Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga

Bercerai Demi Mewarisi Harta Keluarga
Bab 17 Bukan Orang Sejenis


__ADS_3

Tak kuasa menahan, Lando diam-diam mengacungkan jempol pada Sharon di belakang Cruise.


Sharon mengangkat alisnya sambil tersenyum, "Apakah Tuan Cruise punya urusan lain?"


Sikap Sharon acuh tak acuh seolah-olah bukan dia yang membuat Cruise marah.


Ekspresi Cruise dingin total. Setelah menatap Sharon, dia berbalik dan pergi dengan ekspresi datar.


"Memangnya kami memohonmu untuk melihat pertunjukkan kami? Semua orang mengatakan kami keren, hanya kamu yang tidak paham musik. Aku rasa kamu sama sekali tidak membutuhkan mata dan telinga, jadi sebaiknya disumbangkan pada orang yang butuh saja! "


Novi mendengus dan mengomel di tempat.


Lando juga merasa bahwa Cruise terlalu mengecewakan. Akan tetapi, dia adalah sahabatnya selama lebih dari 20 tahun. Setelah ragu sejenak, dia berbalik dan menyusuli langkah Cruise.


Namun, jelas sekali bahwa dia enggan pergi, "Hei, Sharon, aku juga suka bermain rock and roll. Bagaimana kalau kita mengobrol di lain hari?"


Novi memutar bola matanya, "Sasa dan kalian bukan orang sejenis, tidak ada yang bisa diobrolkan."


Kata-kata ini terdengar familiar. Lando segera teringat bahwa kata-kata ini sepertinya pernah dilontarkan para wanita bangsawan pada Sharon di saat perjamuan?


Meskipun dia tidak ikut menghina Sharon, dia tetap adalah penonton yang bersikap tak acuh. Sikapnya saat itu sama saja mengakui pernyataan tersebut.


Kini Novi membantahnya dengan kata-kata serupa, dia merasa sungkan, "Aku pergi dulu."


Sharon sama sekali tidak berniat untuk menghabiskan waktu dengannya.

__ADS_1


Terlebih lagi, Lando selalu berpihak pada Cruise. Jadi, Sharon bahkan tidak ingin mengatakan sepatah kata pun padanya.


Sebelum pergi, Lando menoleh ke belakang lagi. Sharon sedang mengobrol dengan anggota bandnya. Vokalis bermata jernih dan berpenampilan tampan itu membantunya mengganti minuman.


Astaga, perhatian sekali.


Lando menoleh kembali dan segera menyusul Cruise.


Cruise telah keluar dari ONE. Lando berlari untuk mengejarnya, "Kenapa kamu berjalan begitu cepat? Apakah kamu takut dirimu akan lepas kendali dan pada akhirnya kembali ke sana lagi?"


Mendengar apa yang dia katakan, Cruise memberinya tatapan dingin.


Lando tersenyum, "Pacarnya Sharon cukup perhatian padanya."


Mata hitamnya memuram. Dia membuka pintu mobil, "Kamu punya urusan?"


"Bagaimanapun, kita sudah datang. Kamu tidak mau minum?"


Respons yang didapatnya hanyalah kepergian Cruise.


Alis Lando terangkat melihat sedan hitam yang melaju pergi.


Mungkinkah Cruise keluar hanya untuk jalan-jalan?


Pernyataan ini mungkin akan diragukan oleh Cruise sendiri.

__ADS_1


Kini situasi menjadi menarik.


Tampak sahabatnya ini bukan sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap mantan istrinya, Sharon.


Lando merenung sebentar, lalu berencana untuk berbalik dan mencari Sharon. Setelah mengambil beberapa langkah, dia berhenti lagi. Lupakan saja, Sharon sepertinya tidak terlalu menyukainya.


Di sisi lain, Cruise sangat menyesal karena telah pergi ke ONE. Lando terus mengujinya karena merasa dia memiliki perasaan terhadap Sharon.


Perasaan?


Dulu dia memilih Sharon hanya karena kejadian malam itu, sementara dia juga kebetulan kekurangan seorang istri.


Namun, apakah pernikahan selama tiga tahun benar-benar tidak menumbuhkan sedikit pun perasaan?


Jelas salah. Mengingat pria tampan yang berdiri di samping Sharon, Cruise merasa amat jengkel.


Dia menepi, membuka jendela, lalu menyalakan sebatang rokok.


Begitu diselubungi asap rokok, wajahnya tampak sedingin cahaya bulan.


Mereka berdua sudah bercerai. Apa urusan pacarnya Sharon dengannya?


Hanya orang kurang kerjaan yang akan memikirkan masalah ini!


Cruise mematikan rokok, lalu kembali menyalakan mobil dan melaju pulang.

__ADS_1


__ADS_2