
Setelah beberapa motor tersebut pergi, sekretarisnya Fendy berpura-pura mengkhawatirkan Delvina. Delvina pun menatapnya dengan tanpa ekspresi dan berkata, "Lebih baik kalian banyak berdoa semoga Nona Sharon tidak kenapa-kenapa. Kalau tidak, siapapun tidak akan ada yang bisa membantu kalian!"
Di dalam hati sekretarisnya Fendy, dia meremehkan Delvina. Akan tetapi, dia tetap berpura-pura takut.
Baru saja Delvina mengambil ponsel untuk lapor polisi, dia mendapat whatsapp dari Sharon, "Aku akan mengirim lokasinya. Jangan lapor polisi dulu, kamu beritahu Novi agar mereka datang mencariku."
Perjalanan mereka sekitar dua puluh menit dan tak lama motor pun berhenti di depan sebuah hotel.
Sharon turun sendiri dari motor, lalu tersenyum tipis pada pria tersebut dan berkata, "Di hotel ada cemilan malam?"
"Kamu tidak mengerti. Di dalam hotel, semakin malam semakin menarik."
Sharon tidak berkata apa-apa. Dia sudah mengikutnya sampai di sini, jadi dia juga sudah tidak bisa kabur.
Sharon mengikuti pria tersebut masuk ke dalam hotel dengan santai dan tenang. Melihat Sharon yang seperti itu, pria tersebut pun mengangkat alisnya dan berkata, "Cantik, besar juga nyali kamu."
Sharon hanya memelototinya sekilas tanpa berbicara apapun. Lalu, dia memasuki sebuah ruangan VIP.
Baru saja masuk ke dalam, pria tersebut menuangkan segelas wiski padanya, "Aku juga tidak akan mempersulit kamu. Melihatmu begitu mudah diajak kompromi, kamu bisa pergi setelah meminum bir ini."
Sharon melihat ke arah wiski yang ada ditangannya dan berkata, "Kalau aku tidak mau minum?"
"Kalau begitu kamu termasuk tudak menurut. Aku tidak suka orang yang tidak menurut," ujar pria tersebut.
Selesai pria tersebut berbicara, Sharon mengulurkan tangan untuk mengambil gelas bir tersebut dan meneguknya.
Selesai Sharon meminumnya, dia meletakkan gelasnya dan berkata, "Aku sudah minum habis, sudah boleh pergi, 'kan?"
__ADS_1
"Prok, prok, prok." Pria tersebut bertepuk tangan dan berkata, "Luar biasa! Silahkan."
Pria tersebut berbicara sambil memperagakan tangan menunjuk ke arah pintu.
Akan tetapi, Sharon tidak pergi. Dia tahu bahwa di dalam bir itu pasti ada sesuatu.
Dia masuk ke dalam ruangan VIP dan duduk di dalamnya. Melihat dia yang tidak pergi, pria tersebut terkejut dan berkata, "Kamu tidak pergi?"
"Aku agak pusing, memangnya duduk sebentar tidak boleh?" ujar Sharon.
"Boleh, terserah kamu mau berbuat apa."
Melihat Sharon yang duduk di soga, dia pun mulai merasa simpati, "Menurutku lebih baik kamu pulang saja. Ini sudah terlalu larut, nanti semakin malam semakin tidak aman."
Sharon melihat pria tersebut dan berkata, "Kenapa tidak aman?"
Tak lama Sharon duduk, dia merasa tubuhnya sangat panas. Padahal di dalam ruangan tidak membuka alat pemanas, jadi seharusnya tidak mungkin sepanas ini.
Sharon pun segera menyadari bahwa obat yang ada di dalam bir tersebut adalah obat perangsang. Dia pun buru-buru mengeluarkan ponsel untuk menelepon Delvina dan menanyakan posisi mereka saat ini.
Begitu Delvina mendapatkan informasi dari Sharon, dia langsung menghubungi Novi. Mereka berdua langsung bertemu dan menuju ke lokasi tempat Sharon berada. Saat ini, di peta menunjukkan masih sekitar lima kilometer.
Baru saja Sharon memutuskan telepon. Pintu ruangan VIP tiba-tiba terbuka. Sharon tidak mengenal orang yang datang, tapi mereka malah mengenal Sharon. Lalu, pria tersebut berkata, "Nona Sharon, kami dibayar untuk melakukan hal jahat oleh orang lain. Maaf lho ya!"
Selesai pria tersebut berbicara, dia tersenyum ke dua orang yang ada dibelakang dan berkata, "Sana majulah. Paras dan postur tubuh Nona Sharon yang seperti ini, benar-benar untung banyak buat kalian."
Pria tersebut berbicara sangat vulgar sambil mengatur posisi kamera.
__ADS_1
"Ingat dua poin penting ini, lepas bajunya lebih terbuka, jangan menghalangi wajah Nona Sharon!"
Selesai pria tersebut berbicara, dia membalikkan badan pergi. Akan tetapi, Sharon menggertakkan gigi dan berkata, "Kalian dibayar berapa?"
Langkah kaki pria tersebut terhenti, dia menoleh dan melihat wajah Sharon yang merah merona dan tersenyum berkata, "Nona Sharon, aku adalah orang yang profesional."
Lalu, pria tersebut terdiam sebentar. Kemudian, bergumam pada Sharon, "Entah kalau video ini tersebar akan bagaimana ya?"
Selesai berbicara, dia keluar sambil menutup pintu.
Sharon merasa dirinya semakin panas. Dia juga sudah mulai semakin tidak sadarkan diri. Dia hanya berkata pada dua pria yang mulai melepaskan pakaian, "Lebih baiik jangan menyentuhku."
Kedua pria tersebut seolah mendengar lelucon. Mereka langsung membuka semua pakaian mereka dan hanya menyisakan celana boxer saja. Lalu, melirik ke arah Sharon dan berkata, "Nona Sharon, jangan panik. Pelayanan kita sangat bagus kok."
__ADS_1