
Di ruang istirahat.
Sharon melihat Dion yang berjalan mendekat dengan sepasang mata genitnya dan sedikit menaikkan alis, lalu berkata, "Tuan Muda Dion, bagaimana kamu tahu kalau aku di sini?"
Ketika dia bertanya, Dion sudah tiba di hadapannya. Wajahnya yang tampan itu tiba-tiba mendekat. Dibawah hidungnya yang mancung, ada sebuah bibir merah yang tersenyum. Matanya yang tajam dan genit menatapnya sedikit sedikit tersenyum dan berkata, "Ada orang yang bilang padaku bahwa pemandangan arena berkuda hari ini sangat cantik, jadi aku datang untuk melihatnya."
Ketika Dion berbicara, dia terdiam sejenak dan berkata, "Pemandangan arena berkuda hari ini memang cukup bagus."
Tatapan mata Dion benar-benar cukup menggoda hingga wajah Sharon pun terasa panas.
Sharon perlahan-lahan mengalihkan pandangannyanya, lalu tutup botol pun diputar kencang olehnya dan berkata, "Temanku sedang menungguku."
Selesai berbicara, Sharon berjalan keluar.
Dion samar-sama tersenyum dan mengikutinya.
Mereka berdua berjalan keluar bersamaan. Novi pun terkejut melihat Dion yang keluar dan berjalan ke hadapan Sharon, "Kenapa dia juga datang?"
"Aku tidak tahu," ujar Sharon.
Lagi pula, arena berkuda juga bukan miliknya. Apabila Dion ingin datang, Sharon juga tidak dapat berbuat apa-apa.
Sharon berbalik badan dan naik ke atas kuda. Hari ini dia datang untuk menenangkan hati, bukan untuk mencari masalah, "Aku pergi satu putaran."
Selesa berbicara, kedua kaki Sharon menjepit kuda dengan erat. Lalu, berlari keluar.
Novi juga naik kuda mengikuti Sharon. Seketika, di depan Dion tidak ada siapa pun.
__ADS_1
Dion menyipitkan matanya dan naik ke kuda untuk mengikuti mereka.
Ketika mendengar suara kaki kuda, Sharon mengira bahwa Novi yang menyusulnya. Akan tetapi, ketika dia menoleh, dia malah melihat Dion.
Hari ini Dion mengenakan pakaian ala Inggris. Dia mengenakan kemeja putih dengan rompi cokelat muda sebagai luarannya. Lalu, pada saat menunggang kuda, dia tampak menggoda dan tampan.
Melihat Sharon melihat ke arahnya, Dion tersenyum dan berkata, "Sharon, bagaimana kalau kita taruhan?"
Sharon mulai belajar berkuda ketika berusia lima belas tahun. HIngga saat ini, dia sudah berkuda selama sepuluh tahun. Setiap kali dia keluar berkuda dengan Eric, semua orang selalu memujinya.
Dia pun mengekang kudanya hingga berhenti dan berkata, "Tuan Muda Dion ingin taruhan seperti apa?"
"Siapa yang bisa sampai duluan di tempat peristirahat yang berwarna putih itu, siapa yang menang," ujar Dion.
Sharon melihat sekilas dan berkata, "Taruhannya apa?"
Taruhan ini sepertinya cukup adil. Sharon pun mendongakkan kepala dan tersenyum kepada Dion, lalu berkata, "Oke, Tuan Muda Dion yang bilang mulai."
Selesai berbicara, kedua kuda pun berlari maju bersamaan.
Sharon sudah sangat lama tidak berlomba kuda dengan orang, perasaan angin yang menghembus wajahnya membuat dia lega.
Kemampuan Dion berkuda jauh lebih bagus daripada bayangannya. Sepanjang jalan dia berada di belakang setengah meter, di depan setengah meter.
Selama ini, Sharon adalah tipikal orang yang sangat ambisius. Dia mengayunkan cambuk dengan kencang agar kudanya berlari semakin cepat.
Akan tetapi, ketika tersisa dua ratus meter, Sharon merasa sangat bangga. Dion yang tertinggal dua meter di belakangnya tiba-tiba melewatinya ketika dia tersenyum bangga.
__ADS_1
Ketika dia tersadar, dia tetap kalah meski sudah mempercepat kudanya.
Dion sudah menghentikan kudanya, lalu menoleh ke belakang dan berkata pada Sharon, "Sharon, kamu kalah."
Sharon pun menerima kekalahannya dan berkata, "Aku mengaku kalah."
Pada saat ini, Novi yang baru saja berhasil mengejar Sharon berkata, "Sasa, untuk apa kamu menunggang kuda dengan begitu cepat?"
Sharon melirik sekilas ke arah Dion dan tersenyum berkata, "Karena seru!"
Dion tersenyum tipis dan melihat Sharon sekilas, "Nona Sharon, sampai berjumpa lagi."
"Um," ujar Sharon santai. Dion pun menjepit kuda dan pergi menjauh.
Novi mendengus dan berkata, "Pasti ada sesuatu di antara kalian berdua!"
"Apaan sih?" ujar Sharon sambil menatap Novi.
"Tidak perlu mengalihkan topik, ada apa antara kamu dan Dion?" tanya Novi.
Novi ke samping Sharon sambil membawa kudanya. Sharon melihat sekilas ke arah Dion yang menunggang kuda dan menghilang, "Tidak apa-apa, tadi aku berlomba kuda dengannya dan aku kalah."
"Serius? Ini pertama kalinya aku dengar ada orang yang berhasil mengalahkan kamu!" ujar Novi.
Ini juga pertama kalinya Sharon kalah, tetapi dia kalah dengan rasa lapang dada, "Di atas langit masih ada langit, di atas setiap orang yang hebat ada orang yang lebih hebat lagi."
Selesai berbicara, dia memutar kepala kuda dan berkata, "Sudah saatnya makan siang."
__ADS_1