
Delvina berjalan mendekat dan berkata, "Nona Sharon, Anda dan Nona Novi pulang dulu saja."
Sharon pun sudah terlalu malas untuk berdebat dengan Dion dan berkata, "Oke."
Setelah merespons, Sharon pun melihat sekilas ke arah Novi, lalu berjalan ke mobil Devina.
Dion mengikuti Sharon dari samping dan berkata, "Kalau kamu bawa pergi mobilnya, nanti sekretarismu pulang naik apa? Rasanya seorang wanita kalau pulang sendiri malam-malam begini terlalu bahaya?"
Perlu diakui, apa yang dikatakan oleh Dion memang benar.
Sharon pun berhenti sejenak, lalu Novi yang berada di samping mendengus, "Kalau mobilnya kita tinggal, Tuan Muda Dion yang mengantar kami pulang?"
Dion berkata, "Kalau seandainya Nona Sharon bersedia, tentu saja aku dengan senang hati akan mengantar kalian."
Sharon melirik sekilas ke arah Delvina. Setelah dipikir-pikir, ketika orang derek ini pergi, berarti Delvina harus menunggu sendirian di sini dan sepertinya juga agak bahaya apalagi sudah larut begini.
Oleh karena itu, Sharon pun menoleh ke arah Dion sambil tersenyum, "Kalau begitu, kami harus berterima kasih pada Tuan Muda Dion."
Selesai berbicara, dia memberikan kunci mobil kepada Delvina, lalu masuk ke dalam mobil Dion.
Novi pun dengan sadar diri duduk ke kursi penumpang di belakang.
Sharon memasang sabuk pengaman dan menoleh ke belakang untuk melihat Novi sekilas.
Novi pun merasa sedikit bersalah, jadi dia pun melihat ke arah luar jendala dan pura-pura tidak melihat tatapan mata Sharon.
Dion menaikkan alis dan berkata, "Nona Novi tinggal di mana?"
Dion pun menginjak pedal gas dan melajukan mobil setelah Novi memberitahi alamat rumahnya.
Lima belas menit kemudian, mobil pun berhenti. Novi turun dan saat ini hanya tersisa Sharon dan Dion di dalam mobil.
__ADS_1
Baru saja mobil melaju beberapa ratus meter, mobil pun harus berhenti karena ada lampu merah. Setelah mobil berhenti, Dion melihat ke arah samping dan berkata pada Sharon, "Nona Sharon sepertinya tidak terlalu menyukaiku."
Sharon mengalihkan pandangannya dan tersenyum tipis. Lalu, berkata, "Aku tidak terlalu suka disalahpahami oleh orang lain."
"Salah paham karena apa?" tanya Dion.
Dion mendengus dan berkata, "Salah paham kalau aku mengejarmu? Ini bukan salah paham, aku memang mengejarmu, Sharon."
Playboy macam Dion tentu saja akan langsung to the point menyatakan cintanya.
Sharon menaikkan alis dan berkata, "Tuan Muda Dion menyukai aku?"
Dion tidak menjawab pertanyaan Sharon dan malah bertanya balik, "Apa yang kamu tidak suka dariku?"
"Playboy," ujar Sharon tanpa sungkan karena Dion sudah bertanya.
"Aku tidak akan mengelak tentang masa lalu. Tapi, aku bisa jamin kalau aku benar-benar serius padamu," ujar Dion.
Sharon juga sudah bukan gadis berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Oleh karena itu, bagaimana mungkin dia percaya terhadap perkataannya ini?
Dion tertawa dan berakta, "Aku tahu kamu tidak percaya padaku, Sharon. Tapi, waktu akan membuktikannya."
Dion sangat percaya diri. Sharon hanya menundukkan kepala sambil tersenyum, "Kalau begitu, aku akan menunggunya."
Pokoknya Sharon tidak percaya.
Pertama kali bertemu dengan Sharon, dia tahu bahwa Sharon sangat cantik, apalagi ketika dia tersenyum. Baru saja, Sharon menundukkan kepala dan tersenyum tipis. Seketika Dion pun merasa jantungnya berdetak kencang saat melihatnya.
"Kalau begitu, kamu tunggu saja, Sharon," ujar Dion.
Begitu lampu lalu lintas berubah hijau, Sharon mengingatkan dan berkata, "Lampu sudah hijau, Tuan Muda Dion."
__ADS_1
Dion meliriknya dengan mata yang berbinar. Sharon melihat ke arah Dion dan memang perlu diakui bahwa Dion benar-benar bisa merayu orang.
Lalu, kenapa?
Saat ini, dia hanya ingin mencari uang dan tidak ingin berpacaran.
Selama perjalanan, Dion pun tak lagi memaksa untuk membuka topik.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas ketika mobil berhenti di apartemen Sharon.
Sharon melepaskan sabuk pengaman dan berkata, "Terima kasih, Tuan Muda Dion."
Dion bersandar pada kursi dan melihat Sharon di samping, lalu berkata, "Apakah besok bisa makan malam bersama?"
Sharon baru saja turun dari mobil. Namun, begitu mendengar perkataan Dion, dia menoleh dan menatapnya sambil berkata, "Meskipun aku tidak tahu kenapa Tuan Muda Dion menyukaiku, aku tetap akan mengatakannya. Tuan Muda Dion lebih baik menyerah saja. Saat ini, aku tidak tertarik untuk memulai sebuah hubungan."
Dion berkata, "Oh, kalau begitu, apakah kamu bisa menjamin kalau kelak kamu juga tidak akan tertarik?"
Sharon mengerutkan kening dan berkata, "Kalau begitu, aku berharap Tuan Muda Dion bisa mencari aku kembali ketika aku sudah mulai tertarik."
Selesai berbiara, Sharon menutup pintu mobil dan mundur ke samping sedikit. Lalu, dia berkata, "Hati-hati di jalan, Tuan Muda Dion."
Dion kembali berkata, "Ketika kamu sudah tertarik, jangan lupa beri tahu aku ya!"
Selesai Dion berbicara, dia samar-samar tersenyum sambil melirik Sharon dan berkata, "Selamat malam, calon pacar."
" ... "
Bodo amat!
__ADS_1