Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 69. Keberuntungan Kurang Baik


__ADS_3

Pemandangan di samping terlalu jelas. Sharon tidak menyangka dia akan melihat mobil Cruise di samping mobilnya ketika dia menoleh.


Ck! Keberuntungan hari ini kurang baik.


Sharon menaikkan alisnya dan segera menarik kembali pandangannya.


Pukul 09.00, Delvina meneleponnya dan berkata, "Nona Sharon, apakah Anda akan menghadiri rapat nanti?"


"Aku akan hadir. Kamu bilang pada Pak Juhri bahwa aku terjebak macet. Aku akan tiba dalam waktu sepuluh menit," ujar Sharon.


"Baik. Aku mengerti, Nona Sharon," ujar Delvina.


Baru saja memutuskan panggilan telepon, jalanan di depan juga sudah lancar.


Sharon langsung melajukan mobil dan menuju ke Perusahaan Wins. Rapat akan dimulai pukul 09.00, jadi begitu dia tiba, ruangan rapat sudah penuh.


Sharon berjalan dengan hak tinggi dan mendorong pintu masuk. Juhri mendongakkan kepala melihat Sharon sekilas dengan ekspresi tidak menyangka dan berkata, "Manajer Sharon sudah datang. Ayo kita mulai rapatnya."


Sharon tidak merasa keberatan karena dia memang datang terlambat. Baik dalam faktor subjektif maupun objektif, dia memang terlambat.

__ADS_1


Topik utama pertemuan rapat hari ini untuk membahas kompensasi pembongkaran Desa Simudati daerah Allium di Kota Namika. Kemarin malam Sharon yang bertanggung jawab atas proyek ini. Hasil pertempuan kemarin juga sudah bisa dibayangkan seperti apa. Meskipun pertemuan negosiasi tidak kacau, raut wajah kedua perwakilan tersebut tampak tidak senang ketika beranjak pergi.


Itulah kenapa pagi ini Juhri merasa kesulitan.


Sharon bukanlah orang yang mudah ditindas oleh orang lain. Jadi, begitu Juhri selesai berbicara dengan ekspresi dinginnya itu, dia langsung buka suara, "Pak Juhri, apa yang Anda katakan tidak benar. Aku sudah melihat rencana pembongkaran. Meskipun memang tidak bisa mengabaikan proyek mereka demi keseluruhan taman bermain, pihak kantor pusat sudah meminta desainer untuk membuat rencana candangan sejak awal bulan februari tahun ini. Jadi, apa yang aku katakan pada Pak Reza dan Pak Raffi kemarin malam bukan hanya omong kosong saja. Bukankah dalam dunia bisnis cara bekerja sama selalu seperti ini? Kalau cocok ya jalan, kalau tidak cocok ya bubar. Karena kita sudah memiliki rencana kedua, untuk apa kita harus selalu mengalah pada mereka?"


Ucapan Sharon mungkin terdengar kasar, tetapi apa yang dikatakan adalah kenyataan. Seketika, suasana ruang rapat menjadi penuh tekanan. Karena bagaimanapun, dia adalah seorang manajer yang baru dikirim ke sini, tetapi dia sudah berani melawan Juhri seperti itu hanya dalam waktu beberapa hari.


Juhri sudah bertahun-tahun berada di Perusahaan Wins. Dia bahkan membutuhkan waktu lama untuk bisa seperti sekarang ini. Berbeda dengan Sharon yang malah langsung dikirim oleh kantor pusat ke sini. Orang yang pengetahuannya luas pasti tahu bahwa Sharon sangat luar biasa.


Orang-orang yang ada di ruang rapat ini sangat cerdik. Mereka tidak berani menyinggung siapa pun dan memilih untuk terdiam.


Sharon sudah menduga hal ini sejak awal. Dia tersenyum dan langsung melihat ke arah Yoshua yang berada di samping Juhri. Lalu, dia berkata, "Pak Yoshua, bagaimana menurut Anda?"


Yoshua dan Juhri terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya dibalik itu ada konflik di antara mereka berdua. Sharon sengaja menyinggung dia, tetapi reaksi dia tidak seperti yang lainnya. Dia justru semakin memprovokasi, "Bu Sharon masih muda, tapi kesadaran akan pengetahuannya sangat tajam. Aku juga merasa apa yang dikatakan Bu Sharon benar. Selama beberapa waktu ini, Desa Simudati selalu memanfaatkan masalah proyek kita yang tidak bisa melewati desa sebagai alasan dan terus menekan kita. Jadi, kalau kantor pusat sudah memiliki rencana kedua, kenapa kita tidak menggunakannya?"


Setelah Yoshua buka suara, manajer departemen yang berada di samping juga mengiyakan.


Oleh karena itu, raut wajah Juhri pun menjadi masam dan melihat Sharon sekilas, lalu berkata, "Karena kalian semua merasa apa yang dilakukan Bu Sharon benar, kalau begitu aku tunggu kabar baiknya."

__ADS_1


Juhri mengucapkan beberapa kata terakhir dengan menggertakkan gigi.


Sharon melihat Juhri sambil bersenyum, "Aku tidak akan membuat Pak Juhri kecewa."


Sharon menang tipis dari Juhri pada pertarungan kedua.


Ketika Juhri pergi, wajahnya tampak memucat. Sharon mengobrol dan mengucapkan beberapa kata pujian kepada Yoshua. Setelah itu, dia baru membalikkan badan meninggalkan ruangan rapat.


"Nona Sharon."


Baru saja Sharon duduk, Delvina sudah mengetuk pintu dan masuk.


Sharon merespons dan berkata, "Kenapa?"


"Hari kamis Direktur Eric akan datang. Menurut Anda ...."


Sharon tahu bahwa kedatangan Eric ke sini untuk melakukan "pengecekan". Oleh karena itu, dia berpikir sebentar dan berkata, "Kalau begitu, kamu bantu aku untuk atur waktu. Aku akan pergi menjemput Direktur Eric di bandara."


Bagaimanapun, dia masih ayah kandung, jadi pelayanan penjemputan di bandara masih diperlukan.

__ADS_1


__ADS_2