
Sambil berbicara, Sharon tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Novi, "Aku pergi dulu."
Novi pun merasa terpukul oleh perkataan Sharon dan tidak memintanya untuk tetap di sini.
Meskipun sedikit marah, wajah Sharon itu memang terlalu cantik.
Jika memikirkannya, Novi merasa perkataan Sharon barusan ada benarnya juga.
Novi merasa dirinya juga tidak terlalu buruk. Jika berdiri di antara orang-orang biasa, dia masih bisa termasuk dalam wanita cantik. Akan tetapi, setiap kali bersama Sharon, semua orang yang mendekat pasti mencari Sharon bukan mencari dia.
Kasus terpecahkan! Ternyata wajah Sharon yang membuatnya tampak jelek.
Sharon tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Novi, perkataannya barusan hanya sembarang berbicara saja.
Hanya saja tak disangka perkataan Novi seperti memberikan pencerahan. Sebelum datang, Novi mengatakan bahwa di bar ada banyak sekali pria tampan, berondong yang polos dan bebas, pemberani juga pemalu dan jauh lebih baik daripada Cruise si bajingan itu.
Akan tetapi, kedatangan Sharon bukan untuk mencari pria tampan. Dia hanya ingin minum bir dan tentu saja dia akan langsung pergi ketika merasa lelah.
Pada saat di lantai bawah, tiba-tiba ada suara seorang laki-laki yang lantang berteriak, "Kakak, minta Instagramnya dong?"
__ADS_1
Pakaian yang dikenakan anak laki-laki tersebut tampak fresh, dia mengenakan baju kaos putih dengan luarkan kemeja hijau, lalu mengenakan celana panjang santai dan sepatu putih.
Di ruang yang penuh lampu warna-warni, laki-laki tersebut berdiri di depan Sharon dengan tampilan yang sederhana, fresh dan bersemangat. Apalagi ditambah dengan dua buah gigi gingsul ketika laki-laki tersenyum tersenyum, pasti ada banyak orang yang tidak akan bisa menolaknya.
Akan tetapi, Sharon bukanlah salah satu dari mereka. Dia melihat sekilas laki-laki tersebut dan tersenyum berkata, "Maaf ya, Kakak tidak main instagram."
Laki-laki tersebut menaikkan alis dan berkata, "Kalau begitu ... Facebook?"
"Tidak juga. Aku tidak memakai smartphone," ujar Sharon.
Laki-laki tersebut menarik kembali ponselnya, lalu membalikkan badan dan pergi.
Sambil berbicara, dia sedikit menundukkan kepala untuk melihat Sharon, lalu tersenyum hingga memperlihatkan gigi gingsulnya.
Sharon sedikit terkejut dan sangat kagum terhadap niat laki-laki tersebut. Kemudian, dia mengambil ponsel laki-laki tersebut dan menulis nomor ponsel, "Belajarlah dengan benar."
Selesai Sharon berbicara, dia pun tak tahan untuk tertawa dan melambaikan tangan. Setelah itu, dia pun pergi.
Laki-laki tersebut terpana dengan senyuman Sharon. Begitu tersadar, dia buru-buru berteriak, "Kak, namaku, Gerald Archie!"
__ADS_1
Gerald Archie, nama yang bagus.
Gerald tentu saja mengerti penolakan dibalik ucapan Sharon.
Akan tetapi, ini pertama kalinya dia menyukai seseorang, jadi tidak boleh menyerah semudah itu.
Setelah Gerald mendapatkan nomor ponsel Sharon, dia langsung kembali ke tempat duduknya. Dia menundukkan kepala melihat nomor yang ada di ponsel. Teman sekelas perempuannya ingin mengobrol dengan Gerald, tetapi melihat raut wajah Gerald yang terlihat datar, dia hanya bisa menyerah.
Meskipun mereka keluar untuk bersosialisai, tetapi orang yang pintar akan menyadari bahwa Gerald ditarik oleh para anak-anak laki itu untuk datang memenuhi kuota.
Apalagi dengan wajah Gerald yang seperti itu, mereka para perempuan yang wajahnya biasa saja juga tidak mungkin pantas untuk Gerald.
Gerald menatap nomor yang ada di ponselnya sebentar. Lalu, setelah memikirkannya sebentar, dia pun mengirimkan pesan ke nomor tersebut.
Tak disangka, dia akan langsung menelepon. Gerald pun terkejut, dia berdiri dan keluar dari bar, "Kak, kamu belum memberitahuku siapa namamu?"
"Gerald, apakah ibumu tahu kalau kamu suka menggoda orang?" ucap seseorang dari balik telepon.
Mendengar suara orang dari balik telepon, Gerald pun memaki dalam hati, 'Kak Dion?'
__ADS_1