Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 60. Mencari Calon Pacar Untuk Memperjelas Fakta


__ADS_3

Dion mendengus dan berkata, "Bagus, masih ingat kalau aku kakak sepupumu? Katakanlah, kamu suka kakak yang mana?"


Gerald yang mulai mencurigai kehidupannya ini pun menceritakan kejadian tadi. Lalu, dengan malu-malu mengatakan, "Kak, ini pertama kalinya aku minta nomor ponsel perempuan."


Siapa tahu ternyata malah mendapatkan nomor ponsel kakaknya!


Semoga bayangan psikologis ini tidak terlalu berpengaruh besar padanya!


Dion tersenyum dan berkata, "Namanya siapa?"


"Aku juga tidak tahu, aku hanya mendengar temannya sepertinya memanggilnya Sasa ...."


Sasa.


Jika Dion tidak salah ingat, sepertinya nama panggilan Sharon adalah Sasa.


Sepasang mata Dion tampak berbinar-binar dan dia berkata, "Aku harus minta maaf dan memberitahu kamu kalau cinta pertamamu sudah berakhir, Gerald."


"Kenapa berakhir?" tanya Gerald.


'Meskipun mendapatkan nomor yang salah, kenapa Kak Dion begitu yakin bahwa dirinya tidak bisa mengejar kakak itu?' pikir Gerald.


Mendengar perkataan Gerald, Dion tertawa dan berkata dengan sangat jelas, "Ingat ya Gerald, dia adalah calon kakak iparmu, calon istriku. Lebih baik kamu simpan kembali keinginan dan matamu itu."

__ADS_1


" ... "


Selesai Dion berbicara, dia juga tidak peduli dengan respon Gerald dan langsung memutuskan panggilan telepon.


Saat ini Dion penasaran kenapa Sharon malah memberikan nomor ponselnya kepada Gerald.


Jika Dion tidak salah ingat, sebelumnya dia pernah mengatakan pada Sharon apabila dia tidak keberatan, dia bisa menjadikan Dion sebagai umpan untuk menahan pria lain jika dia bertemu seseorang yang mengejarnya padahal dia masih belum ingin berpacaran.


Jadi, Sharon diam-diam menjadikan dirinya sebagai calon pacar?


Wah, hari ini benar-benar hari yang baik.


Seketika Dion merasa orang yang menabrak mobilnya ini tak lagi menyebalkan. Daripada dia membuang waktu di sini, lebih baik dia pergi mencari Sharon.


Selesai berbicara, Dion langsung kembali ke dalam mobil dan menginjak pedal gas berbelok di perempatan.


Hm, dia harus mencari calon pacarnya untuk memperjelas fakta.


Ketika Sharon kembali ke apartemen, waktu masih tidak terlalu malam. Jadi, orang di dalam lift hanya dia seorang.


Baru saja Sharon mengirim pesan kepada Novi bahwa dia sudah sampai di rumah, tiba-tiba pintu lift terbuka. Setelah berjalan sepuluh meter di lorong dan belok kanan, Sharon melihat Dion sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Nona Sharon, apakah tadi kamu memberi nomor yang salah pada orang lain?" ujar Dion.

__ADS_1


Sharon sedikit terkejut dan merasa bersalah ketika melihat sepasang mata yang menggoda tersebut. Akan tetapi, Dion malah terlihat biasa saja, jadi dia hanya tersenyum dan berkata, "Oh, tadi ada seorang anak laki-laki yang terus mengikutiku untuk meminta nomor telepon. Aku tiba-tiba tidak ingat nomor orang lain, jadi aku memasukkan nomor Tuan Muda Dion, kamu tidak keberatan, 'kan?"


"Tentu saja aku tidak keberatan. Nona Sharon tidak mengingat nomor siapapun dan malah mengingat nomorku. Tentu saja itu sebuah kehormatan bagiku," ujar Dion.


Seketika Sharon tidak bisa berkata apa-apa, " ... "


Sharon salah perhitungan.


Sambil Dion berbicara, tubuh yang tadinya bersandar di dinding tiba-tiba berdiri tegak, "Aku sudah membantumu untuk menghadapi orang tersebut, Nona Sharon tidak ingin mentraktirku segelas teh?"


Permintaan ini tidak berlebihan.


Sharon menempelkan sidik jarinya ke pintu, begitu pintu terbuka, dia mendorong dan melangkah masuk. Dia mengganti sepatunya di depan pintu masuk, lalu mengeluarkan sendal yang pernah dipakai Lovis sekali, "Ini punya temanku, Tuan Muda Dion tidak keberatan, 'kan?"


Dion melihat sekilas sendal pria yang ada di lantai dan berkata, "Sepertinya hubungan temanmu dengan kamu lebih baik daripada aku."


Sharon tertawa dan masuk ke dalam dapur untuk mengambil dua gelas air, "Maaf sudah mengganggu Tuan Muda Dion."


Sharon tidak menyangka bahwa Gerald akan secepat itu menelepon.


Dion menerima gelas air dan berkata, "Tidak apa-apa, bagaimanapun kamu adalah calon pacarku, aku tidak keberatan kalau kamu memakai hak itu terlebih dahulu."


Sambil berbicara, dia terdiam sejenak dan berkata, "Aku tidak keberatan, malah aku sedikit senang."

__ADS_1


__ADS_2