
Sharon ingin memberontak, tetapi gagal.
Dia dipeluk erat oleh Dion di bagian depan dada hingga seluruh nafasnya penuh dengan aroma tubuh Dion.
Entah parfum apa yang digunakan oleh Dion. Awal-awal parfum tersebut akan tercium seperti aroma jeruk bercampur dengan suatu tanaman, lalu lama-lama akan tercium seperti aroma kayu yang tenang sama seperti orangnya.
Sharon tidak ingin menangis. Dia merasa apa yang perlu ditangisi.
Karena tidak berhasil memberontak, Sharon hanya bisa mendongakkan kepala melihat Dion dan berkata, "Hanya anak kecil yang akan menangis."
Mendengar perkataan tersebut, Dion tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Bukankah kamu anak kecil?"
Ketika Dion tersenyum, mata persiknya juga ikut tersenyum. Senyum acuh tak acuh dari kedua bola mata tersebut terlihat sangat menggoda ketika sedang menundukkan kepala sambil melihat orang.
Jantung Sharon tiba-tiba berdebar kencang. Dia mencoba mencari kesempatan untuk melepaskan diri begitu Dion sedikit melonggarkan tangannya. Lalu, dia menatap Dion dengan datar dan berkata, "Tuan Muda Dion memang master cinta."
Sharon bahkan hampir tergoda karena Dion yang begitu jago menggombal.
Namun, pada detik itu, Sharon pun tahu dengan jelas bahwa pria di hadapannya ini lebih berbahaya daripada Cruise.
Tidak mudah bagi Sharon untuk keluar dari lubang api seperti Cruise, jadi dia tidak berniat untuk melompat masuk ke dalam jurang seperti Dion lagi.
__ADS_1
Dion menyipitkan mata dan berkata, "Aku tidak pernah membiarkan wanita lain menangis di dalam pelukanku."
Sharon menaikkan alisnya. Saat ini, dia sudah jauh lebih sadar dan berkata, "Oh ya?"
Ketika berbicara, dia terdiam sejenak, baru berkata, "Tapi, aku tidak tertarik pada urusan Tuan Muda Dion yang seperti ini."
Selesai berbicara, tangan Sharon sudah berada di atas tombol pintu mobil. Begitu dia klik, suara pintu terbuka pun terdengar.
"Terima kasih Tuan Muda Dion sudah meluangkan waktu untuk menghibur aku. Tapi, aku baik-baik saja. Waktu sudah larut, aku ...."
"Apakah kamu mau pergi makan cemilan malam?"
Belum selesai Sharon berbicara, pria yang ada di sampingnya malah menyela ucapannya.
"Baiklah. Beristirahatlah lebih cepat," ujar Dion.
Dion juga tidak memaksanya lagi. Mata persiknya tersebut juga menjadi lebih santai. Dia bersandar ke belakang kursi sambil menatap Sharon yang turun dari mobil dan semakin menjauh.
Setelah Sharon berjalan beberapa langkah, dia menoleh dan melihat Dion sekilas. Dion duduk di dalam mobil sambil menjepit rokok yang tidak dinyalakan di tangannya dan kebetulan dia sedang mendongakkan kepala menatap Sharon.
Sejujurnya, Sharon benar-benar tidak tahan dengan tatapan Dion yang menatapnya seperti ini.
__ADS_1
Oleh karena itu, dia buru-buru mengalihkan pandangannya dan mengikuti orang depan memasuki pintu utama apartemen.
Setelah kembali ke apartemen, Sharon menyalakan air panas ke dalam bak mandi. Lalu, setelah membersihkan riasannya, dia menaruh dua tetes minyak esensial. Kemudian, mengangkat kakinya masuk ke dalam bak mandi.
Apa yang terjadi malam ini benar-benar memalukan. Lagi pula, dia juga sudah merasakan merokok dan kepalanya juga sakit. Jadi, dia harus membiarkan masalah ini berlalu begitu saja.
Tadi dia merasa kepalanya sakit, tetapi saat ini dia merasa tubuhnya jauh lebih enak ketika berendam di dalam air. Hanya saja, Sharon baru merasa lambungnya tidak enak.
Pada makan malam hari ini, dia tidak terlalu banyak makan, dia justru lebih banyak minum bir. Jadi, wajar saja jika saat ini dia merasa lambungnya sakit.
Akan tetapi, dia juga tidak ada keinginan untuk memasak mie atau memesan makanan. Dia berencana untuk berendam sebentar lagi dan setelah itu dia akan langsung pergi tidur.
Lagi pula, jika sudah ketiduran juga tidak akan merasakan sakit.
Setelah berpikiran seperti itu, Sharon memejamkan matanya dan berendam beberapa menit lagi. Kemudian, dia baru berdiri dari bak mandi setelah alunan musik yang nyaman berganti.
Ketika dia baru saja akan mematikan lampu dan beranjak tidur, bel pintu berbunyi.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, selain orang mabuk yang salah mengetuk pintu, Sharon sudah tidak bisa menebak siapa lagi yang akan datang.
Oleh karena itu, dia pun mematikan lampu. Namun, baru saja dia akan berbaring, bel pintu kembali berbunyi.
__ADS_1
Sudah dua kali.
Sharon sedikit mengernyit, dia menyalakan lampu dan memakai sandal. Lalu, berjalan keluar untuk membuka pintu, "Ternyata kamu?"