
Ketika Sharon tiba di pintu masuk pengadilan, waktu tepat menunjukkan pukul 08:55. Ada banyak orang yang mengantri di bagian pernikahan, sementara hanya dia sendirian yang menunggu di bagian perceraian.
Waktu belum mencapai pukul sembilan. Cruise belum datang.
Tepat pada pukul sembilan, pintu pengadilan dibuka tepat waktu.
Sharon melihat layar ponselnya. Cruise bukan orang yang suka terlambat, tapi hari ini dia malah terlambat.
Pada pukul 09:05, barulah Sharon menemukan seorang pria berjalan melewati gerbang.
Pria itu mengenakan jas dan sepatu kulit seperti biasanya. Wajahnya juga masih tak berekspresi.
Saat menyadari tatapan Sharon, Cruise agak memalingkan muka. Kemudian dia memandanginya dengan dingin sambil mengambil selangkah demi selangkah.
Ini bukan pertama kalinya Sharon dipandang olehnya dengan begitu dingin dan acuh tak acuh. Dulu dia selalu merasa sakit hati, tapi hari ini hatinya tenang tak bergejolak.
"Pagi, surat cerainya sama seperti kemarin."
Sambil berkata, Sharon menyerahkan surat cerai pada Cruise.
Raut muka Cruise memuram, "Apakah kamu sudah memikirkannya dengan jelas?"
"Sangat jelas."
__ADS_1
Sharon menatapnya sambil melontarkan kedua kata itu.
Dulu saat menikah dengan Cruise, dia tidak berpikir dengan jelas. Sekarang keputusan bercerai dipikirkannya dengan sangat jelas.
Cruise mengerutkan kening, "Bagus sekali."
Semoga ke depannya dia tidak menyesal!
Sharon tidak berbicara lagi. Dia langsung berjalan ke tempat pengurus.
Prosedur perceraian tidak terlalu ribet. Setelah menandatangi perjanjian dan cap jari, hubungan mereka pun putus begitu saja.
Dalam waktu kurang dari lima menit, akta nikah telah berubah menjadi akta cerai.
Mulai sekarang, mereka berdua tidak lagi memiliki hubungan apa pun.
Hal ini sangat wajar. Cruise sudah lama ingin membebaskan diri dari Sharon. Hari ini keinginannya akhirnya tercapai. Tentu saja dia tidak ingin melihat Sharon lagi.
Bagi Cruise, Sharon mungkin hanyalah wanita yang kejam dan licik.
Tidak masalah. Lagi pula, mereka tidak memiliki hubungan apa pun lagi.
Ketika Sharon berjalan sampai di pintu pengadilan, dia mendapati bahwa Cruise belum pergi. Hal ini amat mengejutkannya.
__ADS_1
"Bagaimanapun anak Nichole gugur karena kamu. Meskipun kita sudah bercerai, kamu tetap harus pergi ke rumah sakit dan meminta maaf padanya."
Angin bertiup. Sharon tidak pernah menyangka bahwa angin pada musim kemarau akan sedingin ini.
Dia mengira Cruise setidaknya akan merasa sedih atas berakhirnya pernikahan selama tiga tahun. Kini setelah mendengar kata-kata Cruise. Sharon semakin merasa dirinya sangat konyol.
Sharon mengangkat kepalanya untuk menatap pria di depan, kemudian dia tiba-tiba tersenyum, "Kamu benar. Demi pernikahan kita selama tiga tahun, aku pasti akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan."
Akan tetapi, dia tidak akan mengakui apa yang tidak pernah dilakukannya.
Usai berkata, Sharon mengangkat tangannya untuk mengesampikan rambut di wajah. "Untuk menunjukkan ketulusanku, aku sudah menyiapkan hadiah besar untuk Nichole. Kamu harus mengingatkannya untuk menerima hadiahku."
Setelah melihat Cruise untuk terakhir kalinya, Sharon berbalik dan pergi.
Sharon berjalan ke sisi jalan, lalu mengangkat tangan dan menghentikan taksi kosong.
Mobil melaju melalui hadapan Cruise. Sharon duduk di dalam mobil. Wajahnya yang cantik tampak dingin.
Cruise mengernyit. Entah kenapa dia merasa agak kesal. Saat melihat mobil yang sedang menunggunya di kejauhan, bukannya berjalan ke sana, dia mengeluarkan rokok dan menyalakannya
Dalam pernikahan ini, dulu dia memang tidak pernah berpikir untuk menikahi Sharon. Akan tetapi, dia juga tidak pernah berpikir untuk bercerai dengannya.
Sekarang setelah mereka benar-benar bercerai, Cruise sebenarnya tidak terlalu sedih juga. Baginya, Sharon hanyalah seorang wanita yang cocok untuk dijadikan istrinya.
__ADS_1
Namun, ketika dia melihat akta cerai di tangannya, dia seketika merasa rokok di mulutnya sangat hambar. Hatinya terasa sesak.
Lupakan saja. Dia hanyalah wanita yang tidak tahu diri.