Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 26. Apakah Orang Ini Akan Sebaik Itu?


__ADS_3

Sharon dan Delvina terjebak macet di jalan. Oleh karena itu, mereka sampai di hotel lima menit sebelum perjanjian waktunya.


Lalu, Sharon pun turun dari mobil dengan sepatu hak tingginya.


Ruangan VIP ada di lantai empat. Orang yang berlalu lalang di lift juga banyak karena sedang jam makan, jadi lift pun harus berhenti terus setiap lantai.


Sharon menundukkan kepala melihat jam tangannya. Ketika dia mendongakkan kepala, dia tiba-tiba melihat ada sosok bayangan yang tidak asing di luar lift lantai tiga.


Carolin?


Sharon mengangkat alisnya dan mengalihkan pandangannya. Pada saat ini, pintu lift juga perlahan tutup.


Beberapa detik berikutnya, lift kembali berhenti. Setelah itu, Sharon pun berjalan keluar.


Ketika tiba di depan pintu ruangan VIP, Sharon melihat pintu ruangan VIP yang tidak ditutup dengan rapat. Fendy yang berada di dalam sedang menelepon.


Suaranya tidak keras, tapi begitu Sharon mendorong pintu sedikit, dia samar-samar bisa mendengar kata "Nona Carolin".


Sharon mengernyitkan kening,, lalu menoleh ke arah Delvina yang berada di samping.


Delvina sedikit mengangguk, lalu mengetuk pintu, "Pak Fendy."


Begitu mendengar suara Delvina, Fendy langsung memutuskan telepon.


Sharon berjalan masuk ke dalam sambil menyambut Fendy dengan senyuman, "Maaf, Pak Fendy. Tadi macet di jalan, jadi aku telat."


Melihat Sharon yang tersenyum, Fendy pun sama sekali tidak peduli dengan Sharon yang datang terlambat, "Bu Sharon terlalu sungkan. Hari ini 'kan jumat, wajar saja kalau macet."


"Maaf," ujar Sharon.

__ADS_1


"Bu Sharon sungkan sekali. Kalau kamu merasa tidak enak hati, kamu minum saja satu gelas wine."


Selesai Fendy berbicara, dia lanjut berkata, "Kemampuan minum wine Nona Sharon oke, 'kan? Kalau tidak bisa, lebih baik tidak perlu. Aku bisa meminta orang untuk membawa pergi wine ini dan menggantinya dengan jus."


Sharon duduk sambil melihat ke arah Fendy yang ada di depannya. Dia tidak mengerti kenapa Fendy begitu sungkan.


Akan tetapi, pembicaraan bisnis seperti ini memang memiliki aturannya sendiri. Oleh karena itu, Sharon pun sadar dia tidak bisa lepas dari wine.


"Kemampuanku minum wine cukup bagus kok. Aku teguk habis, ya! Sebagai permintaan maafku padamu Pak Fendy karena sudah terlambat."


Sambil berbicara, Sharon mengangkat kepalanya dan meminum setengah gelas wine yang ada di depannya.


Fendy tertawa dan berkata, "Bu Sharon berani sekali! Aku paling suka berteman dengan orang seperti ini!"


Sharon tersenyum dan berkata, "Pak Fendy terlalu sungkan."


Fendy adalah orang yang sangat licik. Sebenarnya Perusahaan Wins dan Perusahaan Hasuo bisa melanjutkan kontrak tanpa basa-basi lainnya karena sudah bekerja sama cukup lama. Akan tetapi, ini tidak berlaku untuk Fendy. Selama demi uang, dia akan terus kembali mendiskusikannya dengan tidak tahu malu.


Intinya, dia masih mempertimbangkan masalah lanjut kontrak kerja sama.


Sharon tahu bahwa malam ini dia tidak akan bisa mendapatkan hasil apapun. Akan tetapi, Fendy tetap tidak pergi begitu saja. Jadi, menurutnya makan malam hari ini termasuk cukup baik.


Mendengar makna lain dari perkataan Fendy, Sharon juga tidak panik. Setelah mengatakan beberapa hal yang sungkan, dia mulai pamit undur diri.


"Pak Fendy, aku antar Anda."


Fendy melirik Sharon sekilas dan berkata, "Bu Sharon terlalu sungkan. Kamu dan sekretaris kamu juga sudah bekerja keras. Malam ini juga minum begitu banyak wine. Aku akan meminta bawahanku untuk mengantar kalian."


Ini pertama kalinya Sharon berkomunikasi dengan Fendy. Jadi, seketika dia pun tidak tahu perkataan Fendy ini benar atau tidak.

__ADS_1


Apakah Fendy akan sebaik itu?


Akan tetapi, karena dia sudah buka suara, Sharon juga ingin tahu sebenarnya apa yang ingin dia lakukan.


"Kalau begitu, aku juga sudah tidak perlu sungkan. Terima kasih banyak."


Fendy melambaikan tangan dan melirik sekilas ke bawahannya, "Sekretaris Bowo, tolong bantu untuk mengantar Bu Sharon dan Sekretaris Delvina pulang ke rumah."


"Baik, Pak Fendy,"  ujar Bowo.


Beberapa dari mereka berjalan ke depan pintu hotel dan Fendy masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Bowo menoleh melihat Sharon dan berkata, "Bu Sharon, aku antar kamu pulang."


Sharon berkata, "Terima kasih."


Sharon dan Delvina tidak membeli mobil. Sepertinya, memang harus membeli mobil agar lebih mudah.


Sekretaris Bowo tidak banyak berbicara. Sharon duduk di kursi penumpang belakang dan Delvina duduk di samping pengemudi.


Malam ini, Sharon minum banyak sekali wine. Oleh karena itu, dia merasa sedikit pusing selama perjalanan. Akan tetapi, ketika mobil tiba-tiba berhenti, Sharon pun mengerutkan keningnya.






__ADS_1



__ADS_2