
Nicole juga melihat Sharon. Dia pun tanpa sadar melirik ke
arah Cruise dan berkata, "Cruise, apakah itu Sharon?"
Cruise tidak berbicara. Hanya saja, kedua bola matanya
tampak dingin.
Sharon dengan cepat menarik kembali pandangannya seolah
tidak melihat mereka berdua. Lalu, dia langsung berjalan melewati Nicole dan
Cruise.
Dion sedikit memicingkan matanya dan melirik Cruise sekilas
dengan tersenyum samar. Kemudian, dia melangkahkan kakinya untuk mengejar
Sharon.
Begitu melihat sosok mereka berdua yang pergi menjauh,
Cruise baru menarik kembali pandangannya. Setelah itu, dia menatap Nicole
sekilas dengan dingin.
Tak mudah bagi Nicole untuk bisa mencari kesempatan kembali
ke sini. Melihat tatapan mata Cruise padanya, dia jadi khawatir Cruise akan
meminta Keluarga Pondi untuk mengirimnya kembali ke luar negeri lagi. Nicole
pun berkata dengan rasa bersalah, "Cruise, Lala ...."
"Cruise bukanlah sebutan yang bisa kamu panggil."
Mendengar perkataan Cruise tersebut, ekspresi Nicole memucat
dan sekujur tubuhnya membeku.
"Nona Sharon."
Delvina sudah memanggil supir sewaan, sepuluh menit lagi
supir akan datang.
Delvina menganggukkan kepala. Angin malam di bulan
Februari seperti pisau. Dia bahkan lebih tersadar dari sebelumnya. Lalu, dia
berdiri di pintu hotel sambil melihat sebuah mobil tidak jauh dan sedikit
__ADS_1
bengong.
Melihat Dion, Delvina sedikit tertegun dan berkata,
"Tuan muda Dion."
Dion melihat Sharon sekilas dan berkata, "Kalian
panggil supir sewaan?"
"Iya."
Delvina tahu bahwa Sharon tidak ada perasaan pada Dion,
apalagi Dion adalah seorang playboy. Bahkan, sepuluh hari yang lalu, Eric
sengaja menelepon Delvina agar dia menghindari Dion.
Oleh karena itu, ketika Dion bertanya padanya, dia juga
hanya mengiyakan saja dan tidak berbicara banyak.
Dion sedikit menaikkan alisnya, lalu menatap Sharon dengan
lekat-lekat tanpa bertanya apapun lagi.
Melihat raut wajah Sharon yang tidak terlalu baik, Delvina
berjalan ke samping Sharon dan berkata, "Nona Sharon, apakah Anda tidak
Mendengar perkataan Delvina, Sharon baru tersadar dari
lamunannya dan menggelengkan kepala berkata,
"Tidak."
Sharon melihat Dion dari sudut mata dan tersenyum berkata,
"Tuan muda Dion juga sedang menunggu supir sewaan?"
Dion menatap sepasang mata Sharon, lalu berkata,
"Menemani kamu."
Sharon tersenyum dan berkata, "Aku tidak menyangka Tuan
muda Dion memiliki hobi seperti ini."
Dion tersenyum samar menatap Sharon dan berkata,
"Hobiku adalah Nona Sharon. Seharusnya kamu tahu hal ini."
__ADS_1
Sharon menatapnya, lalu tersenyum datar tanpa membalasnya.
Pada saat ini, supir sewaan sudah datang. Sharon melihat
Dion sekilas dan berkata, "Tuan muda Dion, aku pulang dulu."
Ketika berbicara, Sharon sudah berjalan ke pintu mobil
belakang dan akan masuk mobil.
Melihat mobil Sharon yang sudah melaju jauh, Delvina baru
masuk ke dalam mobilnya sendiri dan membiarkan supir sewaan yang mengendarai.
Karena minum bir dan merasa pengap di dalam mobil, Sharon
membuka jendela mobil agar angin di luar bisa masuk ke dalam dan menerpa
wajahnya. Angin kencang menerapa wajahnya layaknya tamparan keras dan membuat
wajahnya kesakitan.
Akan tetapi, Sharon tak hanya merasa wajahnya sakit, hatinya
juga merasa sakit..
Benar-benar payah, Sharon.
Sharon memaki dirinya sendiri di dalam hati. Dia memejamkan
mata dan membiarkan bau alkohol melawan angin di luar.
Setelah terkena angin sepanjang perjalanan, Sharon merasa
kepalanya sakit ketika tiba di bawah apartemen.
Sharon mengambil kunci dari supir dan memijat pelipisnya.
Setelah itu, dia mengirim pesan pada Delvina dan masuk ke dalam lift.
Lift sangat pengap. Lalu, ketika dia tiba di lantai pertama,
Sharon tiba-tiba memiliki keinginan untuk merokok.
Sharon tidak pernah merokok. Novi sesekali akan merokok,
tetapi juga hanya main-main saja.
Baru saja Sharon keluar dari pintu apartemen, dia mendengar
ada orang yang memanggilnya.
__ADS_1
Dia pun menoleh dan melihat bahwa orang itu adalah Dion,
"Tuan muda Dion?"