
"Mau pergi ke mana?"
Sharon melihat Dion sedetik dan berkata, "Apakah kamu
ada rokok?'
"Mau merokok?"
Mata persik tersebut seperti tersenyum samar menatapnya.
Dion tidak bertanya pada Sharon kenapa merokok, dia hanya bertanya apakah
Sharon ingin merokok.
Sharon tersenyum menganggukkan kepala dan berkata,
"Mau."
Dion menatap Sharon dan tertawa. Setelah itu, dia
melambaikan tangan ke arah Sharon dan berkata, "Sini."
Sharon tidak bergerak. Sambil memegang tas di pundaknya,
dia menatap Dion yang berbalik dan berjalan keluar: "Aku tidak bilang aku
ingin pergi denganmu, Tuan muda Dion."
Sharon benar-benar hanya ingin merokok saja.
Mendengar perkataannya itu, Dion langsung tertawa. Begitu
dia tertawa, mata persik tersebut juga ikut naik ke atas. Bibirnya yang tipis
juga tampak naik ke atas dengan sedikit tersenyum nakal. Apabila saat ini dia
seorang wanita yang kurang pengalaman di lingkungan sosial ini, dia pasti sudah
mengikuti Dion yang sedang memainkan jarinya.
Sayangnya, dia bukan.
"Apakah kamu ingin berdiri di sini merokok?"
Sharon tertegun sejenak dan baru tersadar jika dirinya
sedang berdiri di depan pintu apartemen.
Ini memang bukan tempat yang baik untuk merokok.
"Lalu, mau pergi ke mana?"
Sharon menenteng tasnya dan berjalan ke depan Dion.
Dion menoleh dan melihatnya sekilas, “Tidak perlu ke
mana-mana, aku parkir mobilku di depan.”
Sambil berbicara, Dion berjalan beberapa langkah ke mobil
sport flamboyannya. Kemudian, dia membuka pintu dan menunggu Sharon di samping,
"Masuklah ke mobil."
Sharon melihat Dion sekilas. Dion seolah mengetahui apa yang
__ADS_1
dipikirkan oleh Sharon dan berkata, “Jangan melihatku seperti itu. Aku terlihat
seperti orang yang sedang menggoda gadis polos.”
Sharon tersenyum, lalu dia membungkuk dan masuk ke dalam
mobil.
Dion menutup pintu mobil. Setelah itu, dengan cepat memutar
balik ke samping dan masuk ke kursi pengemudi.
Dion mengambil sebungkus rokok dari kotak di sampingnya, lalu
membukanya dan menyerahkan rokok tersebut pada Sharon, "Kamu bisa merokok?"
Sharon dengan jujur berkata, “Tidak bisa.”
Dion mengangkat alisnya dan menatap Sharon dengan mata
persiknya tersebut. Kemudian, dia tersenyum berkata, “Aku ajari kamu.”
Sambil berbicara, Dion mengulurkan tangan untuk mengeluarkan
sebuah rokok dan berkata, “Sebenarnya tidak sulit. Ketika menyalakan rokok,
kamu hisap sekali, setelah api menyala, kamu bebas ingin merokok seperti apa.”
Dion mengatakannya dengan mudah, tetapi Sharon langsung
tersedak saat pertama kali mencobanya. Bau asap yang kuat sangat mencekik hingga
air matanya mengalir keluar dari sudut mata. Dia benar-benar tidak mengerti apa
Hanya sekali mencobanya saja sudah membuat Sharon tidak
ingin merokok, “Aku tidak ingin merokok.”
Dion mengeluarkan asbak dari samping dan berkata, “Berikan
padaku saja.”
Sharon mengulurkan tangan dan memberikan rokok yang ada di
tangannya kepada Dion. Dion langsung mematikan rokok tersebut di dalam asbak.
Setelah itu, dia menyampingkan kepala sambil menatap Sharon,
“Lagi galau? Mau
cari angin?”
Sharon menggelengkan kepala dan berkata, “Ketika pulang tadi
aku sudah mencari angin, tapi kepalaku malah sakit.”
Dia memang sudah sadar mabuk tadi, hanya saja masih merasa
tidak enak.
Mungkin karena tersedak, Sharon merasa bahwa keinginan
dirinya untuk merokok sangatlah bodoh.
Sharon melihat Dion sekilas dan berkata, “Apakah aku sangat
__ADS_1
bodoh?”
“Coba aku lihat,” ujar Dion.
Selesai Dion berbicara, wajahnya tiba-tiba muncul di depan Sharon.
Sharon tanpa sadar mundur ke belakang, tetapi dia tidak
merasakan rasa sakit dari belakang kepalanya.
Ternyata Dion meletakkan telapak
tangannya di belakang kepala Sharon. Jadi, Sharon menabrak telapak tangan Dion
yang lembut.
Jika dilihat dari jarak dekat, mata bunga persik tersebut yang
terlihat tersenyum dan tampak acuh tak acuh itu jauh lebih berkurang. Dia
menatap Sharon dengan penuh cinta.
Tepat ketika Sharon menaikkan tangan untuk mendorongnya
menjauh, Dion sudah menarik tangannya dan menarik diri, “Memang sedikit bodoh.”
Sambil berbicara, dia mendengus, “Apakah Cruise jauh lebih
baik daripada aku?”
Menyukai Cruise, malah tidak suka padanya.
Mendengar perkataannya tersebut, Sharon tertawa dan berkata,
“Tapi, dia lebih setia daripada kamu.”
Meskipun orang yang Cruise cintai bukan dia, tetapi Cruise
memang setia. Setia mencintai Nicole.
Bayangkan ini baru setengah tahun lebih, dia sudah tidak
sabaran membawa Nicole pulang.
Benar-benar perasaan yang sangat mendalam.
Sharon terus tertawa, tetapi sudut matanya tiba-tiba
mengeluarkan air mata.
Dia mengangkat tangannya untuk menyeka air mata. Namun, Dion
sudah menempelkan jarinya di sudut mata
Sharon dan berkata, “Menangislah kalau
tidak senang, untuk apa sok kuat seperti itu?”
Dion menyeka air mata dari sudut matanya, lalu menarik
pergelangan tangannya dengan satu tangan dan menekan sisi lain pipinya. Setelah
itu, dia langsung menarik Sharon ke dalam pelukannya dan berkata, “Menangislah,
sekarang aku tidak bisa melihatnya.”
__ADS_1