Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 63 Tak Dapat Dukungan


__ADS_3

"Mas, jangan gitu lah sama aku. Masa kamu tega ngusir aku. Padahal aku kesini dengan niat baik lho Mas. Sekarang kamu bilang sama aku Mas. Apa yang harus aku lakuin agar kamu nggak benci lagi sama aku. Apa Mas, bilang sama aku??"


"Gampang!! Cukup kamu jauh-jauh dari hidupku dan Chessy, maka aku nggak akan benci sama kamu. Tapi kalau kamu masih berusaha deketin aku. Justru itu yang membuat aku semakin membenci kamu, Ana!!" Bentak Melvin dengan sorot mata tajam.


Alana terdiam, terlihat ia terisak setelah mendengar bentakan dari Melvin.


"Baik, untuk kali ini aku akan pergi dari sini Mas. Tapi aku nggak akan pernah menyerah untuk dapetin hati kamu lagi seperti dulu. Aku nggak akan menyerah sedikit pun." Alana lantas pergi meninggalkan ruangan Melvin. Dengan terburu ia berjalan, tak di hiraukannya pandangan para karyawan yang menatap aneh ke arahnya.


"Loh, Mbak Alana. Kok cepet banget udah keluar. Tadi jadi bertemu Pak Melvin 'kan??" ketika baru sampai depan kantor, Alana di cegat oleh Pak Sigit. Beliau menatap heran ke arah Alana karena baru saja masuk ke ruangan sang Bos, tapi kini sudah keluar lagi. Ditambah wajah Alana terlihat seperti habis menangis. Tapi mau tanya lebih jauh, pak Sigit merasa tidak enak, akhirnya ia urungkan untuk bertanya lebih jauh kepada Alana.


"Ah, iya Pak. Mas Melvin lagi sibuk. Jadi aku nggak berani lama-lama di dalam. Takut ganggu kerjaanya. oh ya, ini makanan buat Bapak. Kata Mas Melvin suruh kasih ke Bapak." Alana menyodorkan paper bag yang berisi makanan.


"Beneran ini buat Saya, Mbak? Alhamdulillah... Makasih ya, Mbak Alana," ucap pak Sigit tampak sumringah.


"Iya, sama-sama Pak. Yaudah, saya pamit duluan Pak!!" Seru Alana sembari berjalan melangkah ke arah mobil miliknya.


"Iya Mbak, hati-hati di jalan!!" sahut Pak Sigit sedikit berteriak karena Alana sudah keburu menjauh.


Braakk... Pintu mobil ditutup dengan kencang. Alana terlihat tengah emosi sehingga tanpa sadar ia membanting pintu mobil miliknya lumayan keras.


"Aarrgh!! Kebangetan kamu Mas. Tega sekali kamu ngusir aku. Awas saja, aku akan pastikan nanti kamu akan bertekuk lutut di hadapan ku!!" Geram Alana sembari memukul-mukul stir mobil.


Mobil pun melaju meninggalkan kantor Melvin. Ditengah kegalauannya, Alana memutuskan untuk pergi ke rumah mantan mertua, yaitu Ibu dari Melvin. Ia akan mencoba membujuk sang Ibu mertua agar beliau mau membantunya untuk kembali rujuk dengan Melvin.


Kebetulan jarak antara kantor Melvin dan rumah sang mertua tidak terlalu jauh sehingga tak memakan banyak waktu.


Kurang dari satu jam, mobil Alana sudah berhenti tepat di gerbang rumah sang Mertua.

__ADS_1


"Permisi Pak!!" teriak Alana kepada satpam yang berjaga.


"Iya Mbak. Ada apa?? "


"Bu Rumana nya ada Pak??" tanya Alana


"Ada Mbak. Kalau boleh tahu, Mbak ini siapa? Dan ada keperluan apa. Nanti saya sampaikan dulu pada Bu Rumana."


"Aku Alana Pak. Mantan Istri Mas Melvin. Tolong kasih tahu Bu Rumana, kalau aku mau bicara sesuatu sama beliau,"


"Oh... Baik. Tunggu sebentar Mbak. Aku kasih tahu Bu Rumana dulu." Satpam itu pun langsung berlari ke dalam rumah. Lima menit kemudian, ia kembali lagi ke teras menemui Alana.


" Gimana Pak?" sergah Alana ketika melihat satpam tadi balik ke depan.


"Ayo silahkan masuk Mbak. Bu Rumana sudah menunggu di dalam."


Mobil Alana masuk setelah pintu gerbang terbuka lebar.


"Mbak silahkan langsung masuk saja ya. Bu Rumana ada di ruang tamu." Ucap Pak Satpam ramah. Lantas si Satpam kembali menutup gerbang.


"Assalamu'alaikum...," ucap Alana ketika ia sudah sampai di pintu masuk rumah Bu Rumana.


Bu Rumana yang sedari tadi duduk di sofa langsung berdiri menatap Alana yang tengah berdiri di depan pintu.


"Waalaikumsalam. Ayo masuk!" titah Bu Rumana.


Sebelum duduk, Alana terlebih dulu mencium tangan mantan mertuanya itu. Beruntung Bu Rumana mau menerima uluran tangan Alana. Meskipun wajah beliau datar tanpa ekspresi, tapi setidaknya ia tidak bersikap kasar seperti sang anak.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, ada keperluan apa kamu kemari? Kalau untuk bertemu Chessy, sebaiknya lain waktu saja. Chessy baru saja tidur siang. Kasian kalau harus di bangunin." Tanya Bu Rumana dengan nada tegas. Mungkin beliau mengira kedatangan Alana karena ingin bertemu putri kandungnya


"Mm... Bukan Bu. Aku kesini karena mau ngomong sesuatu sama Ibu." Sahut Alana. Entah kenapa mendapat tatapan yang dingin dari mantan Ibu mertuanya itu membuat jantung Alana berdebar-debar. Ada sedikit rasa takut yang mulai muncul dalam dirinya.


"Mau ngomong apa??"


"Aku mau minta tolong sama Ibu buat bujuk Mas Melvin agar dia mau kembali rujuk sama aku, Bu. Ini semua juga demi kebaikan Chessy. Agar dia mempunyai orang tua yang utuh seperti teman-temannya. Aku juga masih sangat mencintai Mas Melvin Bu. Sampai saat ini perasaan itu masih ada buat Mas Melvin. Aku akan lakuin apa saja asal Ibu mau membantuku untuk bisa bersatu lagi sama Mas Melvin. Aku juga berjanji akan berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi kedepannya Bu. Aku janji tidak akan lagi menyakiti hati anak Ibu dan juga cucu Ibu. Ibu mau 'kan membantuku??" Tanpa rasa malu Alana memohon bantuan kepada Bu Rumana.


Meskipun ada perasaan ragu apakah mantan mertuanya itu mau membantu, tapi tak ada salahnya Alana berusaha mencoba. Siapa tahu kalau dia sendiri yang memohon, Bu Rumana akan tergerak hatinya untuk membantu membujuk sang anak agar mau kembali rujuk dengannya.


"Apa kamu nggak salah, minta Ibu untuk bujuk Melvin. Kenapa nggak kamu sendiri yang ngomong langsung dengan Melvin tentang keinginan mu ini." Ucap Bu Rumana menatap Alana dengan tatapan serius.


"Aku sudah pernah mencoba Bu. Tapi justru bentakan yang aku dapat dari Mas Melvin. Sepertinya dia belum bisa memaafkan aku, Bu. Padahal aku selalu berusaha memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Tapi, Mas Melvin tidak pernah memberiku kesempatan untuk itu," jelas Alana dengan wajah di buat sesedih mungkin.


"Sebaiknya kamu jangan terlalu memaksa Melvin, Ana. Biarkan saja semua seperti ini dulu. Tentang keinginan kamu itu, maaf banget, Ibu tidak bisa membantu. Ibu tidak mau ikut campur urusan anak Ibu. Dia sudah dewasa, biarkan dia memilih apa yang menjadi kehendak nya. Sebagai orang tua, Ibu hanya bisa ngasih dukungan kepada anak Ibu selama apa yang ia ambil adalah sesuatu yang membawa kebaikan. Lagipula saat ini Melvin juga sudah menemukan wanita lain yang ia sangat cintai. Jadi mana mungkin Ibu membujuk dia untuk kembali sama kamu, Ana. Sebaiknya, urungkan niatanmu itu. Biarkan Melvin menjalani hidupnya dengan wanita yang saat ini ia cintai. Dan untuk masalah Chessy, lambat laun pasti dia akan mengerti kalau mama dan Papanya tidak akan bisa kembali bersama seperti dulu. Ibu yakin pasti Chessy akan menerima semua ini." Terang Bu Rumana membuat Alana langsung lemas mendengar penolakan dari Mantan Ibu mertuanya itu. Kalau sudah seperti ini, ia merasa sangat bingung harus berbuat apa lagi. Tapi untuk menerima Melvin bersanding dengan wanita lain, rasanya sampai kapanpun Alana tidak akan pernah rela. "Kamu pikirkan lagi apa kata Ibu. Jangan sampai hanya karena keinginan kamu itu malah membuat orang lain tersakiti. Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, sebaiknya kamu pulang sekarang Ana. Bukannya Ibu mengusir kamu. Tapi setelah ini, Ibu ada janji sama temen Ibu, jadi Ibu harus segera pergi." Ucap Bu Rumana. Mau tak mau, Alana pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang.


"Baiklah Bu. Kalau begitu, Alana pamit pulang sekarang. Titip salam buat Chessy, Bu. Terima kasih untuk waktunya." Setelah mengatakan itu, Alana mencium tangan Bu Rumana. Lantas ia pun berlalu dari hadapan Bu Rumana.


"Sudah mau pulang Mbak??" tanya satpam yang tadi membukakan pintu gerbang ketika melihat Alana keluar menghampiri mobilnya.


"Iya, Pak. Tolong buka pintu gerbangnya sekarang!!" perintah Alana kepada pak Satpam.


"Baik, Bu," sahut Satpam itu.


Setelah gerbang terbuka, Alana langsung memacu mobilnya meninggalkan kediaman Bu Rumana.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caranya agar Mas Melvin mau kembali rujuk sama aku. Ibunya saja malah menyuruhku untuk berhenti berharap." Gumam Alana.

__ADS_1


Mendadak pikirannya jadi buntu. Rasa-rasanya ia tak punya jalan keluar lain dari masalah yang ia hadapi ini.


__ADS_2