
Sharon tertawa sebentar, lalu mengulurkan berkas yang ada di tangannya kepada Juhri, "Pak Juhri, aku mengerti keraguan kamu. Tapi, menurutku Anda harus melihat ini dulu."
Sebenarnya, Juhri mungkin sudah pernah melihat berkas ini.
Akan tetapi, Sharon sengaja menunjukkannya pada Juhri untuk memberitahu Juhri bahwa dirinya mengetahui rahasia di antara dia dengan Fendy. Oleh karena itu, jangan sampai memaksa dia untuk membongkar masalah ini.
"Apa ini, Bu Sharon? Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Juhri. Dia baru saja membuka halaman pertama, tetapi ekspresi wajahnya sudah berubah. Lalu, dia mendongakkan kepala untuk menatap Sharon.
Sharon tersenyum dan berkata, "Anda tidak perlu peduli dari mana aku mendapatkannya. Aku bisa memastikan bahwa data yang ada di berkas itu 100% fakta. Aku juga tidak akan mempermasalahkan hal ini, karena bagaimanapun ini bukan urusanku. Tapi, karena Anda sudah menyerahkan proyek ini padaku, tentu saja aku tidak ingin rugi seperti ini."
Sambil berbicara, Sharon terdiam sebentar dan berkata, "Atau menurut Anda, tidak ada masalah kalau menggunakan uang perusahaan untuk diberikan kepada Perusahaan Hasuo?"
Selesai berbicara, Sharon tersenyum samar-samar sambil menatap Juhri.
Juhri pun dibuat merasa bersalah. Kemudian, dia mengambil kontrak yang ada di samping dan langsung menandatanganinya sambil berkata, "Ternyata Bu Sharon memikirkannya lebih detail. Kalau begitu, rasanya juga bukan sesuatu hal yang perlu disayangkan kalau memutuskan hubungan dengan Perusahaan Hasuo."
Sharon menerima kontrak tersebut dan berkata, "Anda tenang saja, aku orangnya tidak suka campur urusan orang lain."
Selama Juhri tidak mencari masalah dengannya, Sharon juga tidak akan menyudutkannya.
Juhri sedikit tegang, lalu berdiri dan berkata, "Masa depan Bu Sharon sepertinya masih panjang."
Di usia yang masih muda, tetapi sangat sombong.
Sharon tersenyum dan berkata, "Aku masih perlu bimbingan dari Pak Juhri."
Juhri masih cukup menikmati dan mendengar sisi lemah Sharon, "Bu Sharon terlalu sungkan. Kita 'kan saling belajar dan bekerja sama agar Perusahaan Wins bisa semakin maju."
"Apa yang Pak Juhri katakan benar," ujar Sharon.
Setelah keluar dari ruangan kantor Juhri, ekspresi senyum Sharon perlahan-lahan berubah datar.
__ADS_1
Dasar bajingan!
Hari senin adalah hari tersibuk. Selesai Sharon menghadapi Juhri, dia pun pergi rapat seharian.
Ketika ada waktu sudah kosong, langit di luar sana sudah menjadi gelap.
Delvina mengetuk pintu dan masuk, lalu berkata, "Nona Sharon, hari kamis minggu ini adalah acara pejamuan, apakah Anda akan menghadariinya?"
Sharon memijat pelipisnya dan berkata, "Acara pejamuan apa?"
"Perusahaan Wings yang mengadakannya," ujar Delvina.
Sharon mengerti ini adalah acara pejamuan bisnis, jadi dia memikirkannya sebentar dan berkata, "Kamu atur saja."
"Baik. Aku mengerti, Nona Sharon," ujar Delvina.
Setelah Delvina keluar, Sharon melihat jam dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
Sharon mematikan ponsel, lalu mengambil tas bersiap untuk pulang. Tiba-tiba, ponsel yang ada di tangannya berdering.
"Bu Sharon, sudah selesai kerja belum? Kalau sudah, ada waktu untuk makan bersama tidak?"
Ruang studio Novi sudah dijual, jadi selama beberapa bulan ini dia sangat gabut.
Sharon tertawa dan berkata, "Makan apa?"
"World Trade Center ada sebuah restoran barat yang viral namanya Star Moon," ujar Novi.
"Oke, setengah jam lagi aku sampai," ujar Sharon.
"Oke, aku tunggu kamu, Bu Sharon," ujar Novi.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Sharon sudah menemukan Novi yang sedang duduk di kursi. Lalu, pandangannya melihat cemilan yang ada di atas meja dan berkata, "Sudah datang lama?"
"Pas telepon kamu, aku sudah sampai," ujar Novi.
Sharon mendengus dan berkata, "Pesanlah, aku yang traktir."
"Baiklah! Ini yang ku tunggu!" ujar Novi.
Novi mengambil menu makanan tanpa sungkan-sungkan.
Setelah memesan, Novi mendongakkan kepala menatap Sharon dan berkata, "Si Dion benaran mengejar kamu?"
Sharon sedikit terkejut dan berkata, "Kamu dengar dari mana?"
Novi menunjukkan screenshot yang ada di ponsel pada Sharon dan berkata, "Nih, screenshot dari feed instagram Dion dengan caption 'Hari pertama mengejar Sharon'."
Sharon benar-benar speechless.
"Ini sepertinya benaran, 'kan? Hari ini kamu tidak terima bunganya?" tanya Novi.
Sharon juga tidak menutup-nutupi dan berkata, "Terima."
Novi mendengus dan berkata, "Yah, si Dion memang playboy, tapi aku lihat tatapan mata Dion padamu berbeda. Jujur saja, kamu juga tidak perlu terlalu menolak, kamu bisa coba mengamatinya dulu."
Sharon membolak-balikkan matanya dan berkata, "Aku tidak ingin mengamatinya."
Dia sama sekali tidak tertarik pada Dion.
__ADS_1