
Cruise melihat Sharon sekilas. Sharon berdiri di samping ibunya dengan ekspresi wajah sangat datar.
Begitu Alfina mendengar perkataan Eric, dia buru-buru berkata, "Tuan Tamin, Nyonya Tamin, kita bicarakan lagi nanti di dalam."
Mendengar perkataan Alfina, Carolin pun berteriak, "Bu!"
Melihat Keluarga Tamin yang datang dengan mengebu-gebu ini, mereka pasti datang untuk balas dendam.
Carolin melihat Sharon sekilas, tetapi tanpa sengaja malah berpas-pasan dengan tatapan mata Sharon. Sekujur tubuhnya pun menjadi tegang dan menjadi merasa bersalah tanpa jelas.
Aneh sekali, ternyata dia bisa merasa bersalah ketika melihat Sharon?
Alfina melihat ke arah Carolin sambil menggelengkan kepala. Dia memberi isyarat agar Carolin jangan berbicara.
Alfina juga tidak bodoh. Bagaimana mungkin dia tidak sadar kalau orang tua Sharon datang dengan emosi yang membara.
Begitu mereka masuk ke dalam rumah Keluarga Thomson, Alfina meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan teh. Akan tetapi, Eric langsung mengangkat tangan untuk menolak dan berkata, "Tidak perlu, Nyonya Thomson. Hari ini kami datang untuk meminta pertanggungjawaban dari Keluarga Thomson saja. Basa-basi seperti ini sudah tidak perlu. Karena bagaimanapun juga, dua keluarga kita sekalipun tidak menjadi musuh, juga tidak akan menjadi teman."
__ADS_1
Perkataan Eric ini terlalu serius. Bagaimanapun, dua keluarga ini adalah tokoh penting dan terkenal. Keluarga Thomson adalah salah satu dari empat keluarga kaya di Kota Bionka. Sementara Keluarga Tamin adalah keluarga paling kaya di Kota Namika. Jika harus bersaing, Keluarga Tamin lebih kaya dibandingkan Keluarga Thomson.
Carolin adalah seorang putri orang kaya yang hanya tahu main. Dia memang pernah mendengar orang terkaya di Kota Namika, tetapi dia tidak tahu seperti apa paras orang tersebut.
Oleh karena itu, Carolin hanya merasa omongan Eric yang seperti itu tampak konyol. Ketika dia baru saja akan tertawa keluar suara, dia merasakan tatapan mata Cruise yang duduk di samping. Carlon menoleh ke samping untuk melihat sekilas kakaknya. Setelah itu, senyumannya seketika menjadi tegang.
Alfina juga tersenyum dengan terpaksa dan berkata, "Baiklah kalau begitu, Tuan Tamin, Nyonya Tamin, Sharon, mohon tunggu sebentar. Aku pergi memanggil Tuan Besar Thomson terlebih dahulu."
Selesai berbicara, Alfina melihat Cruise sekilas dan berkata, "Cruise, kamu harus menjamu tamu dengan baik."
Cruise meresponsnya dengan samar. Lalu, setelah Alfina pergi, malah tidak ada tindakan apa pun darinya.
Sadar ketika Cruise sedang menatapnya, Sharon pun menaikkan matanya dan melihat Cruise sekilas.
Tidak ada yang berbicara, suasana di ruang tamu menjadi sangat canggung.
Tak lama, terdengar suara tongkat dari lantai atas. Lalu, beberapa detik kemudian, Tuan Besar Thomson pun turun ke bawah.
__ADS_1
Tuan Besar Thomson juga sangat terkejut ketika mendengar orang tua Sharon datang ke rumah. Selain terkejut, dia juga merasa sangat marah.
Dia justu ingin melihat orang seperti apa yang mendidik anak seperti Sharon ini.
Namun, setelah mendengar perkataan Alfina selanjutnya, Tuan Muda Thomson pun tercengang. Setelah beberapa saat dia, dia baru tersadar dari lamunannya dan mengikuti Alfina turun ke bawah.
Dua puluh tahun yang lalu, Eric dan Tuan Besar Thomson juga pernah bertemu. Hubungan mereka berdua juga tidak bisa dikatakan dekat, hanya saja mereka berdua saling mengenali ketika bertemu.
Awalnya Tuan Besar Thomson mengira bahwa Sharon mencari orang untuk membuat onar, tetapi dia tak menyangka bahwa Sharon benar-benar anak Eric.
Hati Tuan Besar Thomson sangat kacau balau. Akan tetapi, dia tetap terlihat tenang karena bagaimanapun dia sudah melalui banyak pengalaman. Lalu, dia berkata, "Tuan Tamin, Nyonya Tamin, lama tak berjumpa."
Tuan Besar Thomson terlihat tersenyum, sedangkan Eric sama sekali tidak bisa tersenyum dan berkata, "Tuan Besar Thomson, lama tak berjumpa."
Sepertinya Tuan Besar Thomson tidak merasakan apa-apa, dia malah mengangkat tongkatnya dan memukul pelan Cruise, lalu berkata, "Cruise, kenapa kamu masih bengong saja? Ini adalah mantan mertua kamu, kamu masih tidak menuangkan teh untuk mereka?"
"Tuan Besar Thomson, aku tidak sanggup menerima perkataan Anda ini. Hari ini aku datang ingin meminta pertanggungjawaban demi Sasa. Tidak perlu disuguhi minuman, kami juga tidak butuh minuman. Rasanya kurang sopan karena aku tiba-tiba datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Tapi, aku berharap Tuan Besar Thomson bisa paham rasa sayang aku pada anakku. Jadi, aku akan langsun berterus terang dan tidak banyak basa-basi lagi dengan Anda."
__ADS_1
Sambil berbicara, Eric mengangkat tangan dan langsung meletakkan sebuah koper berukuran 19 inci di atas meja, lalu berkata, "Emas dengan berapa 30 kilogram, harga pasarannya setidaknya ada sepuluh miliar. Ini adalah semua biaya yang dipakai oleh Sasa selama dia menikah masuk ke Keluarga Thomson selama tiga tahun ini."
Selesai Eric berbicara, dia membuka sendiri koper itu dan menunjukkan emas batang di dalamnya.