
Sharon juga tidak menyangka akan bertemu dengan Cruise. Padahal dia tidak ingin bertemu dengan Cruise. Tentu saja bukan karena merasa bersalah, hanya saja dia tidak ingin ekspresi yang menatapnya jijik tersebut mengingatkannya kembali bahwa sebelumnya dia mengambil langkah yang salah.
Apalagi, saat ini dia sedang menggandeng Eric.
Sejak kecil hingga dewasa Eric selalu melindunginya. Ketika masih SMP, dia bertengkar dengan seseorang dan guru meminta orang tua untuk datang. Hal pertama yang dilakukan Eric adalah bertanya apakah dia terluka atau tidak. Kemudian, Eric baru mencari tahu seluk beluk masalah dan akhirnya memintanya untuk meminta maaf.
Masalah di antara dia dan Cruise tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Kala itu, Sharon sendiri yang ingin menikah dengan Cruise.
Akan tetapi, Cruise tidak pernah menganggapnya sebagai istri. Selama tiga tahun itu, dia tidak pernah melindungi Sharon. Ini adalah kenyataan.
Ketika baru bercerai, seandainya Sharon tidak menahannya, Eric mungkin sudah membawa orang pergi ke rumah Keluarga Thomson untuk meminta pertanggungjawaban.
Sekarang mereka malah bertatapan muka langsung, hal ini membuat kepala Sharon sakit sejenak.
Dia tidak ingin menyapa Cruise dan pada kenyataannya di antara mereka berdua juga tidak perlu saling menyapa.
Sharon menggandeng Eric berjalan melewati Cruise.
"Sharon."
__ADS_1
Sharon tidak ingin menyapa, tetapi Cruise malah memanggilnya.
Sepasang mata hitam menatapnya dengan dingin. Selain dingin, ada kemarahan yang tak bisa dijelaskan dari mata itu.
Sharon melihatnya sekilas dan menjawab datar, "Eh, Tuan Muda Cruise, kebetulan sekali."
Raut wajah Eric yang berada di samping seketika berubah muram. Hanya saja, belum sempat dia buka suara, Sharon sudah menahannya.
Sharon menatap Eric dengan tak berdaya, "Ayah, sangat memalukan kalau harus bertengkar di sini."
Mendengar perkataan Sharon, Eric pun terpaksa menahannya. Tetapi, tetap tidak terlepas dari kata-kata menyindir, "Ini mantan suamimu? Aku lihat juga tidak seberapa keren."
Cruise menatap Sharon dan berkata, "Sharon, setelah pergi dari Keluarga Thomson, kamu semakin hari semakin ada kemajuan."
Awalnya dia mengira bahwa Sharon benar-benar ada kemajuan. Tak disangka, ternyata berakhir dengan mengandalkan seorang pria paruh baya.
Pria yang ada di depan mata ini masih bisa dikatakan cukup tampan, bahkan tidak ada perbedaan usia yang sangat jelas ketika mereka berdua berdiri berdampingan. Akan tetapi, simpanan ya simpanan, Sharon benar-benar membuat Cruise semakin memandang rendah dirinya.
Mendengar perkataan Cruise, Sharon tidak marah dan malah tertawa, "Terima kasih atas pujiannya Tuan Muda Cruise. Setelah pergi dari Keluarga Thomson, aku memang semakin hari semakin senang."
__ADS_1
Selesai berbicara, dia langsung menggandeng Eric masuk ke dalam lift.
Pintu lift perlahan tertutup. Dia berdiri di dalam lift sambil menatap Cruise yang berada di luar lift dengan dingin. Tidak bisa dikatakan betapa kecewanya dia, tetapi lebih merasa bahwa dirinya sangat bodoh kala itu.
Eric mendengus dingin. Lalu, ketika pintu lift segera tertutup, dia mendengus menghina kepada Cruise.
Tak lama, pintu lift pun benar-benar tertutup rapat. Mereka pun sudah tidak saling bertatapan lagi.
Cruise berdiri di sana memikirkan Sharon yang tidak merasa malu dan masih bisa tertawa seperti itu. Dia hanya merasa bahwa dirinya sudah diprovokator oleh Sharon dan hatinya penuh dengan api membara. Akan tetapi, belum sempat dia melampiaskan kemarahannya, Sharon dan pria tersebut sudah pergi.
"Pak Cruise, kalau kita tidak jalan sekarang, kita akan telat."
Kendy berdiri sebentar sambil menatap waktu yang terus berlalu setiap detiknya dan hanya bisa memaksakan diri untuk buka suara.
Cruise menatapnya dengan pandangan dingin dan berkata, "Selidiki siapa pria itu!"
Kendy terkejut. Dia ingin mengingatkan Cruise bahwa dia dan Sharon sudah bercerai. Akan tetapi, setelah memikirkannya, dia pun menahan diri dan berkata, "Baik, Pak Cruise."
Cruise mengalihkan pandangannya dan baru melangkahkan kaki berjalan ke depan.
__ADS_1