
Sebuah mobil biru dengan cepat menghilang di hadapan mereka. Lando mengangkat alisnya dan berkata, "Kenapa sebelumbya aku tidak menyadari bahwa Sharon memiliki kepribadian yang menarik seperti itu?"
Novi yang baru saja hendak pergi menoleh sekilas ke arah Lando dan berkata, "Itu karena dulu kamu buta."
Selesai berbicara, pandangan Novi melirik sekilas ke arah Cruise. Sebelum pergi, dia bahkan mendengus dingin ke arah Cruise.
Apa boleh buat. Dia benar-benar tidak seloyal Sharon yang bisa menganggap Cruise seperti orang mati.
Novi menatap Lando dengan sengit, lalu mengambil kunci mobil dan masuk ke dalam.
Lupakan saja, tidak perlu memperpanjang masalah dengan anjing.
Lando merasa sakit hati dan baru saja ingin membalasnya, Novi dan yang lainnya sudah masuk ke dalam mobil masing-masing.
Dia hanya bisa menelan kembali kekesalannya, lalu menoleh ke arah Cruise, "Cruise, bagaimana perasaanmu ketika tatapan mata Sharon barusan bahkan tidak melihatmu sedikit pun?"
Cruise mendengus dingin dan berkata, "Pergi mati sana!"
Lando berkata, "Kalau marah karena malu juga tidak perlu seperti itu."
__ADS_1
Cruise sudah malas memedulikan Lando, jadi dia pun beranjak ke mobilnya. Kelak, dia tidak akan keluar bersama Lando lagi.
"Tuan Muda Cruise, lama tidak berjumpa." Pada saat ini, Dion juga berjalan keluar dari dalam bar. Lalu, dia menatap Cruise sambil tersenyum tipis dan mulai memprovokasi, "Ada satu hal yang ingin aku tanyakan pada Tuan Muda Cruise."
Lando tahu bahwa selama ini Dion selalu suka ribut dengan Cruise. Dia bisa datang ke sini pasti karena ingin mengejeknya.
"Memang Tuan Muda Dion belum lulus SD? Kenapa kamu suka sekali bertanya pada orang?"
Dion melirik sekilas ke arah Dion dengan senyum di wajah yang tidak berubah. Lalu, dia langsung bertanya pada Cruise, "Otak Tuan Muda Cruise apakah ada masalah? Bisa-bisanya malah bercerai dengan Sharon yang begitu oke."
Raut wajah Cruise seketika berubah menjadi tidak enak dilihat. Lalu, dia pun melihat ke arah Lando dan berkata, "Aku juga ingin tahu apakah mata Tuan Muda Dion buta atau tidak, bisa-bisanya menyukai wanita seperti Sharon!"
Lando mengangkat tangan dan sedikit menabrak Cruise. Dia menunjuk ke arah Sharon yang tidak tahu muncul sejak kapan dan berada tidak jauh dari sana.
"Apa yang kamu lakukan?" Cruise sedikit kesal. Kemudian, dia mendongakkan kepala mengikuti arah tangan Lando. Lalu, dia mengerutkan kening ketika melihat Sharon berdiri di sana.
Sharon kembali untuk mengambil ponselnya. Karena tadi terlalu bersenang-senang, dia sampai lupa bahwa ponselnya ketinggalan.
Mobilnya sudah berbelok keluar dan dia malas untuk putar balik. Oleh karena itu, dia pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan berjalan kembali.
__ADS_1
Hanya saja, dia tidak menyangka ketika dia berjalan kembali, dia malah mendengar perkataan Cruise. Pada saat itu, Sharon merasa dadanya sangat sakit. Akan tetapi, hanya seketika saja. Tak lama, dia sudah kembali seperti biasa dan lanjut berjalan ke dalam bar.
Melihat Sharon yang kembali, Dion menundukkan kepala sambil tersenyum, "Kalau begitu, baguslah. Berarti kamu tidak akan masalah 'kan kalau aku mengejar Nona Sharon?"
Selesai berbicara, Dion masuk ke dalam mobil sport yang ada di samping dan menunggu Sharon keluar. Setelah itu, dia baru perlahan-lahan mengiktui Sharon dari belakang.
Lando terus memperhatikan mobil Dion yang terus mengikuti Sharon keluar. Ketika kedua mobil tersebut menghilang, dia baru menarik kembali pandangannya dan melirik ke arah Cruise, "Cruise, perkataanmu barusan, bukankah sedikit kelewatan?"
Cruise menoleh ke arah Lando dengan dingin, "Kenapa? Kamu juga ingin mengejar Sharon?"
Cruise si anjing ini!
Lando melototi Cruise dengan kesal dan penuh emosi. Setelah itu, dia masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi.
Cruise menundukkan kepala dan menyalakan rokok ketika melihat bayangan mobil Lando.
Ketika asap rokok mengembul keluar, Cruise tiba-tiba kepikiran dengan perkataan Dion yang cukup memprovokasi. Lalu, dia pun tanpa sadar tersenyum dingin.
Apakah Sharon sebaik itu?
__ADS_1