sekarang datang ke sini untuk makan camilan malam pun juga bertemu dengan mereka.


Akan tetapi, mereka datang ketika Sharon dan Dion sudah mau beranjak pergi. Jadi, mereka pun bertemu tanpa sengaja di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2