
" Kok hanya diam disitu. Ayo sini masuk. Ngapain berdiam diri di pintu gitu." Tegur Melvin karena dari tadi Atina hanya berdiri mematung di pintu masuk. Ia tetap bergeming tak bergerak sama sekali.
Saking gemasnya melihat Atina yang hanya berdiri mematung, Melvin pun akhirnya berdiri, ia menghampiri Atina, tanpa aba-aba ia tarik tangan Atina menuju sofa yang tersedia tak jauh dari meja kerja Melvin.
Atina yang masih diliputi rasa gugup hanya bisa pasrah ketika Melvin dengan cepat menarik tangannya.
"Kamu kenapa dari tadi hanya diam, hemm. Kamu gugup ya?" tanya Melvin yang sekarang mulai bisa membaca dari gestur tubuh Atina.
"En-enggak kok Mas. Aku biasa aja. Hanya merasa sedikit bingung juga karena ini baru pertama kalinya aku ke kantor kamu Mas." Ucap Atina masih terlihat gugup, meskipun dari tadi ia berusaha untuk mengontrol kegugupannya itu, tapi sepertinya usahanya belum membuahkan hasil maksimal. Melvin yang sedari tadi terus menatap Atina tiba-tiba terkekeh geli melihat raut wajah Atina yang menurutnya sangatlah lucu.
"Apaan sih Mas. Kenapa ketawa-ketawa gitu. Emang ada yang lucu apa!!" Protes Atina merasa malu karena di tertawakan oleh Melvin, entah apa yang membuat Melvin tiba-tiba tertawa seperti itu.
"He-he... maaf. Habis, wajah kamu merah banget gitu udah kayak udang rebus aja. Ih, gemesin deh, jadi pingin nyubit tau nggak!!!" Ledek Melvin seketika membuat Atina gelagapan, tentu ia sangat malu sekali mendengar ledekan yang keluar dari laki-laki di sampingnya itu. Refleks Atina langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tentu saja hal itu justru mengundang gelak tawa dari Melvin.
Plak... Plak.... Merasa kesal di tertawakan, Atina langsung memukul lengan Melvin bertubi-tubi. Bukannya berhenti, Melvin semakin kencang menertawakan Atina.
"Stop Mas, berhenti nggak ketawanya. Seneng banget ngledekin aku. Kayaknya nggak puas kalau belum bikin aku malu ya. Udah... stop ketawanya Mas. Aku pulang nih kalau Mas nggak mau berhenti juga!!" ucap Atina merasa agak kesal.
"he-he ya maaf, salah sendiri lucu gitu ekspresinya. Siapa juga yang bisa nahan tawa. Udah... Jangan ngambek gitu. Kamu 'kan baru datang. Masa iya, mau pergi lagi. Udah ya, maaf. Nih... aku nggak ketawa lagi kok. Ehem!!!" Sahut Melvin berusaha meredam ketawanya yang sedari tadi meledak begitu saja tanpa bisa di kontrol.
Atina masih tampak cemberut. Tapi sebisa mungkin ia berusaha untuk kembali bersikap biasa.
"Tin, udah ya, jangan marah. Aku tadi 'kan cuma bercanda, niatku agar kamu bisa bersikap tenang dan tidak gugup. Lagipula kenapa juga harus gugup segala, kayak baru kenal aja. Udah, sekarang rileks ya."
"Iya Mas. Aku udah nggak apa-apa kok. Terus apa yang harus aku lakuin nih sekarang. Kerjaan aku apa aja Mas?" Tanya Atina karena ia tak mau berlama-lama hanya berdiam diri duduk berduaan dengan Melvin tanpa melakukan apapun.
"Sebenarnya kalau boleh jujur, aku hanya ingin kamu selalu nemenin aku kerja tanpa kamu harus ngelakuin apapun. Cukup diam, duduk manis di sini. Kalau capek, bisa rebahan. Di ruangan ini juga ada kamar kecil khusus buat istirahat kalau badan terasa pegal. Dikamar itu terdapat satu ranjang yang ukuran sedang. Cukup nyamanlah buat rebahan kalau untuk ukuran 2 orang."
__ADS_1
"Hah, apa maksud Mas Melvin bicara seperti itu? Ditemani rebahan di ranjang berdua, Maksudnya apa?? Jangan-jangan ... Ah, nggak-nggak!! Mana mungkin kayak gitu. Masa iya, aku di suruh nemenin dia rebahan di ranjang. Gila aja kali ya!!" Batin Atina. Ia terus berpikiran yang tidak-tidak. Tapi sebisa mungkin ia menepis semua pikiran kotor itu dari benaknya.
"Hey, Atina. Hello!!" cetus Melvin, Atina terlonjak kaget.
"A-apa Mas. A-ada apa??" dengan tergagap ia bertanya dengan Melvin yang tengah menatap dirinya dengan tatapan heran.
"Kamu kenapa Tin. Diajakin ngomong malah geleng-geleng kepala sendiri. Lagi mikirin apa hemm??"
Aduh, ni laki-laki kenapa juga tidak bisa peka dengan apa yang Atina rasakan. Tentu saja ia kepikiran dengan ucapannya tadi. Omongan yang bersifat ambigu yang Melvin ucapkan barusan membuat pikiran Atina travelling kemana-mana.
"He-he, aku nggak apa-apa kok. Nggak tau nih telingaku kayaknya kemasukan sesuatu deh. Dari tadi krebek-krebek nggak jelas gitu. Makanya, nih kepala refleks aku geleng-gelengkan." Ujar Atina ber-alibi. Ia berusaha menutupi apa yang baru saja terlintas dalam benaknya, agar laki-laki di sampingnya itu tidak curiga.
"Hmm baiklah... Kamu mau minum apa biar aku pesankan sama OB??" tawar Melvin.
"Nggak usah, makasih Mas. Aku nggak haus kok."
Sementara, Atina yang bingung mau melakukan apa. Akhirnya ia memutuskan untuk bermain ponsel saja. Ia tampak sibuk dengan ponselnya itu. Iseng, ia mengirimkan pesan ke grup Guru di sekolah tempatnya mengajar.
"Kangen mengajar di sekolah, kangen kalian juga... Bu Fitri, Bu Tia, pokoknya semuanya. Kalian pasti lagi ngajar ya jam segini."
pesan chat Atina kirim ke grup Guru.
Hening tak ada balasan. Selang 10 menit, notifikasi pesan masuk berbunyi.
"Bu Atina... Kami semua juga kangen banget nih. Nggak ada Bu Atina serasa kurang hidup ni ruangan. Sepi, kayak kuburan. Hahaha" Balasan chat dari Bu Fitri tanpa sadar membuat Atina terkikik geli.
Melvin yang sejak tadi tengah fokus menatap layar komputer memalingkan wajahnya seketika ke arah Atina, Ia penasaran karena tiba-tiba Atina ketawa sendiri.
__ADS_1
"Lagi kirim chat sama siapa sih sampai ketawa-ketawa gitu. Asik banget kelihatannya." Gumam Melvin yang intens menatap Atina, ia merasa penasaran sendiri. Lantas ia memutuskan untuk kembali menyelesaikan pekerjaanya itu dan berniat akan kembali duduk di samping Atina. Untuk sementara Ia membiarkan Atina bermain dengan ponsel. Nanti akan ia interogasi dan bertanya langsung tentang penyebab dirinya nampak senang berbalas pesan.
"Ehem... khusyuk bener main ponselnya. Sampai nggak nyadar kalau dari tadi aku udah duduk disini!!" Tegur Melvin ketika dirinya telah selesai dengan pekerjaannya dan kembali duduk di sebelah Atina.
"Eh, ah. Ma-maaf Mas. Aku nggak tau kalau Mas ada di sebelahku. He-he." Nah 'kan... Atina tampak salah tingkah karena tiba-tiba Melvin udah nongol aja di sampingnya. Saking asiknya ngobrol dengan Bu Tia dan Bu fitri di grup whatsapp.
"Kamu lagi chat'an sama siapa sih dari tadi?? bukan chat sama laki-laki 'kan Tin? awas aja kalau sampai aku tau kamu berbalas pesan sama laki-laki lain selain aku."
Duaar... Letupan api cemburu mulai menyembur dari seorang Melvin. Atina yang sudah mulai memahami karakter Melvin hanya bisa mengendikkan bahu. Ia sama sekali tidak marah atas sikap Melvin itu, Justru sikap seperti itulah yang mampu membuat hati Atina berbunga-bunga. Ia beruntung karena di cemburui oleh seseorang yang spesial di hatinya.
"Enggak kok Mas. Aku tuh dari tadi lagi chat sama temen kerja aku sesama Guru. Aku kangen aja sama mereka. Karena untuk beberapa hari kedepan, aku 'kan belum bisa kembali mengajar, seperti yang kamu tahu juga Mas penyebabnya apa." Nampak raut sedih tergambar di wajah Atina ketika ia membahas tentang profesinya.
"Kalau kamu mau, Mas bisa kok bikin kamu besok udah bisa kembali mengajar?" celetuk Melvin membuat Atina seketika menatapnya dalam.
"Maksud Mas. Emang bisa? Gimana coba caranya??"
"Kalau untuk masalah itu, biar aku yang akan yang urus. Kamu tinggal terima beres, semua akan sesuai dengan apa yang kamu mau, Tin. Bagi Mas, itu sebenarnya hal yang sangat mudah, asal kamu percayakan semua sama aku." Ungkap Melvin membuat Atina seketika nampak berfikir.
Atina bisa saja menerima tawaran dari Melvin itu, tapi ia tidak mau kalau sampai Melvin melakukan hal-hal yang melenceng yang justru nantinya akan menimbulkan masalah baru lagi. Untuk saat ini, sebaiknya ia tidak melibatkan Melvin dalam urusan pribadinya, apalagi ini menyangkut ptofesinya sebagai Guru.
"Mmm ... Sepertinya nggak perlu Mas. Aku nggak mau kamu kena masalah hanya karena gara-gara aku. Aku akan tetap menjalankan apa yang sudah di putuskan oleh pihak sekolah kepadaku Mas. Tenang saja, aku bukan perempuan yang lemah yang akan menyerah dengan keadaan. Semua bisa aku atasi kok!!" Dengan penuh percaya diri, Atina membanggakan dirinya agar Melvin tidak terlalu jauh memikirkan hidupnya yang selalu penuh dengan masalah.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Iya, aku percaya kok kamu adalah wanita yang kuat, jadi makin sayang deh ngeliat kamu kayak gini, Tin!!" Ia perlahan mencondongkan tubuhnya ke arah Atina. Melihat gelagat aneh dari Melvin, sontak Atina seketika berdiri.
"Mas mau ngapain!! Jangan macam-macam ya." Refleks Atina memelototi Melvin yang tengah senyum-senyum dengan kedua tangan terbentang seolah siap untuk membawa Atina kedalam dekapannya.
"Mas cuma mau peluk aja kok, masa nggak boleh. Kamu malah menghindar gitu. Ayo sini, biar Mas peluk kamu bentar."
__ADS_1
" Nggak mau, apaan sih Mas. Main peluk-peluk. Nggak boleh!!" Sungut Atina, ia berusaha menolak. Padahal dalam hati ia juga menginginkan di peluk laki-laki itu.