
Beberapa menit yang lalu Melvin menerima telepon dari ibunya kalau hari ini, beliau tidak bisa menjemput Chessy ke sekolah dikarenakan kurang enak badan. Mau tidak mau, ia sendiri yang harus menjemput anaknya. Untung, hari ini kerjaan tidak begitu padat. Setelah Melvin menyerahkan beberapa berkas yang sudah ia tandatangani ke sekretarisnya, ia lantas pergi menuju ke sekolah Putri tercinta.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai sudah menepi depan gerbang sekolah. Suasana tidak begitu ramai karena ternyata kelas telah usai 20 menit yang lalu. Turun dari mobil, melvin mengarahkan pandangan matanya ke seluruh penjuru kelas untuk mencari keberadaan chessy. tepat di depan ruang perpustakaan, Melvin menemukan putrinya tengah berbincang dengan Atina. Tidak hanya itu, ternyata di samping Atina juga ada Guru lain, seorang laki-laki muda. Dalam benak Melvin bertanya-tanya, siapakah laki-laki yang sedang tertawa dengan putrinya dan Atina. Entah mengapa melihat Atina tertawa lepas dengan laki-laki itu, membuat hatinya terasa sesak, seperti ada yang menekan kuat.
Tak mau berpikiran yang tidak-tidak, ia buru-buru menghampiri mereka.
"Itu Papa Chessy Bu Guru!!" cetus chessy sembari telunjuknya mengarah pada melvin.
Putra dan Atina lantas menatap ke arah Melvin.
"Lho... kok Papa yang jemput, Nenek mana Pa?apa nunggu di mobil? Oh ya Pa. Kenalin Guru baru di sekolah Pa, namanya Pak Putra. Pak Putra, kenalin, ini Papa aku," ucap Chessy.
"Melvin," tangannya terulur ke arah Putra.
"Putra Pak, salam kenal." Sambut Putra tersenyum ramah sembari menundukkan kepalanya sesaat.
"Pak Putra, Bu Tina. Chessy pulang dulu ya. Bu Tina mau sekalian pulang bareng Chessy juga nggak, ayok Bu?"
Melvin melirik ke arah Atina, entah kenapa hatinya berharap Atina mau mengiyakan ajakan Chessy.
"Mmm ... makasih ya Chessy untuk tawaran nya. Tapi maaf, Bu Guru nggak bisa ikut pulang bareng Chessy karena Bu Guru masih ada rapat nanti dengan Guru-Guru yang lain, iya 'kan Pak Putra?"
"Iya Chessy, benar apa yang dikatakan Bu Atina, mungkin sore baru pulang. Chessy jangan khawatir, nanti Bapak yang akan nganterin Bu Atina pulang. Chessy mending pulang duluan saja sama Papanya." Jelas Pak Putra membuat Melvin nampak kecewa. Ia sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan Pak Putra tadi kepada Putrinya.
"Laki-laki modus," batin Melvin
Sementara Atina hanya terdiam, ia tidak menyangka putra akan bicara seperti itu.
"Ayo sayang, pulang. Nenek udah nungguin di rumah, permisi semuanya." Tangan Melvin langsung menggandeng tangan putrinya pergi menjauh dari hadapan Atina dan Putra.Melihat itu chessy nampak protes.
"Ih ... Papa, apa-apaan sih main tarik-tarik aja, Chessy 'kan tadi belum sempet pamitan lagi sama Bu Atina dan Pak Putra. Nggak sopan tau Pa, main pergi gitu aja!!" Sungut Chessy protes dengan sikap Papanya.
"Iya, maaf Sayang. Soalnya, Papa buru-buru harus ke kantor lagi Nak, masih ada kerjaan, maaf ya?" bohong Melvin.
Entah kenapa melihat Atina bersama laki-laki lain membuat hatinya tidak nyaman, apalagi ketika Atina menolak diajak pulang bareng oleh Chessy, membuat Melvin kecewa berat. Walaupun tadi Atina sudah memberi alasan kenapa menolak pulang bersama, tapi, tetap saja rasa kecewa itu menghampiri.
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Chessy langsung masuk ke dalam diikuti oleh Melvin. Ia memutuskan melihat keadaan ibunya dulu sebelum balik ke kantor.
Sampai di kamar sang ibu.
Tok ... Tok ...
Melvin mengetuk pintu kamar Bu Rum. Setelah terdengar jawaban dari dalam, ia bergegas masuk. Cekleek... Perlahan pintu terbuka.
"Gimana keadaan Ibu, apa yang Ibu rasakan? kita ke dokter saja ya Bu?" tanya Melvin menghampiri Ibunya yang tengah rebahan di atas ranjang.
"Nggak perlu Vin, Ibu cuma pusing saja kok. Tadi juga udah minum obat, udah agak mendingan. Chessy mana Vin. Terus, kenapa wajah kamu seperti orang yang sedang kesal gitu, kusut banget." Bu Rum bertanya dengan penuh selidik melihat wajah anaknya tampak suntuk.
"Ah, ng-nggak apa-apa kok bu. Oh ya, Melvin mau pamit ke kantor lagi ya Bu. Ibu istirahat aja. Chessy lagi ada di kamarnya Bu. Mungkin lagi ganti baju. Ya sudah, Melvin pamit, Assalamualaikum...." Melvin mencium tangan Ibunya lantas beranjak dari kamar.
Ia menyempatkan pamit kepada Putrinya sebelum pergi.
"Chessy, Papa balik ke kantor dulu ya. Kamu jagain Nenek. Nenek lagi rebahan di kamar." Ucap Melvin dari balik pintu kamar putrinya.
"Iya Pa, hati-hati ya Pa. Chessy mau ganti baju dulu habis ini ke kamar Nenek Pa." Jawab Chessy dari dalam kamar.
Ia menyetir tapi pikirannya melayang jauh, bayangan wajah Atina dengan laki-laki lain sembari bercanda tertawa riang benar-benar mengusik hatinya. Ia merasa tidak suka melihat pemandangan seperti itu.
"Ada apa denganku, kenapa aku nggak suka melihat dia dengan laki-laki lain. Lagipula dia bukan siapa-siapa buatku. kenapa juga hatiku nggak nyaman liat dia tertawa dengan laki-laki itu.Masa iya, aku cemburu. Argh!!" batin Melvin bergemuruh memikirkan perasaan hatinya.
Sementara itu, di sekolah tempat Atina mengajar.
"Mas Melvin kenapa tadi dingin banget, apalagi pas kenalan sama Pak Putra, kayak nggak welcome banget sambutanya. Tadi dia juga nyuekin aku gitu aja, benar-benar kayak bunglon, sikapnya berubah-ubah nggak jelas gitu," batin Atina memikirkan sikap Melvin tadi.
"Bu, Bu Atina ... Hey, kok malah melamun sih. Ayo buruan kita balik ke ruangan. Hari ini 'kan ada rapat!" tegur Putra karena melihat Atina dari tadi berdiri mematung seperti lagi melamunkan sesuatu.
"Ah, oh ... i-iya maaf. maaf Pak Putra. Ayok, kita jalan sekarang," sahut Atina gugup.
Keduanya lantas berjalan menuju ruang Guru guna mengikuti rapat.
"Kamu kenapa Bu Atina, dari semenjak kepergian Chessy dan Papanya, Bu Atina nampak melamun dari tadi. Bu Atina lagi mikirin apaan. Lagi ada masalah kah?" tanya putra sambil berjalan bersisian dengan atina.
__ADS_1
"Akh ... nggak ada apa-apa kok Pak Putra. Tadi aku hanya merasa nggak enak saja udah nolak tawaran Chessy buat pulang bareng, pasti dia kecewa." Atina beralasan tidak mau membuat putra tanya lebih lanjut tentang apa yang tengah ia pikirkan dari tadi.
"Ouh gitu, kirain kamu lagi ada masalah. Ngomong-ngomong apa Bu Atina emang biasa pulang bareng sama Chessy dan Papanya itu. Maaf ni Bu, kalau pertanyaanku agak pribadi. Tapi, Ibu nggak harus jawab kok, kalau emang keberatan buat jawab." Putra garuk-garuk kepala sembari senyam senyum nggak jelas.
"Ah, enggak kok Pak Putra, saya cuma pernah sekali doang pulang bareng mereka karena kebetulan waktu itu saya nggak bawa motor. Cuma sekali saja."
"Oh gitu, ya baguslah...."
"Haah!! kok bagus sih, maksud Pak Putra apa?"
"Eh, e-enggak kok, bukan apa-apa." Jawab Putra tergagap karena sudah keceplosan ngomong yang tidak jelas tadi.
Setelahnya, Atina dan Putra memasuki ruang Guru, tampak beberapa Guru sudah berkumpul semua. Tenyata hanya Bu Atina dan Pak Putra saja yang terakhir datang.
"Duuh ... Duh ... yang lagi PDKT. Pantes, dari tadi di tungguin lama bener," celetuk Bu Fitri ketika Atina dan Putra memasuki ruangan. Seketika semua Guru meledek mereka berdua.
"Cieee ... ciee ... suuiit ... suuiit...." suara-suara ledekan langsung menggema di seluruh ruangan. Wajah Atina memerah seketika mendapat perlakuan tak terduga dari rekan kerjanya. Sementara Putra hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala sembari menuju ke meja kerja yang berada di sebelah Pak Indra.
Atina duduk dengan perasaan malu, lantas ia menoleh ke arah Bu Fitri sembari matanya melotot tajam. Bu Fitri hanya terkekeh melihat sikap Atina.
Pak Kepala Sekolah tiba-tiba bersuara, membuat semua Guru terdiam seketika.
"Karena semua Guru sudah lengkap, mari kita mulai rapat hari ini. Silahkan Pak Hisyam, berkas-berkas yang kemaren saya minta bawa kesini semua," ujar Pak Kepala Sekolah menginterupsi Guru yang bertugas di bagian administrasi Sekolah.
Rapat berlangsung sekitar 2 jam, tak terasa hari sudah sore. Semua Guru sudah ada beberapa yang beranjak pulang.
Atina menghampiri Bu Fitri yang tengah siap-siap hendak pulang.
"Tadi apa-apaan sih Bu Fit ini, bikin malu aku aja, dasar jahil banget!" tegasnya sembari mencubit lengan bu fitri.
"Aduuh, sakit tauu ... main cubit-cubit segala," Bu Fitri nampak meringis kesakitan.
"Laah, habisnya Bu Fit sih dah bikin malu aja tadi. Rasain tuh cubitan dariku. hahahah!!" Atina nampak puas menatap wajah Bu Fitri
"Iya, iya ... maaf, lagian tadi cuma bercanda kok. Eh tapi ... nggak jadi deh!" bu fitri tak meneruskan ucapannya ketika ia melihat Atina menatap dirinya dengan tatapan membunuh, tajam bener tatapannya.
__ADS_1
"Ayok ah pulang, dah sore nih!" tiba-tiba bu Nia nyelonong pergi melewati keduanya. Bu Fitri dan Atina pun bergegas keluar tak lama setelah motor Bu Nia tak terlihat lagi.