
Malam ini Sharon benar-benar muak dengan tingkah laku Cruise. Meskipun dia sudah bercerai dengan Cruise begitu lama, dia pun hanya menganggap rumor yang disebarkan oleh Carolin sebagai sebuah lelucon.
Bagi Sharon, Keluarga Thomson sudah masa lalu, pria bernama Cruise ini hanyalah mantan suaminya saja.
Sharon juga sudah tidak ingin mempermasalahkan siapa benar dan siapa salah tentang masa lalu. Karena sudah bercerai, lebih baik berjalan di jalan masing-masing saja.
Sharon mengira bahwa hal yang paling membuatnya kecewa adalah malam itu ketika Cruise menyuruh dia untuk berlutut di depan leluhur Keluarga Thomson. Sharon justru tak menyangka bahwa perkataan Cruise barusan bahkan membuatnya menjadi curiga terhadap kepribadian Cruise.
Sharon melihat lampu kedap-kedip di luar jendela. Ketika tersadar dari lamunannya, dia tiba-tiba kepikiran sesuatu. Lalu, menoleh ke samping melihat Dion yang sedang mengemudi, "Bukankah kamu minum alhokol?'
Kebetulan di depan sedang lampu merah, jadi DIon perlahan menghentikan mobilnya dan menoleh ke samping menatapnya, lalu berkata, "Hanya minum sedikit."
Sharon menatapnya dan berkata, "Hanya minum sedikit atau sama sekali tidak minum?"
Dion tidak langsung menjawab pertanyaannya, dia hanya menatap Sharon sambil tersenyum dan berkata, "Coba kamu tebak."
Ketika berbicara, Dion terdia sejenak dan berkata, "Apakah kamu masih sedih?"
"Aku tidak sedih."
Sharon menatap kalung yang ada di leher Dion dan sedikit takut.
Kejadian malam ini memang membuatnya sedikit tidak sempat menghadapi.
__ADS_1
Empat tahun yang lalu, orang yang ada pada malam itu, bagaimana mungkin menjadi Dion? Kenapa ketika dia bangun orang yang dia lihat di dalam kamar adalah Cruise?
Memikirkan hal ini, Sharon merasa kepalanya sedikit sakit. Dia mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya dan berkata, "Orang yang ada pada malam empat tahun yang lalu itu, benar-benar kamu?"
Dion melihat ke samping dan bertanya balik padanya, "Apakah kamu merasa kecewa begitu tahu itu aku?"
Mata persik tersebut tampak tidak tersenyum dan menatapnya dengan lekat-lekat. Lalu, dibalik matanya itu memantulkan dirinya. Sharon tanpa sadar ingin mundur ke belakang, tetapi Dion malah mengulurkan tangan dan menahan pinggang bagian belakangnya.
Lampu merah di depan berubah menjadi lampu hijau. Mobil mereka kebetulan berada di paling depan dan malah tidak bergerak. Oleh karena itu, mobil yang ada di belakang pun tak henti membunyikan klakson.
Sharon pun mengangkat tangannya dan sedikit mendorong Dion, lalu berkata, "Sudah lampu hijau."
Dion sedikit mengernyitkan alis. Setelah itu, dia baru menarik tubuhnya dan mulai menyalakan mobilnya kembali.
Mengenai masalah itu, Sharon tidak menjawab dan Dion pun tak lagi bertanya.
Bagaimanapun, beberapa jam yang lalu, Sharon memanfaatkan Dion untuk membuat Cruise kesal. Oleh karena itu, dia merasa tidak enak hati dan hanya mengangguk, "Kalau begitu, aku naik dulu."
Ketika berbicara, dia melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil.
"Sharon."
Baru saja Sharon menutup pintu mobil, Dion yang berada di kursi pengemudi juga ikut keluar. Lalu, berdiri di samping mobil sambil menatapnya.
__ADS_1
"Tuan Muda Dion?"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi."
Sharon terkejut karena itu bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab.
Ketika Sharon sedang melamun, Dion sudah berjalan ke hadapannya.
Dion menatap Sharon yang saat ini jarak mereka terpisahkan hanya setengah meter dan berkata, "Merasa dipersulit?"
Ketika berbicara, dia mendengus dan berkata, "Kalau dipersulit berarti kamu kecewa."
Meskipun jelas-jelas sudah tahu jawabannya, Dion masih ingin bertanya dengan jelas. Manusia memang benar-benar bajingan.
Dion tersenyum dingin dan berkata, "Naiklah."
Sharon mendongakkan kepala menatap Dion dan sedikit mengerutkan bibirnya. Lalu, dia juga bertanya satu pertanyaan, "Sejak kapan kamu menyukai aku?"
Dion sedikit terkejut karena tidak menyangka bahwa Sharon akan bertanya seperti itu. Setelah tersadar dari lamunannya, Dion tiba-tiba tertawa melihat Sharon dan berkata, "Sharon, hanya pacarku yang memiliki hak untuk bertanya seperti ini padaku."
"Oh, kalau begitu aku tidak jadi bertanya."
Sharon tersenyum dan berkata, "Aku naik dulu. Hati-hati di jalan. Dion, terima kasih ya untuk malam ini."
__ADS_1
Sharon memanggilnya Dion, bukan Tuan Muda Dion.
Dion menatap bayangan punggung Sharon dan mata persiknya pun tampak tersenyum. Tiba-tiba Dion merasa bahwa hari ini dia juga bukannya tidak mendapatkan keuntungan.